Selasa, 17 November 2015

Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan Untuk Siapa Saja

Sesuai judulnya, artikel kali ini akan memberitahu tips bagaimana Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan Untuk Siapa Saja. Bagi anda yang merasa punya penghasilan bulanan pas-pasan dan sedang mencari informasi cara mendapatkan penghasilan tambahan, silahkan lanjut membaca.

Rejeki, rejeki, rejeki, setiap orang sibuk mencari rejeki. Demi memenuhi kebutuhan hidup, apapun dilakoni. Mengamen, berjualan makanan, menjual jasa, dan banyak lagi. Beberapa diantara kita bahkan menggunakan cara yang tidak wajar, walaupun jelas-jelas bertentangan dengan kata hati. Pertanyaannya, sudah matikah nurani?

Tahukah anda, ada salah satu cara yang mudah untuk anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan, sehingga mampu meringankan beban anda menutupi biaya bulanan yang sering membuat kita jadi bulan-bulanan.

Sekedar informasi, cara ini tidak terlalu realistis. Bagi anda yang biasa menggunakan nalar sepenuhnya, silahkan tutup halaman ini. Tapi bagi anda yang masih penasaran, silahkan lanjut. Cara ini memang tidak realistis, tapi hasilnya 'REAL'.
 
Caranya bagimana?

Mulailah ringan tangan membantu orang lain yang dalam situasi benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Ingat, YANG BENAR-BENAR membutuhkan bantuan. Jadi, pastikan orang yang akan anda bantu ini adalah orang yang tepat.

Contohnya, misal anda melihat anak-anak penjual koran dipinggir jalan atau disudut mall, belilah korannya dengan uang yang agak berlebih, dan katakan 'ambil kembaliannya untuk makan ya'.


Sekedar informasi, banyak anak-anak seperti ini yang sering kelaparan ditengah 'jam kerja' mereka berjualan. Nah, itu adalah momen yang tepat untuk anda berbagi kepada mereka. Tentunya benar-benar dengan niat yang tulus. Percayalah setiap bantuan tulus dari anda akan mendapatkan pengembalian yang berlipat ganda dari Yang Maha Kuasa.

Saya menuliskan ini karena sudah sering mengalami hal yang demikian. Saya mengalami banyak sekali peningkatan rezeki semenjak saya sering menolong orang lain, yang benar-benar membutuhkan tentunya. Karena itulah saya ingin berbagi pengalaman ini bagi siapa saja.

Jadi, percayalah setiap bantuan tulus dari anda akan dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kuasa. Saya sudah buktikan. Bagaimana dengan anda?

Minggu, 28 Juni 2015

Qnet, penipuan atau tidak?

Q-Net, siapasih yang tidak tahu Qnet? Saya rasa sebagian masyarakat besar Indonesia pasti sudah tahu. Tidak perlu ditanya bagaimana. Boleh dikatakan hampir sebagian besar wilayah di negeri tercinta ini telah digarap oleh para agen Qnet. Jadi, bisa disimpulkan hampir semua orang saat ini sudah tahu Qnet.
Sedikit cerita pribadi, saya pertama kali tahu Qnet dari teman saya. Ketika itu salah satu teman saya menawarkan saya sebuah program bisnis, dan kemudian dibawa kesebuah acara presentasi mengenai Qnet. Saya yang saat itu masih bocah ingusan ikut saja. Sesampainya disana, saya disuguhkan sebuah penjelasan cara bisnis Qnet agar kita memiliki income yang besar.


Awalnya saya cukup tertarik, dan berniat join, walau biayanya yang sangat fantastis untuk ukuran anak sekolah seperti saya ketika itu (7-10 juta). Apalagi oleh para leadernya, disarankan menggunakan cara UGD (tahu sendirilah ya). Saya sempat berpikir nekat untuk diam-diam menggadaikan STNK mobil pickup ayah saya, untungnya akal sehat saya masih cukup waras untuk tidak melakukan hal itu. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan, karena ketika itu ia mengarahkan saya untuk tidak melakukannya.

Nah, banyak orang yang mengatakan Qnet itu penipuan dan sama sekali tidak benar. Pertanyaannya, benarkah demikian?

Dalam hal ini saya tidak bermaksud membela atau memihak manapun. Saya juga bukan orang bayaran yang kemudian disuruh menulis artikel ini. Saya hanya mencoba jelaskan sedikit banyak yang menurut saya merupakan fakta. Supaya kita tahu apa yang sebenarnya, dan berbicara atas dasar fakta, bukan rumor semata. Jangan sampai kita mengatakan sesuatu itu penipuan padahal tidak. Tentunya akan jadi dosa. Setuju? :)

Apakah Qnet penipuan?
Baik, dimulai dari reputasi perusahaan. Setahu saya, dari segi reputasi, Qnet itu adalah perusahaan berskala internasional yang jelas reputasinya. Lihat dari websitenya saja (http://www.qnet.com), kita sudah bisa mengukur seperti apa reputasi sebuah perusahaan tersebut. Kalau mereka penipuan, tentunya tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang. Apalagi saat ini, Qnet bahkan bekerja sama dengan klub elite sekelas Premiere League, yaitu Manchester City. Lihat video dan gambar dibawah. Atau lihat Galery QnetCITY






Soal produk, saya tidak tahu pasti, karena saya tidak pernah menggunakannya. Pun begitu, saya rasa tidak mungkin klub besar sekelas Manchester City mau bekerja sama dengan perusahaan yang tidak jelas produknya. Apalagi saya pernah mendengar kesaksian dari seorang ibu dilingkungan rumah saya (ini nyata). Ketika itu dia bercerita agar jangan join Qnet, dengan alasan tidak syah menurut agama. Lucunya, tiba-tiba dia spontan bercerita soal pengalamannya memakai produk BioDisc. Dia bilang suaminya berhasil mengeluarkan sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya (kalau saya tidak salah dia bilang batu empedu), dengan meminum air rendaman BioDisc. Saya kira ini tentunya sangat luarbiasa.



Soal cara mengerjakannya, saya pikir pun secara mekanisme sesungguhnya tak ada yang salah, karena mereka menggunakan mekanisme yang mirip MLM. Multi Level Marketing, apakah itu cara yang salah? Tentu tidak. Perlu diketahui, MLM sesungguhnya adalah metode marketing plan yang sangat baik, yang juga dipakai oleh banyak perusahaan besar lainnya. Sebut saja Oriflame, Herbalife, dll.



Kesimpulannya, menurut saya Qnet bukanlah penipuan. Tentunya siapapun bisa berhasil disini, sepanjang mau mengerjakan sesuai arahan. Dan faktanya, sudah banyak orang yang berhasil disini. Oleh karena itu, tanpa berpanjang lebar, sekali lagi jelas, Qnet bukan penipuan.

Itulah sedikit banyak yang saya tahu tentang Qnet. Pun begitu, saya tidak bermaksud memihak manapun. Saya juga tidak bermaksud merekomendasikan anda untuk join, dan memang saya pun tidak join. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mencoba mengulas fakta seputar perusahaan Qnet dan produknya, agar kita dapat menyimpulkan apakah mereka memang perusahaan penipu atau tidak.

Mungkin akan ada yang bertanya, lantas mengapa banyak orang (khususnya di Indonesia) yang merasa tertipu bergabung di Qnet? Mengapa orang banyak yang merasa jijik bahkan alergi ketika mendengar nama Qnet? Apa yang salah? Saya akan coba bahas pada artikel selanjutnya. Tetep pantengin blog ini, K?

Punya pandangan lain mengenai Qnet? atau cerita pengalaman pribadi? Ayo share dibawah! :)

Rabu, 24 Juni 2015

Angeline, kamu lebih baik mati...

Angeline, nama yang begitu cantik, secantik paras seorang gadis kecil tak berdosa yang kini telah bersama Sang Pencipta.



Saat ini, seharusnya menjadi saat dimana engkau mulai menikmati setiap hembusan nafasmu. Hidupmu seharusnya sama layaknya anak kecil yang sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak. Masa dimana dunia hanyalah sebuah tawa tanpa paksaan. Dimana kebahagiaan terkandung dalam kepolosan. Masa yang seharusnya menjadi bagian terindah dari setiap kehidupan.

Ketika roda kehidupanmu mulai jauh berputar, seorang Angeline harusnya tiba pada masa dimana ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, yang memikat hati para kaum adam. Masa dimana ia akan merasakan betapa indahnya sebuah masa. Masa dimana kamu merasakan hangatnya kasih sayang seorang pria. Masa dimana kamu juga akan merasa bahagia, cemburu, kecewa, sakit hati, yang semuanya berpadu dalam sebuah rasa yang diberi nama 'Cinta'.

Ketika langkah kakimu mulai jauh melintasi waktu, meninggalkan masa kanak-kanakmu dan memasuki usia dewasa, Angeline yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa tentunya akan mulai berpikir untuk memiliki seorang pendamping hidup, bersama seorang lelaki yang baik, guna melanjutkan kisah bahagia hidupnya. Segala impian pun pasti mulai terbayang dibenaknya. Sebuah keluarga yang harmonis. Yang kemudian memiliki anak. Dimana sebuah kehidupan baru terlahir membawa darah mereka. Ya, begitulah roda kehidupan Angeline terjadi seharusnya.

Kenyataannya, dunia jauh lebih kejam dari yang kita tahu, bahkan tanpa pandang bulu. Angeline si gadis kecil tak berdosa yang cantik itu harus merasakan bagaimana pahitnya kehidupan. Angeline yang seharusnya merasakan hidup yang layak seperti anak-anak seusianya, nyatanya harus berakhir dengan tragis.

Kehidupan layak yang seharusnya didapat nyatanya tak akan pernah lagi ia terima. Seorang Angeline yang tak berdosa harus merasakan bagaimana disiksa sedemikian rupa. Siksaan demi siksaan datang bertubi-tubi, tanpa mengiba kepada Angeline sang bocah belia. Angeline kecil pun harus kuat menghembuskan nafas terakhirnya dengan cara yang sadis. Boneka menjadi teman terakhirnya menghadap Sang Khalik, sekaligus menjadi saksi bisu ketika ia harus merintih dalam tangis.

Jika melihat kenyataan yang ada, sepertinya kematian adalah jalan terbaik untukmu. Angeline, kamu lebih baik mati. Ya, kamu lebih baik mati. Mati meninggalkan segala derita. Mati meninggalkan ibu tirimu yang lebih kejam dari ibu kota. Mati dari kehidupan dunia yang penuh siksa, untuk kemudian memasuki alam dimana kebahagiaan adalah kekal abadi. Tanpa ada tangis, tanpa ada air mata.

Beruntungnya, Tuhan Maha baik. Ia tak tahan terus menerus melihat gadis kecilnya yang cantik itu terus menerus menahan derita. Sudah cukup segala siksaan yang selama ini ia rasakan, hingga Tuhan pun mengambil jiwanya untuk dibawa kepangkuannya. Untuk melepaskan segala rasa sakit yang selama ini diterima. Untuk menghapuskan air mata yang selama ini membasahi pipinya yang lembut. Untuk mengusap rambutnya yang indah. Untuk mencium lembut keningnya. Sehingga kemudian gadis kecil itu tahu, bahwasanya ia tidak sendiri. Bahwasanya Tuhan, dengan kekuatan yang maha Agung begitu mengasihi dan mencintainya.

Selamat jalan, Angeline. Bersukacitalah karena engkau telah bersama-sama dengan Tuhan. Sekali lagi, selamat jalan...

Kamis, 11 Juni 2015

Kepergian Angeline, pelajaran bagi kita semua

Indonesia sedang dilanda kabar duka. Adalah Angeline, seorang bocah berumur 8 tahun, yang harus pergi dengan cara yang tidak manusiawi, oleh orang-orang yang buta karena keserakahan. Tentunya hal ini menjadi sebuah kesedihan bagi siapapun yang mendengar kabarnya. Dan tentunya juga, menimbulkan rasa geram dan kemarahan.

Angeline, seperti yang kita tahu, adalah seorang anak perempuan yang dikabarkan hilang sejak Mei silam. Berbagai pemberitaan media membuat seluruh Indonesia mengetahui hal ini. Tentunya menarik banyak simpati. Disisi lain, juga menimbulkan kecurigaan, ketika melihat sikap ibu angkatnya yang kabarnya berusaha menghalang-halangi siapa saja untuk masuk kerumahnya.

Kini, semua jelas. Angeline bukan hilang, namun dibunuh, bahkan dengan cara yang sangat keji, apalagi dilakukan kepada seorang anak kecil berusia 8 tahun. Sang ibu kandung Angeline pun hanya bisa pasrah, mengetahui anaknya harus mati ditangan sang ibu angkatnya. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Orang yang ia percaya untuk mengadopsi justru memanfaatkan kepercayaannya itu.

Pelajaran bagi setiap pasangan
Sebuah pelajaran berharga, bagi kita semua, terutama para pasangan suami istri, untuk lebih memikirkan matang-matang sebelum berencana punya anak. Memikirkan matang-matang dalam arti menimbang, 'apakah kami sudah cukup siap memiliki anak?'

Tentunya ini menyangkut banyak hal. Baik secara karakter, juga finansial. Banyak orang terbentur pada finansial. Oleh sebab itu, sebelum punya anak, pastikan anda memiliki ekonomi yang cukup untuk membiayai kebutuhannya. Jika tidak, lebih baik tidak usah punya anak.

Pelajaran bagi setiap orang, untuk lebih peka melihat keadaan sosial disekitarnya
Sebagai makhluk sosial, tentunya kita harus peka dengan kondisi disekitar kita. Baik itu dirumah, disekolah, bahkan ditempat kerja. Tetangga sekitar rumah Angeline mengaku, setiap malam mendengar suara tangisan anak tersebut. Seharusnya ini sudah cukup bagi mereka untuk 'memaksakan diri' mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mengapa anak itu terdengar menangis setiap malam?

Apalagi ketika mengetahui sikap ibu angkat Angeline yang begitu tertutup kepada masyarakat dilingkungannya. Dari situ kita bisa menilai, ada sesuatu yang tidak beres. Sehingga tidak masalah jika mereka berusaha untuk mencaritahu apa yang sedang terjadi

Intinya, setiap pasangan suami istri, persiapkan dirimu sebaik mungkin sebelum memiliki atau bahkan menambah anak. Begitu juga menjadi pelajaran kepada kita semua, untuk lebih peka terhadap lingkungan sosial kita, terutama dalam hal bertetangga. Harapannya, semoga kedepannya tidak ada lagi anak-anak yang harus bernasib sama seperti Angeline.

Selamat jalan Angeline, berbahagialah karena engkau telah tenang disisiNya. Tuhan memberkati.

Selasa, 19 Mei 2015

Dialog singkat film Avenger mengingatkanku sebuah nats Alkitab, penasaran?

Avengers telah kembali dirilis seri terbarunya dengan judul, Avengers: Age of Ultron, dimana bercerita tentang para ksatria Avenger yang harus menghadapi sebuah monster yang 'dirancang' oleh salah satu dari mereka sendiri, yaitu Tony Stark. Berawal dari niat Tony Stark yang ingin menciptakan sebuah sistem yang lebih canggih dalam 'Iron Man' miliknya, ia justru membuat timnya berada dalam bahaya.
Itulah sedikit ringkasnya yang saya tangkap mengenai film ini. Namun yang saya ingin ceritakan bukan itu, namun ada sebuah pesan moral yang menarik bagi saya, yang saya dapatkan dari film ini. Dari sebuah dialog kecil diantara sesama mereka.

Saya tidak ingat persis, namun kira-kira begini skenario percakapannya. Adalah ketika salah satu dari mereka berbicara kotor, dan kemudian yang lainnya menegur 'hey jangan berbicara kotor'. Lucunya, salah seorang yang lainnya tiba-tiba berkata 'apakah mulut itu kau pakai untuk mencium ibumu?'

Anda menangkap maksud dari dialog diatas? Ya, berbicara kotor itu sama sekali tidak baik. Dan pesan yang lebih menarik adalah, janganlah memakai mulut yang sama untuk melakukan dua hal yang berlawanan. Disatu sisi, kita pakai mulut ini untuk menunjukkan berkat. Namun disisi lain, kita pakai untuk mengeluarkan kata-kata kutuk yang tak pantas diucapkan. Jika kamu punya dua mulut, silahkan. Namun karena mulutmu hanya satu, pilihanmu hanya satu. Berucap baik atau tidak sama sekali.

Ini mengingatkan saya terhadap sebuah nats Alkitab, tepatnya yaitu pada Yakobus 3:9-12.

3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,
3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?
3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.


Saya sangat terkesan dengan pesan moral dalam film seperti Avenger ini. Sekalipun menjual sisi kecanggihan animasi didalamnya, namun tetap terkandung nilai-nilai moral yang dapat kita petik, melalui sebuah perumpamaan sederhana. Dan yang lebih hebatnya, perumpamaan tersebut ada dalam Alkitab.

Saya sangat berharap sang pembuat naskah dialog ini membuat terinsiprasi dari firman Tuhan didalam Alkitab. Namun jikapun tidak, saya tetap bangga, karena jauh sebelum mereka menulis naskah ini, Alkitab sudah jauh lebih dulu membuat sebuah perumpamaan ini.

Semoga kedepannya kita bisa mengaplikasikan nilai moral yang ada pada dialog singkat film Avenger tersebut. Ayo, budayakan menggunakan mulut kita hanya untuk mengucapkan hal-hal yang baik dan benar. Jangan berbicara kotor dengan mulut yang kau pakai untuk mencium ibumu!

Senin, 20 April 2015

Buruh migran juga manusia...

Imigran atau biasa disebut migran, ketika mendengar kata migran, apakah yang terlintas dibenak kita? Tentunya orang yang bermigrasi. Nah, apa itu migrasi? Migrasi adalah kegiatan dimana seseorang meninggalkan kampung halamannya dan pergi merantau ke suatu negara (Rujukan: Wikipedia). Kebanyakan diantara mereka bermigrasi dengan sebuah goal, yaitu kesejahteraan. Untuk mencapainya, tentunya mereka mencari peluang pekerjaan ataupun usaha dinegara yang mereka kunjungi, yang mana dianggap lebih maju sehingga bisa memberikan peluang yang lebih baik. Tak heran, jika pada akhirnya mereka menetap di negara tempat mereka bekerja maupun berwiraswasta.

Secara logika, orang yang bermigrasi tentunya akan lebih berpeluang untuk meraih kesuksesannya negara yang ia didatangi, mengingat kesempatan dan peluang yang diberikan tentu lebih besar jika dibandingkan dengan kampung halamannya. Apalagi mengingat negara tempat perantauan itu jauh lebih maju daripada negara sendiri. Tak pelak, tentunya kesuksesan yang seharusnya diraih akan seiring dengan rasa hormat yang akan muncul dari para kerabat maupun tetangganya ketika tahu mereka berhasil. Setelah itu, martabat keluarga-pun terangkat. Jika sudah demikian, maka boleh dikatakan tercapailah goal yang disebutkan diawal, yaitu kesejahteraan.

Namun faktanya, justru yang sering terjadi adalah sebaliknya. Setidaknya itu bisa kita simpulkan dari berita diberbagai media. Banyak imigran yang justru semakin menderita hidupnya. Alih-alih mau sukses, orang-orang ini justru menelan pil pahit ketika berjuang dinegeri orang. Dilema pun terjadi. Antara mau menetap, ataupun pulang. Jika menetap, tentunya harus tahan dengan kejamnya kehidupan diperantauan. Namun jika ingin pulang, tentunya harus tahan dengan berbagai cibiran dan berbagai pandangan miring dari kerabat dan juga tetangga.

Nah, inilah poin yang ingin saya utarakan. Banyak orang yang dengan mudah memberikan pandangan miring terhadap para migran seperti ini. Entah dikatakan inilah, entah dikatakan itulah. Hal ini sangat berbahaya, karena secara tidak langsung sama dengan memberikan 'penghakiman' atau 'sanksi sosial' bagi si imigran. Tentunya akan berdampak buruk terhadap mental si imigran tersebut. Alhasil, ia akan merasa terisolasi dari pergaulan.

Pertanyaannya, layakkah ia menerima 'sanksi sosial' tersebut?

Migran itu pergi dari kampung halamannya, menuju negeri seberang, demi sebuah keberhasilan. Tentunya keberhasilan itu bukan hanya semata-mata untuk mengisi perutnya ketika kosong, tapi untuk mengangkat marwah dan derajat keluarga. Dari sini kita menyimpulkan, bahwa niat mereka begitu mulia. Mereka rela bertaruh jiwa dan raga dengan bermigrasi, demi menghidupi keluarga, demi mengangkat derajat keluarga.

Sekali lagi pertanyaannya, layakkah ia menerima 'sanksi sosial' tersebut?

Tentu jawabnya adalah TIDAK. Mereka bukanlah orang jahat dengan kriminalitas tinggi sehingga perlu mendapatkan sebuah sanksi. Mereka hanyalah orang biasa yang ingin meraih sebuah kehidupan yang lebih baik. Saya pikir nurani kita sesungguhnya sudah cukup mampu menjawab pertanyaan ini. Ya, para imigran tersebut sama sekali tidak layak untuk mendapatkan 'penghakiman' yang selama ini sering keluar dari mulut para kerabat maupun tetangga. Terlepas mereka berhasil atau tidak, tetap saja kita tidak boleh memberikan pandangan negatif kepada mereka.

Sebaliknya, hendaklah kita memberikan support. Baik dalam bentuk dukungan materil, maupun moril. Ketika mereka pergi, lambaikan tangan dan panjatkan doa agar mereka berhasil. Ketika mereka pulang membawa keberhasilan itu, sambut dengan sukacita dan ucapkan selamat. Bahkan ketika mereka pulang dengan tidak membawa keberhasilan, tetaplah sambut dengan sukacita. Jabat erat tangannya, bila perlu peluk. Dan kemudian berikan kata penghiburan, agar ia bisa kembali semangat dan bangkit untuk mengejar kembali mimpinya.

Marilah kita mulai menunjukkan bahwasanya kita masih merupakan seorang manusia yang manusiawi. Perlakukanlah para imigran itu secara manusiawi. Jika hewan saja mampu menunjukkan sisi manusiawi dalam dirinya dengan bersikap baik kepada kerabatnya, mengapa kita yang manusia justru menunjukkan sisi hewani, dengan bersikap tidak baik kepada kerabat kita?

Buka mata, buka hati, buka nurani. Jadilah manusia yang manusiawi. Mari perlakukan buruh migran dengan prikemanusiaan, karena buruh migran juga manusia...

"Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono"

Kamis, 16 April 2015

Ketika uang menjadi yang terutama..

Dewasa ini, dizaman yang semakin hari semakin sulit, orang semakin buta terhadap segalanya, hanya karena kecintaan kepada uang. Segala hal dilakukan demi mendapatkan uang. Kerja siang malam untuk mendapatkan uang. Disatu sisi, kegigihan yang cukup layak dipuji. Disisi lain perlu dipertanyakan, apakah telah terjadi pergeseran tujuan dalam hidup kita?
Ada sebuah kutipan yang mengatakan, 'uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang'. Benar, tapi saya merasa ngeri mendengarnya. Terkandung prinsip 'cinta uang' didalamnya. Padahal jelas, agama-pun mengatakan bahwa kecintaan terhadap uang adalah akar dari segala kejahatan. Oleh sebab itu saya melihat, pemahaman inilah yang menjadikan setiap orang saat ini melakukan segala-galanya semata-mata demi mendapatkan uang.

Dan lantas, apasajakah realita yang bisa kita lihat ketika orang 'meletakkan' uang diatas segala-galanya?

Jika sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang bahaya cinta uang, kali ini saya akan membahas realita yang merupakan akibat dari cinta uang. Berikut beberapa dari sekian banyak fakta dalam berbagai aspek kehidupan, tentang akibat kecintaan terhadap uang.

Ketika uang menjadi yang terutama...

1. Televisi tak ubahnya merusak seperti narkoba.
Walau teknologi sudah sedemikian canggih dan internet semakin mudah diakses, faktanya televisi tetap masih menjadi sumber informasi yang paling mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika demikian, hendaklah kiranya segala tayangan televisi bisa memberikan pesan moril yang baik. Tak perduli apakah itu sinetron, acara musik, atau apapun itu.

Tapi faktanya apa? Televisi justru menjadi sarana yang tepat untuk merusak generasi bangsa. Bahkan melebihi peran narkoba. Tidak percaya? Coba lihat, berbagai sinetron yang sekarang ini muncul di TV. Isinya anak sekolah pacaran, manusia jadi serigala, pertikaian antar keluarga, dan sejenisnya. Sinetron dibuat tanpa mengedepankan nilai-nilai moral.

Televisi yang menjadi sumber informasi paling mudah diakses, justru menjadi racun bagi para 'konsumennya'. Tayangan yang seharusnya mendidik, justru sebaliknya. Para tokoh dibalik layar tak lagi mementingkan nilai positif dari tayangan yang mereka buat. 'Yang penting laku, ratingnya tinggi, fulusnya pun banyak', itulah prinsip yang dipegang.


2. Pejabat dengan seenaknya 'mengambil yang bukan haknya'
'Mengambil yang bukan haknya', tentu anda paham yang saya maksud. Kata kasarnya, 'memaling', atau kata awamnya 'korupsi'. Inilah salah satu realita yang bisa kita lihat, ketika uang yang menjadi terutama. Orang-orang dipanggung politik yang seharusnya berpikir bagaimana menciptakan keadilan sosial, mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, justru lari dari tanggung jawabnya.

Lihat saja, uanglah motif yang terutama. Uanglah yang menjadi alasan mengapa banyak pejabat korupsi. Padahal bukan karena mereka kekurangan. Seperti yang saya katakan, 'kecintaan akan uang' itulah yang menjadi akarnya. Mayoritas pejabat pemerintah tak sungkan untuk melakukan korupsi. Buktinya?

Lihat saja Ahok. Ia begitu gila memberantas korupsi. Dan lihat betapa banyak pejabat yang membencinya. Logikanya, jika Ahok adalah pemberantas maling, siapakah yang membenci? Ya jelas MALING. Jadi, dengan banyaknya pejabat yang membenci Ahok, kita bisa menilai betapa banyaknya pejabat yang maling.


3. Masuk ini itu harus bayar ini itu
Ketika salah satu teman lulus masuk polisi, seorang teman yang lain terkagum-kagum. Namun tak lama kemudian, mereka melontarkan pertanyaan yang membuat saya berkerut kening mendengarnya, 'bro, lu habis berapa?'.

Ya, Uang telah menjadi salah satu 'kriteria khusus spesial' oleh para oknum. Untuk bisa lulus, harus bayar sekian puluh bahkan ratusan juta. Yang tak kalah memilukan, oknumnya-pun kebanyakan dari orang kepolisian juga. Dan bukan hanya dikepolisian, tapi berbagai institusi dan lembaga pemerintahan lainnya. Seperti rekrutmen PNS, dan sejenisnya.

Akibatnya apa? Polisi tak lagi fokus pada tugasnya melayani masyarakat. Begitupun PNS, dan para 'penyogok' lainnya. Yang disogok pergi menikmati uangnya, yang menyogok sibuk membalikkan modal yang sudah ia habiskan. Alhasil, kerja asal kerja, yang penting menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tak heran, jika kita melihat sama sekali tidak ada profesionalisme dalam diri mereka. Slogan 'abdi negara' tinggal slogan, yang ada justru 'abdi uang'.


4. Bikin lagu yang 'sing penting laku'
Lagu bertemakan cinta, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan Nasionalisme, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan pornografi, bagi saya itu membuat binasa. Yang mengerikannya, lagu-lagu sejenis dipublikasikan dan menyebar luas dikalangan masyarakat, serta sampai anak-anak pun mudah mengaksesnya.

Saya masih tidak habis pikir dengan hal ini. Apakah sang penulis lagu tak memikirkan dampak dari lagu yang ditulisnya bagi para generasi muda yang tentu akan dengan mudah bisa mengakses lagunya? Mengapa membuat lagu dengan nuansa seks bebas dan sarat akan unsur pornografi?

Itulah faktanya. Bikin lagu yang jorok tidak masalah, yang penting bisa laku dan menghasilkan uang banyak. Alhasil, lahirlah paham yang sarat akan seks dan pornografi. Ketika paham itu menjadi hal yang biasa, tinggallah bom waktu bagi kita untuk merasakan dampaknya.


5. Masa bodoh dengan kebenaran, yang penting duit bercucuran!
Media adalah sumber rujukan pertama ketika seseorang mencari kebenaran akan sebuah isu. Dengan demikian, hendaklah media memberitakan segala sesuatu dengan fikiran jernih, serta nurani. Bukan karena emosi, apalagi intervensi. Jika benar katakan benar, jika salah katakan salah. Jika si A jahat katakan jahat, jika si A baik katakan baik. Namun faktanya?

Media justru sarat akan kepentingan politik, terutama kepentingan si pemiliknya. Media ini condong kesini, media itu condong kesitu. Saya rasa tak perlu disebutkan, anda tahu sendiri media mana yang saya maksud.

Masih ingat masa pilpres beberapa waktu silam? Ya, sangat mengherankan ketika melihat berbagai media yang kehilangan netralitasnya. Media yang seharusnya menjadi rujukan atas kebenaran setiap informasi, justru lari dari jalur independensinya. Si A memberitakan bahwa si C jahat kepada D, dan si B justru memberitakan bahwa si C baik kepada si D. Alhasil masyarakat bingung, siapa yang harus dipercaya?


Sesungguhnya masih sangat banyak lagi. Namun saya tutup saja sampai dipoin ke 5 ini. Intinya, segalanya menjadi negatif, ketika uang menjadi yang terutama. Oleh karena itu, mulailah untuk menjadikan uang sebagai hal yang penting, namun bukan yang terpenting. Oleh karena itu, bukan lagi 'uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang', melainkan 'Segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya'.

Rabu, 15 April 2015

Ini jauh #LebihKejiDariFriendzone, penasaran?

Belakangan ini cukup banyak istilah-istilah baru yang populer dikalangan remaja dan pemuda. Beberapa diantaranya seperti garing, cupu, keles dan sebagainya. Dan salah satunya yang paling populer adalah friendzone.

Bagi yang belum tahu arti dan makna dari kata friendzone, berikut penjelasannya.

Friendzone
Situasi dimana kamu mendekati seseorang dan berharap sesuatu yang lebih (jadi pacar), sedangkan si seseorang itu berharap tak lebih. (hanya teman)

Intinya, boleh dikatakan 'cinta bertepuk sebelah tangan'. Kamu menginginkan seseorang, tapi seseorang itu tidak menginginkan kamu. Sebuah situasi yang cukup miris memang. #apes #nasib :')


Tak heran, jika friendzone dianggap sebagai sesuatu yang sangat keji. Bahkan mungkin ketika generasi saat ini menduduki pemerintahan Indonesia dimasa depan, bukan tidak mungkin jika dibuat sebuah Undang-undang yang melarang seseorang melakukan friendzone. Jadi, hati-hati bagi kamu yang suka friendzone-in orang, bisa-bisa kamu dianggap melakukan sebuah tindak kriminal. #capedehh

Oke, sesuai dengan topik mengenai friendzone, di Twitter sedang ramai dengan hastag #LebihKejiDariFriendzone. Karena sedang ramai, saya akan bahas #LebihKejiDariFriendzone versi saya.

Tahukah kamu, banyak diantara kita saat ini yang sering melakukan sesuatu yang bahkan jauh jauh jauh lebih keji dari friendzone? Mungkin kita tidak akan percaya. Mungkin kamu akan berpikir, 'Ah emang gua jahat sama siapa, friendzone-in orang juga ga pernah, kan gua jomblo' .








Tapi faktanya memang benar, banyak diantara kita remaja dan anak muda masa kini yang sering melakukan tindakan yang lebih keji dari friendzone.

Apakah itu?

Yaitu dengan tidak menghormati orang tua kita, serta terlalu acuh pada mereka.

Ya, kita sering tidak menghormati orang tua kita. Hal ini merupakan sebuah 'kekejian besar' yang bisa dilihat dari hal-hal kecil kita tidak lakukan. Hal yang simpel saja. Misalnya, pergi dari rumah tanpa pamit, atau bersikap tidak sopan dengan orangtua. Tidak sopan seperti apa? Misalnya marah ga jelas, atau bicara dengan nada tinggi, serta mengabaikan teguran ataupun nasehatnya. Padahal, marahpun orangtua kita, itu semata-mata karena ia begitu mencintai kita. Mengapa kita mengabaikan tegurannya?

Dan YA! Kita juga sering bersikap acuh tak acuh pada keberadaan orangtua kita. Kita sibuk dengan dunia kita. Bergaul dengan teman-teman, bermain jejaring sosial, otak-atik isi hp, dan segala kesibukan lainnnya. Tapi pernahkah kita menyadari, betapa berharganya waktu yang kita miliki untuk kita habiskan dengan orangtua? Oleh karena itu, mari mulai menyisihkan sedikit waktu untuk bisa bersama-sama dengan orangtua kita! Duduk bareng, nonton TV, sambil bercana dan menyantap snack ringan seperti tempe goreng, bakwan, tahu, dsb. Ataupun juga makan bareng dirumah.

Oleh karena itu, mulai detik ini, berhentilah melakukan sesuatu yang #LebihKejiDariFriendzone. Yaitu dengan menghormati orangtua, dan tidak mengacuhkan mereka. Selagi mereka ada, kesempatan itupun ada. Jangan pernah sia-siakan.

Mari mulai sekarang, menjadi lebih hormat dan peka terhadap keberadan orangtua kita. Dengan begitu, kita sudah berhenti melakukan sesuatu yang #LebihKejiDariFriendzone. Are you ready?!!

Rabu, 25 Maret 2015

Sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan

Hanya berselang beberapa bulan lagi, genap sudah setahun aku duduk dibangku kuliah. Cukup banyak pengalaman yang memberikanku sebuah pelajaran baru. Dalam hal pergaulan, juga pengambilan keputusan. Masa-masa yang cukup memberikan kesan bagiku.

Sedikit curhat, saya adalah anak yang tidak tamat SMA. Namun begitu, saya tetap bersyukur karena saya tetap bisa kuliah. (yaiyalah saya kan tamatnya SMK) :p

Dan taraaa! Inilah foto ketika aku dan teman-temanku merayakan kegembiraan dimana kami berhasil melewati masa-masa sulit kami (atau lebih tepatnya suram).
Rasanya masih jelas teringat dibenakku bagaimana ketika melewati masa-masa dibangku SMK. Aku memiliki sebuah prinsip tersendiri, bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri. Imbasnya, aku sama sekali tidak mau kuliah. Tidak akan mau. Sebegitu bencinya aku ketika setiap orang menyinggung tentang kuliah. Namun, prinsip itu runtuh segera ketika mama dengan rayuan mautnya membujukku untuk kuliah. Itulah yang akhirnya membuatku bisa duduk dibangku kuliah saat ini. Mama memang luarbiasa.

Berbicara soal bangku kuliah, ada satu hal yang sesungguhnya sangat menyedihkan bagiku. Yaitu mengenai kejujuran. Aku sempat berpikir bahwasanya bangku kuliah akan benar-benar dengan suasana yang berbeda. Segalanya berbeda. Namun ternyata harapanku tak seperti kenyataan yang terlihat. Kalau kata anak gaul sekarang, "ekspektasi vs realita". #ehakk

Memang banyak hal yang berbeda, terutama bagiku karena mengambil program kuliah non-reguler, yaitu program untuk mereka yang ingin sambil bekerja. Tak heran, aku menjadi bergaul dengan orang-orang yang mayoritas sudah berumur 35 tahun keatas. Ini menjadi cukup menguntungkan bagiku, karena aku akan semakin memperluas pergaulanku dengan orang-orang yang kompeten. Tentunya akan memperluas peluangku dalam banyak hal.

Namun satu hal yang aku harapkan berbeda dibandingkan bangku SMA, justru ternyata tidak. Sesuatu yang seharusnya bisa menekanku untuk menjadi orang yang lebih baik, justru tak kutemukan dibangku kuliah. Dan realita menyedihkan ini terdapat hampir disetiap universitas. Tahukah anda apa itu? Ya, terkikisnya nilai kejujuran.

Ini sangat menyedihkan bagiku. Karena aku pikir, sangat penting untuk menjadi jujur, dalam hal apapun. Masih teringat jelas ketika UN, aku mengerjakan semuanya dengan jujur. Tak heran, matematikaku mendapat nilai 3,4. Nilai yang cukup layak untuk anak sepertiku. Benar-benar menggambarkan tingkat kecerdasanku dalam mengerjakan matematika. Namun apa yang aku lihat ketika dibangku kuliah? Justru sebaliknya.

Tepatnya, ketika menjalani masa UAS beberapa waktu lalu, aku benar-benar merasa kecewa. 99% para mahasiswa mengerjakan soal dengan menyontek. Dan lucunya, para pengawas seperti acuh tak acuh saja. Nyaris tak ada pengawas yang dengan tegas dan lantang mengatakan 'jangan menyontek'. Justru sama saja seperti di SMA, kebanyakan mereka hanya berkata 'jangan ribut'. Padahal aku tau persis, perintah 'jangan ribut' dibangku SMA itu sama saja dengan 'boleh nyontek, tapi jangan kedengaran keluar ya'.

Ini jelas berbahaya. Walaupun hanyalah sebuah hal kecil, tapi boleh dikatakan sesungguhnya inilah bibit yang berujung pada tumbuhnya pohon permasalahan yang selama ini ada di Indonesia. Tidak percaya?

Jika pengawas dibangku kuliah (secara tidak langsung) menunjukkan sinyal boleh menyontek, lantas apa bedanya bangku kuliah dengan bangku SMA?

Jika mahasiswa melihat bahwa pengawas saja memberi sinyal menyontek, bagaimana mereka bisa memahami bahwa kejujuran itu yang terpenting?

Jika mahasiswa dengan santainya menyontek, bagaimana bisa menegakkan kejujuran kelak?

Bukankah nilai kejujuran harus ditegakkan walau hal sekecil apapun?

Jika dalam hal mengerjakan soal UAS saja tidak bisa jujur, lantas bagaimana nanti ketika mengerjakan tugas sebagai penegak hukum?

Jika demi IPK saja bisa mengesampingkan nilai kejujuran, apalagi demi uang?

Jika karena uang seorang penegak hukum bisa mengesampingkan kejujuran, bagaimana mungkin bisa menegakkan keadilan hukum?

Jika sang penegak hukum tidak bisa lagi menegakkan keadilan hukum, apagunanya diangkat jadi penegak hukum


Lihat? Begitu banyak rentetan masalah yang berakar dari sebuah ketidakjujuran, walaupun kecil. Menyontek adalah sebuah realita dimana nilai-nilai kejujuran masih sangat kecil diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika kita tidak bisa jujur dalam hal yang kecil, akan sangat meragukan kita bisa jujur dalam perkara yang besar. Jika ketidakjujuran dalam perkara kecil saja bisa menimbulkan masalah besar, apalagi ketidakjujuran dalam perkasa besar?

Sekecil apapun, berlakulah jujur. Ingat, pohon yang sangat besar dimulai dari sebuah bibit yang kecil. Begitupun juga masalah yang besar dimulai dari sebuah ketidakjujuran dalam hal yang kecil pula. Mari, memulai untuk jujur, dalam segala aspek kehidupan kita.

Ingat sebuah filsafat hukum yang berbunyi, "Fiat Justitia Ruat Coelum", sekalipun langit akan runtuh, hukum harus ditegakkan. Konsep yang sama haruslah juga kita terapkan dalam kehidupan, khususnya dalam aspek perkuliahan.

"Sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan"

Selasa, 24 Maret 2015

Segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya

Ada sebuah kutipan yang populer dikalangan masyarakat belakangan ini, yang bunyinya seperti demikian.
Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.
Saya cukup takjub ketika pertama kali membaca kalimat ini. Bukan karena apa, rangkaian kata-katanya sangat menarik menurut saya. Namun setelah dibaca berulang-ulang, ada sebuah makna yang menurut saya sangat tidak pantas untuk menjadi panutan. Sekilas memang kalimat ini seperti sedang menjabarkan sebuah fakta, bahwasanya uang memang penting dalam kehidupan. Namun pada akhirnya, terjadi pergeseran makna menjadi 'uanglah yang terpenting dalam kehidupan'.

Pertanyaannya, sebegitu berharganyakah uang sampai ia harus didewakan sedemikian hebatnya?

Dizaman yang semakin hari semakin kejam ini, kita bisa melihat sebuah fakta, dimana orang semakin berburu-buru mencari uang. Semua berlomba mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bekerja pagi siang dan malam, bahkan subuh, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dari terbitnya matahari sampai terbitnya lagi, tetap bekerja.

Bahkan, pemahaman dimana nilai derajat seseorang bergantung pada banyaknya uang yang ia miliki, semakin jelas terlihat. Belum terhormat rasanya seseorang, jika ia tidak memiliki banyak uang. Ini sangat menyedihkan. Implikasinya dalam kehidupan, orang miskin akan semakin kehilangan tempat dalam lingkungan sosial. Yang kaya semakin menginjak, yang miskin semakin terinjak.

Bagi saya pribadi, memang uang sangat penting. Tak perlu dijelaskan lagi. Intinya, uang dapat memenuhi hampir semua kebutuhan saya. Namun begitu, saya tetap berprinsip, bahwasanya uang bukanlah 'dewa' dalam kehidupan. Saya ingin prinsip ini juga menjadi pegangan orang banyak juga. Oleh karena itu, saya ingin memposisikan ulang kutipan yang disebutkan diatas, menjadi seperti judul artikel ini.
Segalanya memang butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya.
Ya! Memang, uang begitu penting. Ia mempermudah berbagai hal dalam hidupmu. Tapi ingat, tetaplah berpegang pada kalimat terakhir, 'uang bukanlah segalanya'. Artinya, jangan membuat hidupmu terasa demikian sulit dengan terus berhasrat mencari uang dalam setiap detik hidupmu. Engkau terlahir tidak semata-mata untuk terus menjadi mesin penghasil uang.

Sisihkan waktumu untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Berkumpul bersama sanak saudara, bahkan orang tua. Jangan sampai seluruh waktumu engkau habiskan hanya untuk mencari uang. Jangan sampai, engkau tak lagi memiliki kesempatan untuk dapat berkumpul bersama orang-orang yang engkau cintai. Ketika waktu itu tiba, engkau akan menyesal. Dan yang lebih menyedihkan, semua uang yang engkau miliki takkan dapat engkau pakai untuk membeli lagi kesempatan dan waktu untuk berkumpul bersama orangtua. Ketika engkau menyadari hal itu, pikirkan. Mana yang lebih berharga, uang atau waktu bersama keluarga?

Jangan Menyia-nyiakan Kesempatan Yang Tuhan Berikan

Sekitar dua minggu yang lalu, baru saja salah seorang temanku mendapatkan sebuah musibah, dimana ayahnya meninggal dunia. Dipagi yang begitu buta, tepatnya ketika aku masih menikmati tidur lelapku, seorang lelaki yang merupakan ayah dari temanku ini harus mengalami kecelakaan yang berujung pada maut. Sama sekali tidak terpikirkan, sama sekali tidak terduga, dan sulit dimengerti, bahwasanya itu akan terjadi.

Hari ini, lagi-lagi sebuah kabar dukacita harus kudengar dari seorang sahabatku yang lain. Kepergian ayahnya terasa begitu cepat. Orang-orang hampir tak percaya. Sang istri (aku memanggilnya kakak) tak kuasa menahan tangisnya. Jiwanya begitu tergoncang. Badannya terlihat sangat lemas. Terlihat lembab disekitar kantung matanya yang memerah dan sayu. Semua terasa begitu hampa, seolah tidak ada lagi gunanya menjalani roda kehidupan.

Ketika harus mendengar kabar-kabar seperti ini, aku sering merasa cemas. Ya, kecemasanku ini memang bukan tak beralasan. Ayahku saat ini berumur 58 tahun, usia yang sudah cukup tua. Dengan kondisi jantungnya yang juga saat ini tak begitu baik. Aku selalu bertanya-tanya "kapankah giliranku, Tuhan?". Terdengar seperti mendoakan agar kepergiannya dipercepat, tapi bukan itu maksudnya. Itu hanyalah sebuah kalimat tanya dalam benakku, yang menunjukkan kepasrahan, akan sebuah ketidaksiapan ketika harinya tiba.

Aku tahu, berjuta tanya dalam benakku tetap takkan mampu untuk membuatku tahu, kapankah giliran keluargaku akan tiba. Tuhan memang tidak akan pernah memberitahunya, karena ini memang rahasiaNya. Namun aku bersyukur kepada Tuhan, karena sampai detik ini Ia masih memberiku kesempatan untuk dapat memperlakukan orangtuaku sebaik-baik mungkin, sampai ketika harinya tiba. Sehingga kelak, aku bisa mengadahkan kepala, mengirimkan senyumku kepada Tuhan dan berkata, "Terimakasih Tuhan, aku masih sempat melakukan yang terbaik untuknya".

Apakah engkau juga memiliki kesempatan yang sama? Jika YA, mari! Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Mulailah melakukan yang terbaik untuk orangtua kita. Seburuk apapun mereka, tetaplah mereka adalah orangtua kita, sebuah anugerah terbesar yang Tuhan berikan untuk kita. Mengucap syukurlah karenanya.

Senin, 09 Maret 2015

Teganya orang ini memaksa anaknya bekerja...

Kala itu, seperti biasa, aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saat yang tepat untuk aku pulang kerumah untuk dapat menikmati sedikit waktu bersama keluargaku (papa mama adik abang). Dinginnya malam semakin menguat dengan hadirnya rintik-rintik hujan. Aku seolah tak perduli, kugas terus sepeda motorku.


Sembari berjalan, aku melintasi rute yang memang sama dari sejak jaman purbakala. Terkadang ada rasa bosan, namun aku terus saja gas sepeda motorku. Jalanan yang licin karena basah, ditambah gelapnya malam yang mengurangi jarak pandang, sama sekali tak mengganggu semangatku untuk terus berjalan pulang. Aku tetap pada keinginanku, aku harus segera sampai dirumah.

Selasa, 24 Februari 2015

'Bahasa Alien' di Kalangan Pakar Hukum

Semester 1 prodi Hukum sudah berhasil saya lewati. Boleh dikatakan pencapaian yang saya dapatkan sangat buruk, mengingat beberapa nilai yang buruk, yang mana justru pada nilai mata jurusan (Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia). Maklum saja, saya memang hampir sama sekali tidak pernah belajar. Jadi saya pikir, saya mendapatkan apa yang pantas.


Namun begitu, saya tetap bangga, karena saya mengerjakannya dengan penuh kejujuran tanpa berbuat curang sedikitpun. Karena bagi saya, pencapaian akademis memang perlu, namun integritaslah yang terpenting #cakiya. Jadi, sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan (cielah :p).