Selasa, 24 Februari 2015

'Bahasa Alien' di Kalangan Pakar Hukum

Semester 1 prodi Hukum sudah berhasil saya lewati. Boleh dikatakan pencapaian yang saya dapatkan sangat buruk, mengingat beberapa nilai yang buruk, yang mana justru pada nilai mata jurusan (Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia). Maklum saja, saya memang hampir sama sekali tidak pernah belajar. Jadi saya pikir, saya mendapatkan apa yang pantas.


Namun begitu, saya tetap bangga, karena saya mengerjakannya dengan penuh kejujuran tanpa berbuat curang sedikitpun. Karena bagi saya, pencapaian akademis memang perlu, namun integritaslah yang terpenting #cakiya. Jadi, sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan (cielah :p).

Berbicara soal pengalaman belajar ilmu Hukum, ada satu hal yang cukup menggelitik bagi saya selama mengenyam bangku kuliah ilmu hukum, yaitu soal bahasa. Saya harus katakan, saya sangat geli ketika mendengar orang-orang hukum mengemukakan pendapatnya.

Contoh, ketika menyaksikan (sebut saja) para pakar hukum (walaupun aslinya menurut saya cuma bisa banyak bicara saja) di ILC. Entah mengapa mereka suka sekali menggunakan kata-kata yang sulit dipahami orang awam. Padahal, yang menyaksikan mereka adalah masyarakat yang pada umumnya tidak begitu mengerti bahasa-bahasa hukum. Berikut beberapa 'bahasa alien' yang sering terdengar. (NB: Siapkan kantong plastik didekat anda, karena anda bisa muntah membacanya.)
  1. Substansi. Ini adalah kosa kata 'bahasa alien' yang paling sering saya dengar terucap dari bibir para pakar hukum. Contoh kalimatnya seperti ini.

    Substansi hukum adalah mengatur kehidupan sosial masyarakat.

    Mengapa harus substansi? Mengapa tidak dibuat saja 'makna' atau 'intisari', atau 'tujuan'? Bukankah dengan begitu orang awam lebih mudah memahami? Bagaimana jika saya buat makalah "Romantika Dua Insan menuju Hubungan yang Substantif"? Saya aja geli-geli sendiri bacanya. :D

  2. Perspektif. Ini adalah bahasa alien kedua yang juga sering saya dengarkan. Contoh kalimatnya seperti ini.

    Perceraian adalah sesuatu yang jelas sangat bertentangan jika kita menggunakan perspektif UU No. 1 thn 1974.


    Tidakkah lebih enak jika kalimatnya diganti menjadi "Perceraian adalah sesuatu yang jelas sangat bertentangan jika dilihat dari sudut pandang UU No. 1 thn 1974"? Mungkin kalimatnya terlihat lebih panjang, tapi bukankah membuat pembaca (awam sekalipun) paham adalah hal yang utama dalam menulis?

    Bagaimana pendapat anda jika saya menulis buku berjudul "Pro Kontra Hari Valentine dari Perspektif Jomblo"? Huahahahahahaha.

  3. Yuridis. Ini nih, salah satu kata yang terdengarnya tingkat tinggi banget. Ga peduli kamu tamatan S3 sekalipun (SD, SMP, SMA), kamu bakal terdengar pinter banget jika gunain kata ini. Contoh kalimatnya seperti ini.

    "Pancasila dijadikan iedologi negara sejak 17 Agustus 1945, tetapi secara yuridis baru sah pada tanggal 18 Agustus 1945.


    Ini saya pikir sesuatu yang aneh. Bukankah lebih mudah jika ditulis "secara hukum"?

    Bayangkan jika anda jadian dengan pacar anda tahun 2011, kemudian menikah tahun 2013. Lalu seorang penulis menuliskan kisah anda dalam sebuah buku, dimana ditulis, "mereka menjalin hubungan sejak tahun 2011, namun baru pada tahun 2013 hubungan mereka disahkan secara yuridis.", bagaimana reaksi anda? Kalau saya, akan saya beli seluruh tomat di pasar buah, lalu saya lemparkan kepada penulis itu. *boxing*

  4. Yurisprudensi. Ini kata kedua yang akan membuat anda terlihat 10 kali lebih pintar, namun 100 kali lebih membingungkan. Contoh kalimatnya seperti ini.

  5. "Praktisi hukum di Medan menyatakan seharusnya banyak yurisprudensi yang bisa menjadi acuan hakim PTUN Medan"


    Arghh?! Tidakkah lebih baik jika ditulis "Praktisi Hukum Medan menyatakan seharusnya banyak putusan hakim terdahulu yang bisa menjadi acuan hakim PTUN Medan"?

    Saya jadi terinspirasi menulis skripsi berjudul "Reaksi Wanita Terhadap Ungkapan Cinta dari Pria Tampan berdasarkan Yurisprudensi". #LOL #eaaa

Itulah sedikit curahan hati saya selama menjalani kuliah hukum. Intinya saya tidak suka penggunaan bahasa yang rumit dikalangan orang-orang hukum. Saya pikir, sudah seharusnya para pakar hukum, terutama yang biasa nampang wajah di ILC, untuk menggunakan bahasa yang lebih awam, agar kalimatnya seperti makanan ringan, mudah dicerna. :P

Mungkin penggunaan bahasa alien didepan publik bisa melihat anda terlihat berwibawa, namun apa gunanya jika masyarakat sebagai pendengar justru tidak mengerti apa yang diucapkan?

Saran saya, buat para pakar dan praktisi hukum, utamakanlah bagaimana membuat masyarakat awam mengerti dengan apa yang anda ucapkan. Jika yang anda katakan memang berbobot, menggunakan bahasa sederhana sekalipun masyarakat tetap akan takjub mendengarnya. Dan ketika masyarakat takjub, niscaya wibawa anda akan meningkat dengan sendirinya.

0 komentar:

Posting Komentar