Senin, 20 April 2015

Buruh migran juga manusia...

Imigran atau biasa disebut migran, ketika mendengar kata migran, apakah yang terlintas dibenak kita? Tentunya orang yang bermigrasi. Nah, apa itu migrasi? Migrasi adalah kegiatan dimana seseorang meninggalkan kampung halamannya dan pergi merantau ke suatu negara (Rujukan: Wikipedia). Kebanyakan diantara mereka bermigrasi dengan sebuah goal, yaitu kesejahteraan. Untuk mencapainya, tentunya mereka mencari peluang pekerjaan ataupun usaha dinegara yang mereka kunjungi, yang mana dianggap lebih maju sehingga bisa memberikan peluang yang lebih baik. Tak heran, jika pada akhirnya mereka menetap di negara tempat mereka bekerja maupun berwiraswasta.

Secara logika, orang yang bermigrasi tentunya akan lebih berpeluang untuk meraih kesuksesannya negara yang ia didatangi, mengingat kesempatan dan peluang yang diberikan tentu lebih besar jika dibandingkan dengan kampung halamannya. Apalagi mengingat negara tempat perantauan itu jauh lebih maju daripada negara sendiri. Tak pelak, tentunya kesuksesan yang seharusnya diraih akan seiring dengan rasa hormat yang akan muncul dari para kerabat maupun tetangganya ketika tahu mereka berhasil. Setelah itu, martabat keluarga-pun terangkat. Jika sudah demikian, maka boleh dikatakan tercapailah goal yang disebutkan diawal, yaitu kesejahteraan.

Namun faktanya, justru yang sering terjadi adalah sebaliknya. Setidaknya itu bisa kita simpulkan dari berita diberbagai media. Banyak imigran yang justru semakin menderita hidupnya. Alih-alih mau sukses, orang-orang ini justru menelan pil pahit ketika berjuang dinegeri orang. Dilema pun terjadi. Antara mau menetap, ataupun pulang. Jika menetap, tentunya harus tahan dengan kejamnya kehidupan diperantauan. Namun jika ingin pulang, tentunya harus tahan dengan berbagai cibiran dan berbagai pandangan miring dari kerabat dan juga tetangga.

Nah, inilah poin yang ingin saya utarakan. Banyak orang yang dengan mudah memberikan pandangan miring terhadap para migran seperti ini. Entah dikatakan inilah, entah dikatakan itulah. Hal ini sangat berbahaya, karena secara tidak langsung sama dengan memberikan 'penghakiman' atau 'sanksi sosial' bagi si imigran. Tentunya akan berdampak buruk terhadap mental si imigran tersebut. Alhasil, ia akan merasa terisolasi dari pergaulan.

Pertanyaannya, layakkah ia menerima 'sanksi sosial' tersebut?

Migran itu pergi dari kampung halamannya, menuju negeri seberang, demi sebuah keberhasilan. Tentunya keberhasilan itu bukan hanya semata-mata untuk mengisi perutnya ketika kosong, tapi untuk mengangkat marwah dan derajat keluarga. Dari sini kita menyimpulkan, bahwa niat mereka begitu mulia. Mereka rela bertaruh jiwa dan raga dengan bermigrasi, demi menghidupi keluarga, demi mengangkat derajat keluarga.

Sekali lagi pertanyaannya, layakkah ia menerima 'sanksi sosial' tersebut?

Tentu jawabnya adalah TIDAK. Mereka bukanlah orang jahat dengan kriminalitas tinggi sehingga perlu mendapatkan sebuah sanksi. Mereka hanyalah orang biasa yang ingin meraih sebuah kehidupan yang lebih baik. Saya pikir nurani kita sesungguhnya sudah cukup mampu menjawab pertanyaan ini. Ya, para imigran tersebut sama sekali tidak layak untuk mendapatkan 'penghakiman' yang selama ini sering keluar dari mulut para kerabat maupun tetangga. Terlepas mereka berhasil atau tidak, tetap saja kita tidak boleh memberikan pandangan negatif kepada mereka.

Sebaliknya, hendaklah kita memberikan support. Baik dalam bentuk dukungan materil, maupun moril. Ketika mereka pergi, lambaikan tangan dan panjatkan doa agar mereka berhasil. Ketika mereka pulang membawa keberhasilan itu, sambut dengan sukacita dan ucapkan selamat. Bahkan ketika mereka pulang dengan tidak membawa keberhasilan, tetaplah sambut dengan sukacita. Jabat erat tangannya, bila perlu peluk. Dan kemudian berikan kata penghiburan, agar ia bisa kembali semangat dan bangkit untuk mengejar kembali mimpinya.

Marilah kita mulai menunjukkan bahwasanya kita masih merupakan seorang manusia yang manusiawi. Perlakukanlah para imigran itu secara manusiawi. Jika hewan saja mampu menunjukkan sisi manusiawi dalam dirinya dengan bersikap baik kepada kerabatnya, mengapa kita yang manusia justru menunjukkan sisi hewani, dengan bersikap tidak baik kepada kerabat kita?

Buka mata, buka hati, buka nurani. Jadilah manusia yang manusiawi. Mari perlakukan buruh migran dengan prikemanusiaan, karena buruh migran juga manusia...

"Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono"

Kamis, 16 April 2015

Ketika uang menjadi yang terutama..

Dewasa ini, dizaman yang semakin hari semakin sulit, orang semakin buta terhadap segalanya, hanya karena kecintaan kepada uang. Segala hal dilakukan demi mendapatkan uang. Kerja siang malam untuk mendapatkan uang. Disatu sisi, kegigihan yang cukup layak dipuji. Disisi lain perlu dipertanyakan, apakah telah terjadi pergeseran tujuan dalam hidup kita?
Ada sebuah kutipan yang mengatakan, 'uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang'. Benar, tapi saya merasa ngeri mendengarnya. Terkandung prinsip 'cinta uang' didalamnya. Padahal jelas, agama-pun mengatakan bahwa kecintaan terhadap uang adalah akar dari segala kejahatan. Oleh sebab itu saya melihat, pemahaman inilah yang menjadikan setiap orang saat ini melakukan segala-galanya semata-mata demi mendapatkan uang.

Dan lantas, apasajakah realita yang bisa kita lihat ketika orang 'meletakkan' uang diatas segala-galanya?

Jika sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang bahaya cinta uang, kali ini saya akan membahas realita yang merupakan akibat dari cinta uang. Berikut beberapa dari sekian banyak fakta dalam berbagai aspek kehidupan, tentang akibat kecintaan terhadap uang.

Ketika uang menjadi yang terutama...

1. Televisi tak ubahnya merusak seperti narkoba.
Walau teknologi sudah sedemikian canggih dan internet semakin mudah diakses, faktanya televisi tetap masih menjadi sumber informasi yang paling mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika demikian, hendaklah kiranya segala tayangan televisi bisa memberikan pesan moril yang baik. Tak perduli apakah itu sinetron, acara musik, atau apapun itu.

Tapi faktanya apa? Televisi justru menjadi sarana yang tepat untuk merusak generasi bangsa. Bahkan melebihi peran narkoba. Tidak percaya? Coba lihat, berbagai sinetron yang sekarang ini muncul di TV. Isinya anak sekolah pacaran, manusia jadi serigala, pertikaian antar keluarga, dan sejenisnya. Sinetron dibuat tanpa mengedepankan nilai-nilai moral.

Televisi yang menjadi sumber informasi paling mudah diakses, justru menjadi racun bagi para 'konsumennya'. Tayangan yang seharusnya mendidik, justru sebaliknya. Para tokoh dibalik layar tak lagi mementingkan nilai positif dari tayangan yang mereka buat. 'Yang penting laku, ratingnya tinggi, fulusnya pun banyak', itulah prinsip yang dipegang.


2. Pejabat dengan seenaknya 'mengambil yang bukan haknya'
'Mengambil yang bukan haknya', tentu anda paham yang saya maksud. Kata kasarnya, 'memaling', atau kata awamnya 'korupsi'. Inilah salah satu realita yang bisa kita lihat, ketika uang yang menjadi terutama. Orang-orang dipanggung politik yang seharusnya berpikir bagaimana menciptakan keadilan sosial, mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, justru lari dari tanggung jawabnya.

Lihat saja, uanglah motif yang terutama. Uanglah yang menjadi alasan mengapa banyak pejabat korupsi. Padahal bukan karena mereka kekurangan. Seperti yang saya katakan, 'kecintaan akan uang' itulah yang menjadi akarnya. Mayoritas pejabat pemerintah tak sungkan untuk melakukan korupsi. Buktinya?

Lihat saja Ahok. Ia begitu gila memberantas korupsi. Dan lihat betapa banyak pejabat yang membencinya. Logikanya, jika Ahok adalah pemberantas maling, siapakah yang membenci? Ya jelas MALING. Jadi, dengan banyaknya pejabat yang membenci Ahok, kita bisa menilai betapa banyaknya pejabat yang maling.


3. Masuk ini itu harus bayar ini itu
Ketika salah satu teman lulus masuk polisi, seorang teman yang lain terkagum-kagum. Namun tak lama kemudian, mereka melontarkan pertanyaan yang membuat saya berkerut kening mendengarnya, 'bro, lu habis berapa?'.

Ya, Uang telah menjadi salah satu 'kriteria khusus spesial' oleh para oknum. Untuk bisa lulus, harus bayar sekian puluh bahkan ratusan juta. Yang tak kalah memilukan, oknumnya-pun kebanyakan dari orang kepolisian juga. Dan bukan hanya dikepolisian, tapi berbagai institusi dan lembaga pemerintahan lainnya. Seperti rekrutmen PNS, dan sejenisnya.

Akibatnya apa? Polisi tak lagi fokus pada tugasnya melayani masyarakat. Begitupun PNS, dan para 'penyogok' lainnya. Yang disogok pergi menikmati uangnya, yang menyogok sibuk membalikkan modal yang sudah ia habiskan. Alhasil, kerja asal kerja, yang penting menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tak heran, jika kita melihat sama sekali tidak ada profesionalisme dalam diri mereka. Slogan 'abdi negara' tinggal slogan, yang ada justru 'abdi uang'.


4. Bikin lagu yang 'sing penting laku'
Lagu bertemakan cinta, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan Nasionalisme, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan pornografi, bagi saya itu membuat binasa. Yang mengerikannya, lagu-lagu sejenis dipublikasikan dan menyebar luas dikalangan masyarakat, serta sampai anak-anak pun mudah mengaksesnya.

Saya masih tidak habis pikir dengan hal ini. Apakah sang penulis lagu tak memikirkan dampak dari lagu yang ditulisnya bagi para generasi muda yang tentu akan dengan mudah bisa mengakses lagunya? Mengapa membuat lagu dengan nuansa seks bebas dan sarat akan unsur pornografi?

Itulah faktanya. Bikin lagu yang jorok tidak masalah, yang penting bisa laku dan menghasilkan uang banyak. Alhasil, lahirlah paham yang sarat akan seks dan pornografi. Ketika paham itu menjadi hal yang biasa, tinggallah bom waktu bagi kita untuk merasakan dampaknya.


5. Masa bodoh dengan kebenaran, yang penting duit bercucuran!
Media adalah sumber rujukan pertama ketika seseorang mencari kebenaran akan sebuah isu. Dengan demikian, hendaklah media memberitakan segala sesuatu dengan fikiran jernih, serta nurani. Bukan karena emosi, apalagi intervensi. Jika benar katakan benar, jika salah katakan salah. Jika si A jahat katakan jahat, jika si A baik katakan baik. Namun faktanya?

Media justru sarat akan kepentingan politik, terutama kepentingan si pemiliknya. Media ini condong kesini, media itu condong kesitu. Saya rasa tak perlu disebutkan, anda tahu sendiri media mana yang saya maksud.

Masih ingat masa pilpres beberapa waktu silam? Ya, sangat mengherankan ketika melihat berbagai media yang kehilangan netralitasnya. Media yang seharusnya menjadi rujukan atas kebenaran setiap informasi, justru lari dari jalur independensinya. Si A memberitakan bahwa si C jahat kepada D, dan si B justru memberitakan bahwa si C baik kepada si D. Alhasil masyarakat bingung, siapa yang harus dipercaya?


Sesungguhnya masih sangat banyak lagi. Namun saya tutup saja sampai dipoin ke 5 ini. Intinya, segalanya menjadi negatif, ketika uang menjadi yang terutama. Oleh karena itu, mulailah untuk menjadikan uang sebagai hal yang penting, namun bukan yang terpenting. Oleh karena itu, bukan lagi 'uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang', melainkan 'Segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya'.

Rabu, 15 April 2015

Ini jauh #LebihKejiDariFriendzone, penasaran?

Belakangan ini cukup banyak istilah-istilah baru yang populer dikalangan remaja dan pemuda. Beberapa diantaranya seperti garing, cupu, keles dan sebagainya. Dan salah satunya yang paling populer adalah friendzone.

Bagi yang belum tahu arti dan makna dari kata friendzone, berikut penjelasannya.

Friendzone
Situasi dimana kamu mendekati seseorang dan berharap sesuatu yang lebih (jadi pacar), sedangkan si seseorang itu berharap tak lebih. (hanya teman)

Intinya, boleh dikatakan 'cinta bertepuk sebelah tangan'. Kamu menginginkan seseorang, tapi seseorang itu tidak menginginkan kamu. Sebuah situasi yang cukup miris memang. #apes #nasib :')


Tak heran, jika friendzone dianggap sebagai sesuatu yang sangat keji. Bahkan mungkin ketika generasi saat ini menduduki pemerintahan Indonesia dimasa depan, bukan tidak mungkin jika dibuat sebuah Undang-undang yang melarang seseorang melakukan friendzone. Jadi, hati-hati bagi kamu yang suka friendzone-in orang, bisa-bisa kamu dianggap melakukan sebuah tindak kriminal. #capedehh

Oke, sesuai dengan topik mengenai friendzone, di Twitter sedang ramai dengan hastag #LebihKejiDariFriendzone. Karena sedang ramai, saya akan bahas #LebihKejiDariFriendzone versi saya.

Tahukah kamu, banyak diantara kita saat ini yang sering melakukan sesuatu yang bahkan jauh jauh jauh lebih keji dari friendzone? Mungkin kita tidak akan percaya. Mungkin kamu akan berpikir, 'Ah emang gua jahat sama siapa, friendzone-in orang juga ga pernah, kan gua jomblo' .








Tapi faktanya memang benar, banyak diantara kita remaja dan anak muda masa kini yang sering melakukan tindakan yang lebih keji dari friendzone.

Apakah itu?

Yaitu dengan tidak menghormati orang tua kita, serta terlalu acuh pada mereka.

Ya, kita sering tidak menghormati orang tua kita. Hal ini merupakan sebuah 'kekejian besar' yang bisa dilihat dari hal-hal kecil kita tidak lakukan. Hal yang simpel saja. Misalnya, pergi dari rumah tanpa pamit, atau bersikap tidak sopan dengan orangtua. Tidak sopan seperti apa? Misalnya marah ga jelas, atau bicara dengan nada tinggi, serta mengabaikan teguran ataupun nasehatnya. Padahal, marahpun orangtua kita, itu semata-mata karena ia begitu mencintai kita. Mengapa kita mengabaikan tegurannya?

Dan YA! Kita juga sering bersikap acuh tak acuh pada keberadaan orangtua kita. Kita sibuk dengan dunia kita. Bergaul dengan teman-teman, bermain jejaring sosial, otak-atik isi hp, dan segala kesibukan lainnnya. Tapi pernahkah kita menyadari, betapa berharganya waktu yang kita miliki untuk kita habiskan dengan orangtua? Oleh karena itu, mari mulai menyisihkan sedikit waktu untuk bisa bersama-sama dengan orangtua kita! Duduk bareng, nonton TV, sambil bercana dan menyantap snack ringan seperti tempe goreng, bakwan, tahu, dsb. Ataupun juga makan bareng dirumah.

Oleh karena itu, mulai detik ini, berhentilah melakukan sesuatu yang #LebihKejiDariFriendzone. Yaitu dengan menghormati orangtua, dan tidak mengacuhkan mereka. Selagi mereka ada, kesempatan itupun ada. Jangan pernah sia-siakan.

Mari mulai sekarang, menjadi lebih hormat dan peka terhadap keberadan orangtua kita. Dengan begitu, kita sudah berhenti melakukan sesuatu yang #LebihKejiDariFriendzone. Are you ready?!!