Minggu, 28 Juni 2015

Qnet, penipuan atau tidak?

Q-Net, siapasih yang tidak tahu Qnet? Saya rasa sebagian masyarakat besar Indonesia pasti sudah tahu. Tidak perlu ditanya bagaimana. Boleh dikatakan hampir sebagian besar wilayah di negeri tercinta ini telah digarap oleh para agen Qnet. Jadi, bisa disimpulkan hampir semua orang saat ini sudah tahu Qnet.
Sedikit cerita pribadi, saya pertama kali tahu Qnet dari teman saya. Ketika itu salah satu teman saya menawarkan saya sebuah program bisnis, dan kemudian dibawa kesebuah acara presentasi mengenai Qnet. Saya yang saat itu masih bocah ingusan ikut saja. Sesampainya disana, saya disuguhkan sebuah penjelasan cara bisnis Qnet agar kita memiliki income yang besar.


Awalnya saya cukup tertarik, dan berniat join, walau biayanya yang sangat fantastis untuk ukuran anak sekolah seperti saya ketika itu (7-10 juta). Apalagi oleh para leadernya, disarankan menggunakan cara UGD (tahu sendirilah ya). Saya sempat berpikir nekat untuk diam-diam menggadaikan STNK mobil pickup ayah saya, untungnya akal sehat saya masih cukup waras untuk tidak melakukan hal itu. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan, karena ketika itu ia mengarahkan saya untuk tidak melakukannya.

Nah, banyak orang yang mengatakan Qnet itu penipuan dan sama sekali tidak benar. Pertanyaannya, benarkah demikian?

Dalam hal ini saya tidak bermaksud membela atau memihak manapun. Saya juga bukan orang bayaran yang kemudian disuruh menulis artikel ini. Saya hanya mencoba jelaskan sedikit banyak yang menurut saya merupakan fakta. Supaya kita tahu apa yang sebenarnya, dan berbicara atas dasar fakta, bukan rumor semata. Jangan sampai kita mengatakan sesuatu itu penipuan padahal tidak. Tentunya akan jadi dosa. Setuju? :)

Apakah Qnet penipuan?
Baik, dimulai dari reputasi perusahaan. Setahu saya, dari segi reputasi, Qnet itu adalah perusahaan berskala internasional yang jelas reputasinya. Lihat dari websitenya saja (http://www.qnet.com), kita sudah bisa mengukur seperti apa reputasi sebuah perusahaan tersebut. Kalau mereka penipuan, tentunya tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang. Apalagi saat ini, Qnet bahkan bekerja sama dengan klub elite sekelas Premiere League, yaitu Manchester City. Lihat video dan gambar dibawah. Atau lihat Galery QnetCITY






Soal produk, saya tidak tahu pasti, karena saya tidak pernah menggunakannya. Pun begitu, saya rasa tidak mungkin klub besar sekelas Manchester City mau bekerja sama dengan perusahaan yang tidak jelas produknya. Apalagi saya pernah mendengar kesaksian dari seorang ibu dilingkungan rumah saya (ini nyata). Ketika itu dia bercerita agar jangan join Qnet, dengan alasan tidak syah menurut agama. Lucunya, tiba-tiba dia spontan bercerita soal pengalamannya memakai produk BioDisc. Dia bilang suaminya berhasil mengeluarkan sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya (kalau saya tidak salah dia bilang batu empedu), dengan meminum air rendaman BioDisc. Saya kira ini tentunya sangat luarbiasa.



Soal cara mengerjakannya, saya pikir pun secara mekanisme sesungguhnya tak ada yang salah, karena mereka menggunakan mekanisme yang mirip MLM. Multi Level Marketing, apakah itu cara yang salah? Tentu tidak. Perlu diketahui, MLM sesungguhnya adalah metode marketing plan yang sangat baik, yang juga dipakai oleh banyak perusahaan besar lainnya. Sebut saja Oriflame, Herbalife, dll.



Kesimpulannya, menurut saya Qnet bukanlah penipuan. Tentunya siapapun bisa berhasil disini, sepanjang mau mengerjakan sesuai arahan. Dan faktanya, sudah banyak orang yang berhasil disini. Oleh karena itu, tanpa berpanjang lebar, sekali lagi jelas, Qnet bukan penipuan.

Itulah sedikit banyak yang saya tahu tentang Qnet. Pun begitu, saya tidak bermaksud memihak manapun. Saya juga tidak bermaksud merekomendasikan anda untuk join, dan memang saya pun tidak join. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, saya hanya mencoba mengulas fakta seputar perusahaan Qnet dan produknya, agar kita dapat menyimpulkan apakah mereka memang perusahaan penipu atau tidak.

Mungkin akan ada yang bertanya, lantas mengapa banyak orang (khususnya di Indonesia) yang merasa tertipu bergabung di Qnet? Mengapa orang banyak yang merasa jijik bahkan alergi ketika mendengar nama Qnet? Apa yang salah? Saya akan coba bahas pada artikel selanjutnya. Tetep pantengin blog ini, K?

Punya pandangan lain mengenai Qnet? atau cerita pengalaman pribadi? Ayo share dibawah! :)

Rabu, 24 Juni 2015

Angeline, kamu lebih baik mati...

Angeline, nama yang begitu cantik, secantik paras seorang gadis kecil tak berdosa yang kini telah bersama Sang Pencipta.



Saat ini, seharusnya menjadi saat dimana engkau mulai menikmati setiap hembusan nafasmu. Hidupmu seharusnya sama layaknya anak kecil yang sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak. Masa dimana dunia hanyalah sebuah tawa tanpa paksaan. Dimana kebahagiaan terkandung dalam kepolosan. Masa yang seharusnya menjadi bagian terindah dari setiap kehidupan.

Ketika roda kehidupanmu mulai jauh berputar, seorang Angeline harusnya tiba pada masa dimana ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, yang memikat hati para kaum adam. Masa dimana ia akan merasakan betapa indahnya sebuah masa. Masa dimana kamu merasakan hangatnya kasih sayang seorang pria. Masa dimana kamu juga akan merasa bahagia, cemburu, kecewa, sakit hati, yang semuanya berpadu dalam sebuah rasa yang diberi nama 'Cinta'.

Ketika langkah kakimu mulai jauh melintasi waktu, meninggalkan masa kanak-kanakmu dan memasuki usia dewasa, Angeline yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa tentunya akan mulai berpikir untuk memiliki seorang pendamping hidup, bersama seorang lelaki yang baik, guna melanjutkan kisah bahagia hidupnya. Segala impian pun pasti mulai terbayang dibenaknya. Sebuah keluarga yang harmonis. Yang kemudian memiliki anak. Dimana sebuah kehidupan baru terlahir membawa darah mereka. Ya, begitulah roda kehidupan Angeline terjadi seharusnya.

Kenyataannya, dunia jauh lebih kejam dari yang kita tahu, bahkan tanpa pandang bulu. Angeline si gadis kecil tak berdosa yang cantik itu harus merasakan bagaimana pahitnya kehidupan. Angeline yang seharusnya merasakan hidup yang layak seperti anak-anak seusianya, nyatanya harus berakhir dengan tragis.

Kehidupan layak yang seharusnya didapat nyatanya tak akan pernah lagi ia terima. Seorang Angeline yang tak berdosa harus merasakan bagaimana disiksa sedemikian rupa. Siksaan demi siksaan datang bertubi-tubi, tanpa mengiba kepada Angeline sang bocah belia. Angeline kecil pun harus kuat menghembuskan nafas terakhirnya dengan cara yang sadis. Boneka menjadi teman terakhirnya menghadap Sang Khalik, sekaligus menjadi saksi bisu ketika ia harus merintih dalam tangis.

Jika melihat kenyataan yang ada, sepertinya kematian adalah jalan terbaik untukmu. Angeline, kamu lebih baik mati. Ya, kamu lebih baik mati. Mati meninggalkan segala derita. Mati meninggalkan ibu tirimu yang lebih kejam dari ibu kota. Mati dari kehidupan dunia yang penuh siksa, untuk kemudian memasuki alam dimana kebahagiaan adalah kekal abadi. Tanpa ada tangis, tanpa ada air mata.

Beruntungnya, Tuhan Maha baik. Ia tak tahan terus menerus melihat gadis kecilnya yang cantik itu terus menerus menahan derita. Sudah cukup segala siksaan yang selama ini ia rasakan, hingga Tuhan pun mengambil jiwanya untuk dibawa kepangkuannya. Untuk melepaskan segala rasa sakit yang selama ini diterima. Untuk menghapuskan air mata yang selama ini membasahi pipinya yang lembut. Untuk mengusap rambutnya yang indah. Untuk mencium lembut keningnya. Sehingga kemudian gadis kecil itu tahu, bahwasanya ia tidak sendiri. Bahwasanya Tuhan, dengan kekuatan yang maha Agung begitu mengasihi dan mencintainya.

Selamat jalan, Angeline. Bersukacitalah karena engkau telah bersama-sama dengan Tuhan. Sekali lagi, selamat jalan...

Kamis, 11 Juni 2015

Kepergian Angeline, pelajaran bagi kita semua

Indonesia sedang dilanda kabar duka. Adalah Angeline, seorang bocah berumur 8 tahun, yang harus pergi dengan cara yang tidak manusiawi, oleh orang-orang yang buta karena keserakahan. Tentunya hal ini menjadi sebuah kesedihan bagi siapapun yang mendengar kabarnya. Dan tentunya juga, menimbulkan rasa geram dan kemarahan.

Angeline, seperti yang kita tahu, adalah seorang anak perempuan yang dikabarkan hilang sejak Mei silam. Berbagai pemberitaan media membuat seluruh Indonesia mengetahui hal ini. Tentunya menarik banyak simpati. Disisi lain, juga menimbulkan kecurigaan, ketika melihat sikap ibu angkatnya yang kabarnya berusaha menghalang-halangi siapa saja untuk masuk kerumahnya.

Kini, semua jelas. Angeline bukan hilang, namun dibunuh, bahkan dengan cara yang sangat keji, apalagi dilakukan kepada seorang anak kecil berusia 8 tahun. Sang ibu kandung Angeline pun hanya bisa pasrah, mengetahui anaknya harus mati ditangan sang ibu angkatnya. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Orang yang ia percaya untuk mengadopsi justru memanfaatkan kepercayaannya itu.

Pelajaran bagi setiap pasangan
Sebuah pelajaran berharga, bagi kita semua, terutama para pasangan suami istri, untuk lebih memikirkan matang-matang sebelum berencana punya anak. Memikirkan matang-matang dalam arti menimbang, 'apakah kami sudah cukup siap memiliki anak?'

Tentunya ini menyangkut banyak hal. Baik secara karakter, juga finansial. Banyak orang terbentur pada finansial. Oleh sebab itu, sebelum punya anak, pastikan anda memiliki ekonomi yang cukup untuk membiayai kebutuhannya. Jika tidak, lebih baik tidak usah punya anak.

Pelajaran bagi setiap orang, untuk lebih peka melihat keadaan sosial disekitarnya
Sebagai makhluk sosial, tentunya kita harus peka dengan kondisi disekitar kita. Baik itu dirumah, disekolah, bahkan ditempat kerja. Tetangga sekitar rumah Angeline mengaku, setiap malam mendengar suara tangisan anak tersebut. Seharusnya ini sudah cukup bagi mereka untuk 'memaksakan diri' mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mengapa anak itu terdengar menangis setiap malam?

Apalagi ketika mengetahui sikap ibu angkat Angeline yang begitu tertutup kepada masyarakat dilingkungannya. Dari situ kita bisa menilai, ada sesuatu yang tidak beres. Sehingga tidak masalah jika mereka berusaha untuk mencaritahu apa yang sedang terjadi

Intinya, setiap pasangan suami istri, persiapkan dirimu sebaik mungkin sebelum memiliki atau bahkan menambah anak. Begitu juga menjadi pelajaran kepada kita semua, untuk lebih peka terhadap lingkungan sosial kita, terutama dalam hal bertetangga. Harapannya, semoga kedepannya tidak ada lagi anak-anak yang harus bernasib sama seperti Angeline.

Selamat jalan Angeline, berbahagialah karena engkau telah tenang disisiNya. Tuhan memberkati.