Kamis, 16 April 2015

Ketika uang menjadi yang terutama..

Dewasa ini, dizaman yang semakin hari semakin sulit, orang semakin buta terhadap segalanya, hanya karena kecintaan kepada uang. Segala hal dilakukan demi mendapatkan uang. Kerja siang malam untuk mendapatkan uang. Disatu sisi, kegigihan yang cukup layak dipuji. Disisi lain perlu dipertanyakan, apakah telah terjadi pergeseran tujuan dalam hidup kita?
Ada sebuah kutipan yang mengatakan, 'uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang'. Benar, tapi saya merasa ngeri mendengarnya. Terkandung prinsip 'cinta uang' didalamnya. Padahal jelas, agama-pun mengatakan bahwa kecintaan terhadap uang adalah akar dari segala kejahatan. Oleh sebab itu saya melihat, pemahaman inilah yang menjadikan setiap orang saat ini melakukan segala-galanya semata-mata demi mendapatkan uang.

Dan lantas, apasajakah realita yang bisa kita lihat ketika orang 'meletakkan' uang diatas segala-galanya?

Jika sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang bahaya cinta uang, kali ini saya akan membahas realita yang merupakan akibat dari cinta uang. Berikut beberapa dari sekian banyak fakta dalam berbagai aspek kehidupan, tentang akibat kecintaan terhadap uang.

Ketika uang menjadi yang terutama...

1. Televisi tak ubahnya merusak seperti narkoba.
Walau teknologi sudah sedemikian canggih dan internet semakin mudah diakses, faktanya televisi tetap masih menjadi sumber informasi yang paling mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika demikian, hendaklah kiranya segala tayangan televisi bisa memberikan pesan moril yang baik. Tak perduli apakah itu sinetron, acara musik, atau apapun itu.

Tapi faktanya apa? Televisi justru menjadi sarana yang tepat untuk merusak generasi bangsa. Bahkan melebihi peran narkoba. Tidak percaya? Coba lihat, berbagai sinetron yang sekarang ini muncul di TV. Isinya anak sekolah pacaran, manusia jadi serigala, pertikaian antar keluarga, dan sejenisnya. Sinetron dibuat tanpa mengedepankan nilai-nilai moral.

Televisi yang menjadi sumber informasi paling mudah diakses, justru menjadi racun bagi para 'konsumennya'. Tayangan yang seharusnya mendidik, justru sebaliknya. Para tokoh dibalik layar tak lagi mementingkan nilai positif dari tayangan yang mereka buat. 'Yang penting laku, ratingnya tinggi, fulusnya pun banyak', itulah prinsip yang dipegang.


2. Pejabat dengan seenaknya 'mengambil yang bukan haknya'
'Mengambil yang bukan haknya', tentu anda paham yang saya maksud. Kata kasarnya, 'memaling', atau kata awamnya 'korupsi'. Inilah salah satu realita yang bisa kita lihat, ketika uang yang menjadi terutama. Orang-orang dipanggung politik yang seharusnya berpikir bagaimana menciptakan keadilan sosial, mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, justru lari dari tanggung jawabnya.

Lihat saja, uanglah motif yang terutama. Uanglah yang menjadi alasan mengapa banyak pejabat korupsi. Padahal bukan karena mereka kekurangan. Seperti yang saya katakan, 'kecintaan akan uang' itulah yang menjadi akarnya. Mayoritas pejabat pemerintah tak sungkan untuk melakukan korupsi. Buktinya?

Lihat saja Ahok. Ia begitu gila memberantas korupsi. Dan lihat betapa banyak pejabat yang membencinya. Logikanya, jika Ahok adalah pemberantas maling, siapakah yang membenci? Ya jelas MALING. Jadi, dengan banyaknya pejabat yang membenci Ahok, kita bisa menilai betapa banyaknya pejabat yang maling.


3. Masuk ini itu harus bayar ini itu
Ketika salah satu teman lulus masuk polisi, seorang teman yang lain terkagum-kagum. Namun tak lama kemudian, mereka melontarkan pertanyaan yang membuat saya berkerut kening mendengarnya, 'bro, lu habis berapa?'.

Ya, Uang telah menjadi salah satu 'kriteria khusus spesial' oleh para oknum. Untuk bisa lulus, harus bayar sekian puluh bahkan ratusan juta. Yang tak kalah memilukan, oknumnya-pun kebanyakan dari orang kepolisian juga. Dan bukan hanya dikepolisian, tapi berbagai institusi dan lembaga pemerintahan lainnya. Seperti rekrutmen PNS, dan sejenisnya.

Akibatnya apa? Polisi tak lagi fokus pada tugasnya melayani masyarakat. Begitupun PNS, dan para 'penyogok' lainnya. Yang disogok pergi menikmati uangnya, yang menyogok sibuk membalikkan modal yang sudah ia habiskan. Alhasil, kerja asal kerja, yang penting menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Tak heran, jika kita melihat sama sekali tidak ada profesionalisme dalam diri mereka. Slogan 'abdi negara' tinggal slogan, yang ada justru 'abdi uang'.


4. Bikin lagu yang 'sing penting laku'
Lagu bertemakan cinta, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan Nasionalisme, bagi saya itu biasa. Lagu bertemakan pornografi, bagi saya itu membuat binasa. Yang mengerikannya, lagu-lagu sejenis dipublikasikan dan menyebar luas dikalangan masyarakat, serta sampai anak-anak pun mudah mengaksesnya.

Saya masih tidak habis pikir dengan hal ini. Apakah sang penulis lagu tak memikirkan dampak dari lagu yang ditulisnya bagi para generasi muda yang tentu akan dengan mudah bisa mengakses lagunya? Mengapa membuat lagu dengan nuansa seks bebas dan sarat akan unsur pornografi?

Itulah faktanya. Bikin lagu yang jorok tidak masalah, yang penting bisa laku dan menghasilkan uang banyak. Alhasil, lahirlah paham yang sarat akan seks dan pornografi. Ketika paham itu menjadi hal yang biasa, tinggallah bom waktu bagi kita untuk merasakan dampaknya.


5. Masa bodoh dengan kebenaran, yang penting duit bercucuran!
Media adalah sumber rujukan pertama ketika seseorang mencari kebenaran akan sebuah isu. Dengan demikian, hendaklah media memberitakan segala sesuatu dengan fikiran jernih, serta nurani. Bukan karena emosi, apalagi intervensi. Jika benar katakan benar, jika salah katakan salah. Jika si A jahat katakan jahat, jika si A baik katakan baik. Namun faktanya?

Media justru sarat akan kepentingan politik, terutama kepentingan si pemiliknya. Media ini condong kesini, media itu condong kesitu. Saya rasa tak perlu disebutkan, anda tahu sendiri media mana yang saya maksud.

Masih ingat masa pilpres beberapa waktu silam? Ya, sangat mengherankan ketika melihat berbagai media yang kehilangan netralitasnya. Media yang seharusnya menjadi rujukan atas kebenaran setiap informasi, justru lari dari jalur independensinya. Si A memberitakan bahwa si C jahat kepada D, dan si B justru memberitakan bahwa si C baik kepada si D. Alhasil masyarakat bingung, siapa yang harus dipercaya?


Sesungguhnya masih sangat banyak lagi. Namun saya tutup saja sampai dipoin ke 5 ini. Intinya, segalanya menjadi negatif, ketika uang menjadi yang terutama. Oleh karena itu, mulailah untuk menjadikan uang sebagai hal yang penting, namun bukan yang terpenting. Oleh karena itu, bukan lagi 'uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang', melainkan 'Segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya'.

0 komentar:

Posting Komentar