Rabu, 24 Juni 2015

Angeline, kamu lebih baik mati...

Angeline, nama yang begitu cantik, secantik paras seorang gadis kecil tak berdosa yang kini telah bersama Sang Pencipta.



Saat ini, seharusnya menjadi saat dimana engkau mulai menikmati setiap hembusan nafasmu. Hidupmu seharusnya sama layaknya anak kecil yang sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak. Masa dimana dunia hanyalah sebuah tawa tanpa paksaan. Dimana kebahagiaan terkandung dalam kepolosan. Masa yang seharusnya menjadi bagian terindah dari setiap kehidupan.

Ketika roda kehidupanmu mulai jauh berputar, seorang Angeline harusnya tiba pada masa dimana ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, yang memikat hati para kaum adam. Masa dimana ia akan merasakan betapa indahnya sebuah masa. Masa dimana kamu merasakan hangatnya kasih sayang seorang pria. Masa dimana kamu juga akan merasa bahagia, cemburu, kecewa, sakit hati, yang semuanya berpadu dalam sebuah rasa yang diberi nama 'Cinta'.

Ketika langkah kakimu mulai jauh melintasi waktu, meninggalkan masa kanak-kanakmu dan memasuki usia dewasa, Angeline yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa tentunya akan mulai berpikir untuk memiliki seorang pendamping hidup, bersama seorang lelaki yang baik, guna melanjutkan kisah bahagia hidupnya. Segala impian pun pasti mulai terbayang dibenaknya. Sebuah keluarga yang harmonis. Yang kemudian memiliki anak. Dimana sebuah kehidupan baru terlahir membawa darah mereka. Ya, begitulah roda kehidupan Angeline terjadi seharusnya.

Kenyataannya, dunia jauh lebih kejam dari yang kita tahu, bahkan tanpa pandang bulu. Angeline si gadis kecil tak berdosa yang cantik itu harus merasakan bagaimana pahitnya kehidupan. Angeline yang seharusnya merasakan hidup yang layak seperti anak-anak seusianya, nyatanya harus berakhir dengan tragis.

Kehidupan layak yang seharusnya didapat nyatanya tak akan pernah lagi ia terima. Seorang Angeline yang tak berdosa harus merasakan bagaimana disiksa sedemikian rupa. Siksaan demi siksaan datang bertubi-tubi, tanpa mengiba kepada Angeline sang bocah belia. Angeline kecil pun harus kuat menghembuskan nafas terakhirnya dengan cara yang sadis. Boneka menjadi teman terakhirnya menghadap Sang Khalik, sekaligus menjadi saksi bisu ketika ia harus merintih dalam tangis.

Jika melihat kenyataan yang ada, sepertinya kematian adalah jalan terbaik untukmu. Angeline, kamu lebih baik mati. Ya, kamu lebih baik mati. Mati meninggalkan segala derita. Mati meninggalkan ibu tirimu yang lebih kejam dari ibu kota. Mati dari kehidupan dunia yang penuh siksa, untuk kemudian memasuki alam dimana kebahagiaan adalah kekal abadi. Tanpa ada tangis, tanpa ada air mata.

Beruntungnya, Tuhan Maha baik. Ia tak tahan terus menerus melihat gadis kecilnya yang cantik itu terus menerus menahan derita. Sudah cukup segala siksaan yang selama ini ia rasakan, hingga Tuhan pun mengambil jiwanya untuk dibawa kepangkuannya. Untuk melepaskan segala rasa sakit yang selama ini diterima. Untuk menghapuskan air mata yang selama ini membasahi pipinya yang lembut. Untuk mengusap rambutnya yang indah. Untuk mencium lembut keningnya. Sehingga kemudian gadis kecil itu tahu, bahwasanya ia tidak sendiri. Bahwasanya Tuhan, dengan kekuatan yang maha Agung begitu mengasihi dan mencintainya.

Selamat jalan, Angeline. Bersukacitalah karena engkau telah bersama-sama dengan Tuhan. Sekali lagi, selamat jalan...

0 komentar:

Posting Komentar