Rabu, 25 Maret 2015

Sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan

Hanya berselang beberapa bulan lagi, genap sudah setahun aku duduk dibangku kuliah. Cukup banyak pengalaman yang memberikanku sebuah pelajaran baru. Dalam hal pergaulan, juga pengambilan keputusan. Masa-masa yang cukup memberikan kesan bagiku.

Sedikit curhat, saya adalah anak yang tidak tamat SMA. Namun begitu, saya tetap bersyukur karena saya tetap bisa kuliah. (yaiyalah saya kan tamatnya SMK) :p

Dan taraaa! Inilah foto ketika aku dan teman-temanku merayakan kegembiraan dimana kami berhasil melewati masa-masa sulit kami (atau lebih tepatnya suram).
Rasanya masih jelas teringat dibenakku bagaimana ketika melewati masa-masa dibangku SMK. Aku memiliki sebuah prinsip tersendiri, bahwa aku bisa berhasil dengan caraku sendiri. Imbasnya, aku sama sekali tidak mau kuliah. Tidak akan mau. Sebegitu bencinya aku ketika setiap orang menyinggung tentang kuliah. Namun, prinsip itu runtuh segera ketika mama dengan rayuan mautnya membujukku untuk kuliah. Itulah yang akhirnya membuatku bisa duduk dibangku kuliah saat ini. Mama memang luarbiasa.

Berbicara soal bangku kuliah, ada satu hal yang sesungguhnya sangat menyedihkan bagiku. Yaitu mengenai kejujuran. Aku sempat berpikir bahwasanya bangku kuliah akan benar-benar dengan suasana yang berbeda. Segalanya berbeda. Namun ternyata harapanku tak seperti kenyataan yang terlihat. Kalau kata anak gaul sekarang, "ekspektasi vs realita". #ehakk

Memang banyak hal yang berbeda, terutama bagiku karena mengambil program kuliah non-reguler, yaitu program untuk mereka yang ingin sambil bekerja. Tak heran, aku menjadi bergaul dengan orang-orang yang mayoritas sudah berumur 35 tahun keatas. Ini menjadi cukup menguntungkan bagiku, karena aku akan semakin memperluas pergaulanku dengan orang-orang yang kompeten. Tentunya akan memperluas peluangku dalam banyak hal.

Namun satu hal yang aku harapkan berbeda dibandingkan bangku SMA, justru ternyata tidak. Sesuatu yang seharusnya bisa menekanku untuk menjadi orang yang lebih baik, justru tak kutemukan dibangku kuliah. Dan realita menyedihkan ini terdapat hampir disetiap universitas. Tahukah anda apa itu? Ya, terkikisnya nilai kejujuran.

Ini sangat menyedihkan bagiku. Karena aku pikir, sangat penting untuk menjadi jujur, dalam hal apapun. Masih teringat jelas ketika UN, aku mengerjakan semuanya dengan jujur. Tak heran, matematikaku mendapat nilai 3,4. Nilai yang cukup layak untuk anak sepertiku. Benar-benar menggambarkan tingkat kecerdasanku dalam mengerjakan matematika. Namun apa yang aku lihat ketika dibangku kuliah? Justru sebaliknya.

Tepatnya, ketika menjalani masa UAS beberapa waktu lalu, aku benar-benar merasa kecewa. 99% para mahasiswa mengerjakan soal dengan menyontek. Dan lucunya, para pengawas seperti acuh tak acuh saja. Nyaris tak ada pengawas yang dengan tegas dan lantang mengatakan 'jangan menyontek'. Justru sama saja seperti di SMA, kebanyakan mereka hanya berkata 'jangan ribut'. Padahal aku tau persis, perintah 'jangan ribut' dibangku SMA itu sama saja dengan 'boleh nyontek, tapi jangan kedengaran keluar ya'.

Ini jelas berbahaya. Walaupun hanyalah sebuah hal kecil, tapi boleh dikatakan sesungguhnya inilah bibit yang berujung pada tumbuhnya pohon permasalahan yang selama ini ada di Indonesia. Tidak percaya?

Jika pengawas dibangku kuliah (secara tidak langsung) menunjukkan sinyal boleh menyontek, lantas apa bedanya bangku kuliah dengan bangku SMA?

Jika mahasiswa melihat bahwa pengawas saja memberi sinyal menyontek, bagaimana mereka bisa memahami bahwa kejujuran itu yang terpenting?

Jika mahasiswa dengan santainya menyontek, bagaimana bisa menegakkan kejujuran kelak?

Bukankah nilai kejujuran harus ditegakkan walau hal sekecil apapun?

Jika dalam hal mengerjakan soal UAS saja tidak bisa jujur, lantas bagaimana nanti ketika mengerjakan tugas sebagai penegak hukum?

Jika demi IPK saja bisa mengesampingkan nilai kejujuran, apalagi demi uang?

Jika karena uang seorang penegak hukum bisa mengesampingkan kejujuran, bagaimana mungkin bisa menegakkan keadilan hukum?

Jika sang penegak hukum tidak bisa lagi menegakkan keadilan hukum, apagunanya diangkat jadi penegak hukum


Lihat? Begitu banyak rentetan masalah yang berakar dari sebuah ketidakjujuran, walaupun kecil. Menyontek adalah sebuah realita dimana nilai-nilai kejujuran masih sangat kecil diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Ketika kita tidak bisa jujur dalam hal yang kecil, akan sangat meragukan kita bisa jujur dalam perkara yang besar. Jika ketidakjujuran dalam perkara kecil saja bisa menimbulkan masalah besar, apalagi ketidakjujuran dalam perkasa besar?

Sekecil apapun, berlakulah jujur. Ingat, pohon yang sangat besar dimulai dari sebuah bibit yang kecil. Begitupun juga masalah yang besar dimulai dari sebuah ketidakjujuran dalam hal yang kecil pula. Mari, memulai untuk jujur, dalam segala aspek kehidupan kita.

Ingat sebuah filsafat hukum yang berbunyi, "Fiat Justitia Ruat Coelum", sekalipun langit akan runtuh, hukum harus ditegakkan. Konsep yang sama haruslah juga kita terapkan dalam kehidupan, khususnya dalam aspek perkuliahan.

"Sekalipun nilai IPK akan runtuh, kejujuran tetap harus ditegakkan"

Selasa, 24 Maret 2015

Segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya

Ada sebuah kutipan yang populer dikalangan masyarakat belakangan ini, yang bunyinya seperti demikian.
Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.
Saya cukup takjub ketika pertama kali membaca kalimat ini. Bukan karena apa, rangkaian kata-katanya sangat menarik menurut saya. Namun setelah dibaca berulang-ulang, ada sebuah makna yang menurut saya sangat tidak pantas untuk menjadi panutan. Sekilas memang kalimat ini seperti sedang menjabarkan sebuah fakta, bahwasanya uang memang penting dalam kehidupan. Namun pada akhirnya, terjadi pergeseran makna menjadi 'uanglah yang terpenting dalam kehidupan'.

Pertanyaannya, sebegitu berharganyakah uang sampai ia harus didewakan sedemikian hebatnya?

Dizaman yang semakin hari semakin kejam ini, kita bisa melihat sebuah fakta, dimana orang semakin berburu-buru mencari uang. Semua berlomba mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bekerja pagi siang dan malam, bahkan subuh, untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Dari terbitnya matahari sampai terbitnya lagi, tetap bekerja.

Bahkan, pemahaman dimana nilai derajat seseorang bergantung pada banyaknya uang yang ia miliki, semakin jelas terlihat. Belum terhormat rasanya seseorang, jika ia tidak memiliki banyak uang. Ini sangat menyedihkan. Implikasinya dalam kehidupan, orang miskin akan semakin kehilangan tempat dalam lingkungan sosial. Yang kaya semakin menginjak, yang miskin semakin terinjak.

Bagi saya pribadi, memang uang sangat penting. Tak perlu dijelaskan lagi. Intinya, uang dapat memenuhi hampir semua kebutuhan saya. Namun begitu, saya tetap berprinsip, bahwasanya uang bukanlah 'dewa' dalam kehidupan. Saya ingin prinsip ini juga menjadi pegangan orang banyak juga. Oleh karena itu, saya ingin memposisikan ulang kutipan yang disebutkan diatas, menjadi seperti judul artikel ini.
Segalanya memang butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya.
Ya! Memang, uang begitu penting. Ia mempermudah berbagai hal dalam hidupmu. Tapi ingat, tetaplah berpegang pada kalimat terakhir, 'uang bukanlah segalanya'. Artinya, jangan membuat hidupmu terasa demikian sulit dengan terus berhasrat mencari uang dalam setiap detik hidupmu. Engkau terlahir tidak semata-mata untuk terus menjadi mesin penghasil uang.

Sisihkan waktumu untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Berkumpul bersama sanak saudara, bahkan orang tua. Jangan sampai seluruh waktumu engkau habiskan hanya untuk mencari uang. Jangan sampai, engkau tak lagi memiliki kesempatan untuk dapat berkumpul bersama orang-orang yang engkau cintai. Ketika waktu itu tiba, engkau akan menyesal. Dan yang lebih menyedihkan, semua uang yang engkau miliki takkan dapat engkau pakai untuk membeli lagi kesempatan dan waktu untuk berkumpul bersama orangtua. Ketika engkau menyadari hal itu, pikirkan. Mana yang lebih berharga, uang atau waktu bersama keluarga?

Jangan Menyia-nyiakan Kesempatan Yang Tuhan Berikan

Sekitar dua minggu yang lalu, baru saja salah seorang temanku mendapatkan sebuah musibah, dimana ayahnya meninggal dunia. Dipagi yang begitu buta, tepatnya ketika aku masih menikmati tidur lelapku, seorang lelaki yang merupakan ayah dari temanku ini harus mengalami kecelakaan yang berujung pada maut. Sama sekali tidak terpikirkan, sama sekali tidak terduga, dan sulit dimengerti, bahwasanya itu akan terjadi.

Hari ini, lagi-lagi sebuah kabar dukacita harus kudengar dari seorang sahabatku yang lain. Kepergian ayahnya terasa begitu cepat. Orang-orang hampir tak percaya. Sang istri (aku memanggilnya kakak) tak kuasa menahan tangisnya. Jiwanya begitu tergoncang. Badannya terlihat sangat lemas. Terlihat lembab disekitar kantung matanya yang memerah dan sayu. Semua terasa begitu hampa, seolah tidak ada lagi gunanya menjalani roda kehidupan.

Ketika harus mendengar kabar-kabar seperti ini, aku sering merasa cemas. Ya, kecemasanku ini memang bukan tak beralasan. Ayahku saat ini berumur 58 tahun, usia yang sudah cukup tua. Dengan kondisi jantungnya yang juga saat ini tak begitu baik. Aku selalu bertanya-tanya "kapankah giliranku, Tuhan?". Terdengar seperti mendoakan agar kepergiannya dipercepat, tapi bukan itu maksudnya. Itu hanyalah sebuah kalimat tanya dalam benakku, yang menunjukkan kepasrahan, akan sebuah ketidaksiapan ketika harinya tiba.

Aku tahu, berjuta tanya dalam benakku tetap takkan mampu untuk membuatku tahu, kapankah giliran keluargaku akan tiba. Tuhan memang tidak akan pernah memberitahunya, karena ini memang rahasiaNya. Namun aku bersyukur kepada Tuhan, karena sampai detik ini Ia masih memberiku kesempatan untuk dapat memperlakukan orangtuaku sebaik-baik mungkin, sampai ketika harinya tiba. Sehingga kelak, aku bisa mengadahkan kepala, mengirimkan senyumku kepada Tuhan dan berkata, "Terimakasih Tuhan, aku masih sempat melakukan yang terbaik untuknya".

Apakah engkau juga memiliki kesempatan yang sama? Jika YA, mari! Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Mulailah melakukan yang terbaik untuk orangtua kita. Seburuk apapun mereka, tetaplah mereka adalah orangtua kita, sebuah anugerah terbesar yang Tuhan berikan untuk kita. Mengucap syukurlah karenanya.

Senin, 09 Maret 2015

Teganya orang ini memaksa anaknya bekerja...

Kala itu, seperti biasa, aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saat yang tepat untuk aku pulang kerumah untuk dapat menikmati sedikit waktu bersama keluargaku (papa mama adik abang). Dinginnya malam semakin menguat dengan hadirnya rintik-rintik hujan. Aku seolah tak perduli, kugas terus sepeda motorku.


Sembari berjalan, aku melintasi rute yang memang sama dari sejak jaman purbakala. Terkadang ada rasa bosan, namun aku terus saja gas sepeda motorku. Jalanan yang licin karena basah, ditambah gelapnya malam yang mengurangi jarak pandang, sama sekali tak mengganggu semangatku untuk terus berjalan pulang. Aku tetap pada keinginanku, aku harus segera sampai dirumah.