Senin, 09 Maret 2015

Teganya orang ini memaksa anaknya bekerja...

Kala itu, seperti biasa, aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Saat yang tepat untuk aku pulang kerumah untuk dapat menikmati sedikit waktu bersama keluargaku (papa mama adik abang). Dinginnya malam semakin menguat dengan hadirnya rintik-rintik hujan. Aku seolah tak perduli, kugas terus sepeda motorku.


Sembari berjalan, aku melintasi rute yang memang sama dari sejak jaman purbakala. Terkadang ada rasa bosan, namun aku terus saja gas sepeda motorku. Jalanan yang licin karena basah, ditambah gelapnya malam yang mengurangi jarak pandang, sama sekali tak mengganggu semangatku untuk terus berjalan pulang. Aku tetap pada keinginanku, aku harus segera sampai dirumah.


Sambil asik mengendarai motor kerenku itu, tibalah aku pada sebuah persimpangan dengan lampu lalulintas yang memaksaku untuk berhenti sejenak. Aku pun berhenti. Samar-samar kulihat seorang anak lelaki berbadan mungil menjajakan koran dipinggir lampu merah yang berada dari arah persimpangan yang berbeda. Dinginnya malam yang menusuk ketulang, serta rintik hujan yang membasahi tubuh secara perlahan, seolah tak ia hiraukan.

Terlintas dipikiranku untuk mengajaknya makan, "mungkin ia lapar" pikirku. Kebetulan aku memang baru saja mengantongi sejumlah uang, dan saat itu memang waktu yang tepat untuk menyantap makan malam. Tanpa pikir panjang, aku langsung belok ke kiri dan mengambil pemutaran untuk menuju kelampu merah tempat ia berdiri. Tibalah aku mendekat. Sebelum kuhampiri, kulihat ia dari jarak yang agak kejauhan. Hatiku sangat terenyuh.

Dengan mengenakan mantel hujan dan perlengkapan seadanya, ia terus menawarkan koran kepada para pengendara yang berhenti. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan manusia-manusia yang menghentikan kendaraannya dilampu merah itu. Apakah mereka tidak tersentuh melihat anak itu? Berjuang mencari sesuap nasi dikala dinginnya malam, tanpa perduli tetesan gerimis yang membasahi tubuhnya? Tak seorangpun dari mereka yang membeli koran si bocah kecil ini. Dimanakah hati nurani?

Beberapa detik menjelang lampu lalulintas menunjukkan tanda berjalan, aku mendekat menghampiri anak itu. Lalu ia melihatku dengan tatapan sayu. Langsung saja aku membuka pembicaraan dengannya.

'dek, udah makan?'

'belum, pak' (mungkin wajah saya memang lebih cocok dipanggil pak)

'yok pergi makan yok. abg traktir, yang dekat sini aja' sambil menunjuk sebuah tempat makan dekat sebuah rumah sakit.

*ia menggelengkan kepala*

'kenapa?'

'engga, itu ada mama nunggu disitu' katanya sambil menunjuk kearah kolong jembatan fly over.

Kulihatlah dengan seksama, dari tempat kami berdiri tampaklah seorang wanita. Wanita dengan raga fisik yang lengkap, duduk dibawah kolong jembatan itu sambil menggendong anaknya yang masih sangat kecil, melihat kearah kami.

Aku merasa geram. Hatiku mulai dipenuhi emosi yang meluap perlahan, otakku mulai menimbulkan berjuta tanya. Tidakkah ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan si ibu ini untuk menafkahi anaknya? Apakah ia memiliki kekurangan fisik sampai ia tidak bekerja untuk anaknya? Mengapa harus membiarkan anak kecil ini bekerja sedemikian keras?

Aku mulai tak dapat berfikir jernih. Tapi aku sadar, sesungguhnya ini memang bukan urusanku, aku tak perlu mencampuri kehidupannya. Dengan berat hati, aku bergegas pergi. Aku katakan 'hati-hati ya dek', lalu kugas motorku dan kemudian kuarahkan motorku melintas didepan sang ibu yang begitu santainya sambil aku berkata 'buk, kasihan anaknya' dan si ibu hanya menjawab 'iya pak'. Akupun pergi dan berlalu dari hadapannya.

Aku terus mengendarai motorku dengan rasa bersalah. Disatu sisi, aku merasa gagal karena tak mampu menolong anak itu. Disisi lain, aku merasa geram pada sang ibu yang tega membiarkan anaknya bekerja demikian keras.

Namun satu hal yang kusyukuri, adalah keuletan anak itu. Aku kagum. Bagiku, ia jauh lebih mulia dibanding sekelompok anggota dewan yang berusaha mencuri uang rakyat 12 T. Terakhir, aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Biarlah roda kehidupan ini berputar seturut kehendaknya.

0 komentar:

Posting Komentar