Senin, 10 Oktober 2016

Apakah Pemerintah Indonesia sudah memanfaatkan kekayaan alam dengan baik?

Pertanyaan yang jawabannya bisa sangat-sangat panjang. Menurut teman-teman sendiri, bagaimana? Apakah Pemerintah Indonesia sudah memanfaatkan kekayaan alam dengan baik?




Kalau menurut pendapat saya pribadi, sudah dimanfaatkan, hanya masih kurang baik. Atau lebih tepatnya, belum dimanfaatkan dengan baik. Mengapa demikian?

Jawabannya, karena masih banyak kekayaan alam Indonesia yang justru jatuh kepada pihak asing.

Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan kekayaan alamnya. Hal ini diakui oleh dunia. Bahkan jika kita melihat sejarah, kita akan menemukan betapa Indonesia ini merupakan "lahan subur" yang menjadi rebutan negara-negara lain ketika itu.

Saking besarnya, jika dikelola dengan benar-benar maksimal, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara yang sangat sangat kaya. Betapa tidak, begitu berlimpah kekayaannya. Mulai dari emas, minyak, gas alam, batu bara, hampir semuanya ada.

Sayangnya, masih banyak kekayaan sumber daya alam Indonesia yang justru dikelola oleh pihak asing. Contoh yang paling kita ketahui bersama adalah emas di Papua yang justru dikelola oleh Freeport.



Tidak hanya itu, masih banyak masyarakat kita yang mengalami krisis air bersih. Lucunya, mereka tinggal di wilayah yang notabene-nya memiliki air berlimpah. Lantas mengapa mereka bisa mengalami krisis? Karena pengelolaannya dikuasai pihak asing yang mengeruk tanpa memikirkan masyarakat sekitar.

Karenanya, sudah seharusnya kita para generasi muda untuk mulai berpikir kedepan bagaimana caranya agar kekayaan alam kita benar-benar bisa kita kuasai sendiri.

Jumat, 23 September 2016

Sudah selayaknya bank menyediakan 'fasilitas khusus' bagi nasabah dengan 'fisik khusus'

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang lelaki yang memiliki tinggi badan sangat rendah (berbadan mini atau biasa disebut cebol) kerap kali kesulitan ketika hendak menggunakan ATM. Ia selalu meminta bantuan satpam untuk menggendong badannya, karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan ia untuk memakai ATM layaknya orang-orang pada umumnya.




Mendengar cerita itu, saya mulai membayangkan bagaimana perasaan si lelaki tadi. Pasti ia akan merasa sedikit kecil hati, kecut, bahkan mungkin ada perasaan 'sepertinya aku ditertawakan yah', karena untuk menggunakan ATM pun ia harus meminta bantuan orang lain. Apalagi mengingat saya yang tinggi badan yang sebenarnya masih cukup lumayan (160cm) ini saja masih sering ditertawakan dengan ucapan 'pendek kali badanmu!'

Dari situ, saya mulai berpikir, barangkali pihak bank sudah perlu memberikan semacam fasilitas khusus untuk para nasabah yang mungkin memiliki kekurangan fisik, khususnya dalam hal ini tinggi badan. Fasilitas tersebut bisa berupa tangga mini yang dibuat dari bahan ringan yang selalu stand-by 24 jam didalam ATM. Sehingga setiap kali lelaki tadi ingin menggunakan ATM, ia tinggal menarik tangga tersebut dan memakainya. Bahkan bila perlu diberikan roda dibawahnya, sehingga bisa dengan mudah dipindahkan.

Saya sangat yakin keberadaan fasilitas seperti itu akan sangat membantu mereka yang memiliki kekurangan fisik tadi untuk tetap bisa mengoperasikan ATM layaknya orang-orang normal lainnya tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Tidak hanya itu, saya juga yakin keberadaan fasilitas tersebut dapat dibuat dalam rangka memberikan rasa hormat kepada mereka-mereka tadi. Sehingga akan memperlihatkan bahwasanya Bank menghormati semua nasabahnya tanpa melihat status, golongan, bahkan fisik.

Dengan begitu, ini bukan hanya membantu mereka secara teknis (mempermudah penggunaan ATM), tapi juga secara tidak langsung memberikan dukungan secara 'moril'. "Baik banget ya bank masih mikirin orang-orang seperti saya sampai-sampai mau buat beginian". Mereka pasti akan berpikir demikian.

Sebagai penutup, saya berharap suatu saat tulisan ini dibaca oleh mereka-mereka yang memiliki kewenangan tinggi dibank tempat bekerja masing-masing, dan dapat mempertimbangkannya, serta kemudian merealisasikannya. Sehingga kedepan, setiap nasabah bisa menggunakan ATM dengan baik, tidak perduli kondisi fisiknya seperti apa.

Mari mulai menunjukkan bahwasanya bank menghormati dan merangkul semua nasabahnya tanpa melihat status, golongan, bahkan fisiknya.

Rabu, 14 September 2016

Diam itu nikmat, tapi...

Jika kita mencoba melihat dunia sekitar kita dengan lebih jelas, pastinya kita akan menemukan sangat banyak sekali masalah. Entah itu masalah ekonomi, masalah pangan, masalah keluarga, masalah politik, dan masih banyak lagi. Mungkin secara spesifik kita akan menemukan permasalahan dimana banyak terjadi kelaparan, atau bahkan mungkin menemukan permasalahan dimana banyak pejabat yang korupsi.

Tentunya, jika  ada masalah, ada solusi. Sebagaimana sabda nabi, setiap penyakit pasti ada obatnya, demikian pula masalah. Setiap masalah pasti ada solusinya. Hanya saja, pertanyaannya sekarang adalah: apakah solusi itu dilakukan?

Mungkin tanpa kita sadari, sesungguhnya berbagai permasalahan yang ada disekitar kita saat ini secara tidak langsung disebabkan oleh diri kita sendiri. Barangkali anda akan tersinggung jika dikatakan demikian, namun saya pikir ini fakta yang tak terelakkan, yang mana juga menjadi koreksi bagi diri saya sendiri khususnya.

Coba kita merenungi, apakah masalah yang kita lihat saat ini telah mendorong kita untuk melakukan sesuatu? Apakah masalah yang terlihat selama ini telah menjadi beban bagi pikiran kita untuk do something

Kenyaannya, banyak diantara kita yang lebih memilih untuk menjadi penonton. Kita terus menjadi penonton ketika melihat berbagai permasalahan. Diibaratkan bioskop yang menayangkan drama kehidupan, maka kita adalah penonton setianya. Kita terus menyaksikan dan hanya menyaksikan, tanpa terdorong untuk berbuat sesuatu. Singkatnya, banyak diantara kita yang lebih memilih diam.

Memang harus diakui, diam itu sangat nikmat. Sangat-sangat nikmat. Apalagi ketika kita sudah berada pada posisi yang nyaman bagi kita. Misalkan ketika bisnis kita lancar, ketika pekerjaan kita tidak ada hambatan, atau ketika uang mengalir kekantong kita dengan begitu deras. Jika sudah demikain, biasanya kita akan merasa dunia begitu indah, semua masalah hilang, dan kita pun akan mengambil posisi 3D, yaitu Duduk, Diam, Dengar. Kita akan menutup mata dengan semua yang terjadi disekitar kita. Tanpa kita sadari, sikap diam yang kita ambil turut berperan penting dalam memuluskan setiap masalah terjadi.

Ketika rumah tetangga sebelah dijarah maling, sikap diam kita secara tidak langsung telah membantu memuluskan maling tersebut melakukan aksinya.

Ketika melihat pejabat bertindak sesukanya dan kita mengambil sikap diam, secara tidak langsung kita sudah sama dengan membantu memuluskan aksi para pejabat tersebut, tanpa menyadari dampak buruknya buat masyarakat banyak, terutama golongan ekonomi mengenah kebawah. Secara tidak langsung kita sudah turut membantu menyengsarakan masyarakat banyak tersebut.

Masih banyak sangat banyak contoh yang membuktikan betapa sikap diam bukan pilihan yang tepat, ketika pada situasi dimana kita memang harus bicara.

Sudah selayaknya kita siap berbicara dan bertindak kapan saja diperlukan. Ketika melihat suatu masalah, sudah selayaknya kita mengambil tindakan, sekalipun mungkin dapat merusak citra diri dan membuat orang-orang menjadi kurang suka kepada kita.

Proteslah ketika harus protes. Tidak usah perdulikan orang-orang sekitar yang menilaimu. Mereka hanyalah para audiens dalam sebuah pertunjukan, yang hanya bisa menyaksikan dan menilai, tanpa memberikan dampak apapun. Jadi tetaplah bersuara, dan utarakan semua kebenaran yang engkau amini.

Sebagai penutup, saya sangat menyukai kutipan yang sering dilontarkan oleh Tokoh Pendidikan kita, Anies Baswedan.


Sabtu, 27 Agustus 2016

Persaingan yang tidak merata, PR untuk panitia FLS2N

Festival Lomba Seni Siswa Nasional, atau biasa disingkat dengan FLS2N, adalah sebuah ajang tahunan yang diadakan dalam rangka menonjolkan bakat para siswa akademik, khususnya dibidang seni. Seni tersebut tentunya meliputi berbagai macam, mulai dari olah vokal, kemampuan bermusik, kemampuan melukis, dan masih banyak lagi.

Sumber foto: Indragiri.click


Saya sendiri sudah dua tahun terakhir ini terlibat dalam kegiatan tahunan ini, dimana saya terlibat menulis aransemen dan melatih grup paduan suara SD dimana saya menghabiskan masa kecil. Dalam hal ini saya tidak sendiri, karena masih ada beberapa pelatih yang juga ikut melatih.

Saya diajak bukan karena saya hebat tentunya. Karena beruntung saja masih ada yang mau ajak saya hehehe. Kalau bicara skill, masih banyak yang jauh lebih hebat, hanya saja mungkin tak terlalu berminat untuk terlibat.

2 tahun mengikuti FLS2N, tentunya banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Begitupun teman-teman baru, mulai dari yang cantik bahkan sampai yang cantik banget hehehe.

Bicara lebih mendalam soal FLS2N, menurut saya ada sedikit perbaikan yang perlu dilakukan, khususnya dalam hal ini dibidang paduan suara tingkat SD. Yang mana perbaikan tersebut bertujuan agar kompetisi ini terasa lebih sehat dan fair

Tentunya tidak bermaksud mengatakan FLS2N tahun-tahun sebelumnya tidak fair. Sesungguhnya sudah fair, hanya saja mungkin agar lebih fair lagi, gitu loch hehehe.


Permainan lapangan yang tidak merata

Dari tahun ketahun, sepertinya yang juara itu-itu saja. Awalnya mungkin kelihatan hebat, karena sepertinya sang juara pasti berjuang begitu keras untuk mempertahankan posisinya. Namun setelah saya coba lihat lebih jauh, sepertinya ada hal yang mendasari mengapa itu terjadi.

Permainan lapangan yang tidak merata, itulah yang sekarang menurut saya sedang terjadi. Ada sebuah selisih yang begitu jauh antara sekolah mampu dan sekolah kurang mampu, layaknya jurang yang dalam. 

Alhasil, mereka yang juara akan terus juara, dan yang kalah akan terus kalah. Padahal kalau bicara kualitas murid, barangkali ada beberapa yang mungkin bisa menyaingi, dan berpeluang menggeser posisi juara bertahan.

Saya tentunya tidak bermaksud untuk meragukan kualitas sekolah yang diposisi juara. Betul, setiap sekolah meraih juara tidak terlepas dari usaha jerih payah mereka.

Namun perlu diketahui juga, ada beberapa sekolah yang sebenarnya memiliki kualitas namun tidak ditopang dengan pelatih yang mumpuni. Sehingga taringnya tak terlalu tampak ketika turun berkompetisi dilapangan. 

Saya melihat ada satu dua sekolah yang sebenarnya mampu secara kualitas. Mereka dipenuhi dengan anak-anak yang memiliki kemampuan cukup baik dibidang olah vokal. Namun ketika tidak ditopang dengan pelatih yang sesuai, maka hasil output-nya pun tidak dapat diandalkan untuk bersaing dengan sekolah lain.

Andaikan mereka mendapatkan pelatihan yang baik, bukan tidak mungkin mereka mampu menggeser posisi juara bertahan. Atau paling tidak membuat persaingan menjadi lebih seru, karena setiap sekolah memiliki taring yang hampir sama tajamnya.

Persaingan yang tidak merata ini, menurut saya didasari oleh dua hal yang perlu mendapat perbaikan, yaitu:

  1. Kekuatan finansial yang tidak merata

    Jika kita melakukan survey mengenai kemampuan masing-masing sekolah, tentunya kita akan mendapati bahwasanya setiap sekolah memiliki kemampuan finansial yang beragam. Beberapa mungkin memiliki cukup uang untuk membayar guru-guru hebat. Namun sebaliknya, sebagian besar banyak yang sepertinya kekurangan dana untuk menyewa pelatih yang kompeten.

    Menurut saya, inilah salah satu hal yang menyebabkan mengapa sepertinya hanya segelintir dan itu-itu saja yang mendapat posisi. Karena sejauh ini hanya mereka yang mampu membayar pelatih berkompeten.

    Solusinya, barangkali pihak penyelenggara perlu melakukan semacam bantuan dana, khususnya bagi sekolah-sekolah yang boleh digolongkan sebagai 'kurang mampu' secara dana. Bila perlu dibuat semacam patungan dana dari sekolah-sekolah mampu, lalu dana tersebut disebar merata ke sekolah-sekolah kurang mampu untuk mereka alokasikan menyewa pelatih kompeten.

    Harapannya, tentunya tidak akan ada lagi sekolah yang tidak punya pelatih kompeten, karena semua mampu menyewa jasa pelatih. Dengan demikian, potensi anak didik pun benar-benar digali dengan maksimal, alhasil persaingan pun bisa menjadi lebih sengit dan pertarungan pun menjadi lebih seru.

  2. Penyebaran pelatih yang tidak merata

    Seperti yang saya sebutkan pada paragraf awal, saya melatih tidak sendiri. Ada beberapa pelatih yang juga membantu. Nah, inilah hal yang juga memiliki keterkaitan dengan poin sebelumnya, yang menurut saya perlu mendapat perbaikan.

    Saat ini tidak hanya kekuatan finansial yang perlu dibuat merata, namun juga penyebaran pelatih. Karena yang terjadi adalah, pelatih tidak tersebar merata kesetiap sekolah-sekolah. Apa dampaknya?

    Dampaknya kembali lagi, yaitu persaingan akan tetap tidak rata. Karena ada satu sekolah yang bisa sewa 4 pelatih untuk melatih 4 bidang. Dua untuk olah vokal, satu untuk menulis aransemen, dan satu untuk koreografi. Akibatnya, sekolah lain seperti 'kehabisan pelatih', karena stock pelatih sudah diborong semua oleh satu dua sekolah..

    Solusinya, menurut saya tidak cukup hanya pemerataan dana saja, tapi juga pemerataan penyebaran pelatih. Caranya dibuat peraturan yang isinya membatasi jumlah pelatih dalam satu sekolah.

    Jadi, hendaklah sebaiknya setiap sekolah memiliki hanya satu pelatih. Atau sebanyak-banyaknya dua. Jadi satu untuk olah vokal, satu untuk menulis aransemen misalnya. Jangan lebih. Sehingga ini bisa mencegah hal yang terjadi selama ini, dimana ada banyak pelatih yang hanya berkumpul disatu sekolah. Hendaknya mereka tersebar diberbagai sekolah.


Inti dari tulisan ini tentu bukan bermaksud mengatakan bahwa kompetisi ini tidak fair, atau bahkan bermaksud untuk tidak mengakui kehebatan lawan. Bukan! Harapannya, tentu dua hal yang menjadi penyebab tidak meratanya persaingan dapat segera diperbaiki.

Dengan begitu, diharapkan sekolah-sekolah yang punya potensi terpendam selama ini dapat menggali semua bakatnya dan mampu bersaing secara kualitas dengan sekolah-sekolah lain dan membuat persaingan semakin sengit.

Jika sudah demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa posisi sang juara bertahan bisa digeser. Atau paling tidak membuat posisi 2 dan 3 dan seterusnya bisa lebih bervariasi, tidak terkesan 'itu-itu saja'.

Disisi lain, tentunya menjadi ajang pembuktian bagi sang juara bertahan untuk menunjukkan betapa mereka memang menang karena kualitas, bukan semata-mata karena persaingan yang tak imbang tadi.

Dengan begitu, diharapkan persaingan dilapangan bisa semakin ketat, sehingga pertarungan pun akan menjadi lebih seru. Tingkat kesulitan dan persaingan diajang FLS2N kedepannya-pun pasti bisa mencapai mode 'very hard'.

Apakah yang lebih seru dalam bermain game selain bisa mengalahkan level 'very hard?'

Semoga FLS2N yang akan datang terus mengalami perbaikan dan menjadi lebih baik dari tahun ketahun.

Kamis, 25 Agustus 2016

Sebanding ga sebanding tetap tanding, itu baru FEARLESS!

Mungkin beberapa dari anda pernah melihat salah satu iklan Extra Joss, dimana dalam iklan tersebut ada adegan ketika sekelompok preman mengganggu seorang anak muda. Kemudian anak muda itu memilih untuk tidak melawan, dan memutuskan untuk membalasnya di ring tinju



Iklan ini cukup menarik karena mengajarkan kita khususnya kaum Adam untuk tidak takut pada siapapun. Dan mungkin satu lagi, mengajarkan kita untuk menyeselesaikan masalah secara jantan. Artinya, kalau misalnya memang harus kelahi, ya kelahi dengan cara yang benar dan sportif. Contohnya bertarung di ring tinju.

Namun, ada satu hal yang rasanya agak kurang pas, yaitu slogan yang ditonjolkan, "LAKI TANDING KALAU SEBANDING!", kemudian dilanjutkan dengan "LAKI FEARLESS!"

Saya merasa ada 2 hal yang mengganggu.


Pertama, dikatakan "LAKI TANDING KALAU SEBANDING".



Menurut saya seorang laki-laki itu tidak perlu lihat sebanding atau tidak sebanding. Kalau memang harus bertarung, yasudah mari fight. Mau lawannya sebesar gajah, pokoknya kalau memang harus fight ya mari fight.

Jika harus lihat sebanding atau tidak, maka akan bahaya. Misalkan ibu saya diserang secara fisik oleh seseorang tepat didepan mata kepala saya, haruskah saya diam tidak melawan karena melihat lawannya tak sebanding?


Kedua, dikatakan "LAKI FEARLESS!"



Slogan LAKI FEARLESS itu rasanya tidak sejalan dengan slogan sebelumnya. Karena fearless itu berarti tidak takut apapun. Sedangkan pada bagian pertama jelas dikatakan, "LAKI TANDING KALAU SEBANDING", berarti kalau gak sebanding gak tanding dong. Kalau gak tanding berarti masih ada rasa takut dong? Padahal arti fearless itu jelas, yaitu tidak takut apapun, siapapun dalam kondisi bagaimanapun.

Contohnya, misalnya ibu saya diserang oleh seseorang didepan saya, maka tanpa berpikir panjang saya akan langsung hadapi dia. Jadi tidak melihat lagi lawannya sebanding atau tidak. Ketika memang harus tanding, langsung saja fight!


Oleh karena itu menurut saya kurang tepat slogan yang dijagokan.

Berhubung masih suasana kemerdekaan, saya mau kaitkan sedikit. Kalau harus menunggu sebanding, mungkin dulu para pahlawan kita takkan pernah berani melawan penjajah. Kenapa? Karena tidak sebanding! Dari segi jumlah, amunisi senjata, bahkan tingkat kecerdasan. Tapi karena mereka memiliki jiwa "FEARLESS" yang sesungguhnya, maka hari ini kita dapat menikmati negara yang merdeka dari penjajah.


Jepang bermodal senjata api, Indonesia bermodal bambu. Sebanding gak sebanding, laki tetap tanding! Ini baru FEARLESS!


Jadi ya, intinya menurut saya slogannya harus diperbaiki, menjadi "SEBANDING GAK SEBANDING, LAKI TANDING!", baru tepat dilanjutkan dengan "LAKI FEARLESS!".

Jadi tidak ada lagi istilah 'kalau'. Kalau ini, kalau itu.

Sebanding gak sebanding, LAKI TANDING! LAKI FEARLESS!

Sabtu, 30 Juli 2016

Cara Mengurangi Konten Negatif di Instagram

Tepatnya kemarin, saya memposting artikel yang menjelaskan betapa Instagram sudah tak sehat untuk diakses anak-anak. Mengapa? Karena sudah banyaknya posting acak yang muncul, yang kebanyakan berisi gambar-gambar kurang pantas.

Ada yang mengatakan gambar ini muncul karena user itu sendiri yang berinteraksi dengan gambar tersebut. Mungkin ada benarnya, namun alasan yang lebih tepat adalah karena kemunculannya yang sifatnya 'acak'. Apalagi jika akun IG tersebut berteman dengan akun lain yang aktif meng-like ataupun mengomentari gambar-gambar tersebut. Awalnya mungkin hanya muncul satu. Namun karena dilihat, akhirnya muncul sampai banyak.

Konten tersebut mungkin tidak terlalu bermasalah bagi orang dewasa, karena kebanyakan sudah cukup mengerti baik buruknya. Yang menjadi masalah adalah jika yang mengaksesnya anak-anak. Karena kebanyakan diantara mereka masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ditambah lagi belum menyadari betul dampak dan bahayanya. Yang terpikir barangkali hanya "wah ini sepertinya mengasyikkan ya!", tanpa bertanya dari sisi yang lain, "apakah ini berbahaya untuk saya?"



Bagi sebagian orang tua, mungkin sulit untuk melarang anak memainkan Instagram, karena beberapa mungkin memiliki sifat pelawan yang tinggi. Jika demikian, mungkin salah satu solusi yang tepat bagi anda adalah membersihkan akun-akun yang identik dengan konten dewasa. Solusi ini saya sebut "Piket Pembersihan".

Bagaimana caranya? Sangat gampang sekali. Berikut langkah singkatnya.

Pertama, buka Instagram anak ataupun adik kita. Buka dari mana? Tentu saja dari handphonenya. Hal ini tentu bisa dilakukan karena kita punya hak untuk memegang handphone mereka

Kedua, buka bagian 'kaca pembesar'.

Ketiga, lihat konten baik berupa gambar maupun video yang rasanya kurang pantas. Jika anda menemukan, klik pada posting tersebut.

Keempat, klik gambar "titik tiga" pada posting tersebut, kemudian klik "Lihat Kiriman yang Seperti Ini Lebih Sedikit".


Lakukan hal tersebut pada setiap konten dewasa yang muncul. Kemudian lihat perubahannya, Instagram anak anda akan cukup bersih dari gambar-gambar kurang pantas tersebut.



Lihat, akun IG saya sudah bersih dari gambar-gambar tersebut. Saya pikir hal yang sama-pun pasti akan terjadi dengan IG anak anda.

Sebagaimana judul artikel ini, saya pikir cara ini memang hanya mampu sebatas mengurangi, namun tak mampu menghilangkan secara total. Mungkin bisa saja besok satu atau dua gambar muncul lagi, karena sebagian teman-temannya berinteraksi dengan posting-posting tak baik tersebut. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah dengan rutin melakukan 'piket pembersihan', setidaknya 3 kali seminggu.

Semoga cara ini cukup ampuh untuk mengurangi kemungkinan anak ataupun adik-adik kita melihat gambar yang kurang pantas.

Sebenarnya ada cara yang lebih ampuh agar mereka terhindar dari gambar-gambar tersebut, yaitu dengan mengurangi aksesnya ke dunia maya. Larang mereka main IG, bila perlu larang mereka menggunakan handphone dengan akses internet. Toh, sesungguhnya mereka memang tidak memerlukannya, bukan?

Jumat, 29 Juli 2016

Kalian terlalu sibuk dengan Pokemon Go, padahal Instagram-lah bahaya sesungguhnya

Saya tergerak menulis ini ketika melihat orang-orang begitu banyak membahas bahaya bermain Pokemon Go bagi anak. Saya bukannya penggemar, karena saya juga tidak pernah memainkannya. Bahkan sebenarnya saya pengguna Instagram yang cukup aktif. Hanya saja lucu bagi saya, melihat orang-orang yang mengklaim bahaya Pokemon untuk anak-anak. Padahal, menurut saya Instagram jauh lebih berbahaya saat ini. Yang menyedihkan, sepertinya banyak orang tidak menyadarinya.


Saya adalah termasuk orang yang aktif bermain media sosial. Entah itu untuk menghilangkan suntuk, ataupun berbagi cerita dengan teman-teman. Dan salah satu yang saat ini cukup saya gemari adalah Instagram.

Saya boleh dikatakan cukup sering bermain Instagram. Menurut saya ini media sosial yang pas untuk mereka yang suka berbagi cerita didunia maya namun memiliki handphone dengan spesifikasi minim, ditambah budget terbatas untuk kuota. :'D



Aplikasi Instagram memang termasuk yang paling ringan jika dibandingkan aplikasi medsos lainnya, seperti Facebook, Twitter. Apalagi jika dibandingkan dengan Path, menurut saya Instagram jauh lebih ringan. Disamping itu, kuota untuk mengaksesnya juga tidak terlalu besar

Namun belakangan ini, saya agak sedikit merasa tidak nyaman bermain Instagram. Setidaknya untuk membuka lambang kaca pembesar yang ada di Instagram, saya merasa enggan. Kenapa?

Alasannya, karena sudah semakin banyaknya konten-konten baik berupa gambar maupun video yang mengandung unsur pornografi, yang dulunya sangat jarang ditemukan. Tentunya ini tidak baik untuk dilihat. Apalagi untuk anak dibawah umur, tentunya sangat tidak baik untuk dilihat.

Awalnya mungkin hanya satu atau dua gambar. Namun justru itu masalahnya. Anak-anak yang masih belum mengerti benar, ditambah dengan rasa penasaran yang tinggi tentu akan membuka gambar-gambar tersebut. Jika mereka membuka gambar itu, maka berikutnya bisa tampil lebih banyak gambar. Jika itu sudah terjadi, maka bisa-bisa isi IG mereka akan jadi seperti pada gambar dibawah ini.



Kabar gembira! IG dapat dibersihkan dari gambar-gambar negatif!

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Saat ini, sudah banyak sekali pemilik akun instagram yang tanpa malu menampilkan pose dirinya dengan gaya yang tentunya sangat tidak pantas untuk dilihat, apalagi jika dilihat oleh anak-anak. Tidak hanya itu, banyak juga akun-akun pornografi berkedok humor. Bungkusnya humor, tapi ketika dlihat, ternyata sangat banyak humor yang sifatnya menjurus.

Dari situ saya mulai berpikir, bahwasanya Instagram tak baik untuk digunakan oleh anak-anak. Alasannya jelas, karena banyaknya konten dewasa yang sangat gampang sekali untuk dibuka. Tidak ada batasan sama sekali.

Hal ini tentunya mengerikan, mengingat saat ini anak usia SD pun sudah banyak yang bermain Instagram.

Jadi, jika anda sering memberikan gadget kepada anak-anak anda, mulai sekarang sepertinya harus dikurangi. Begitupun jika anda mempunyai adik yang masih dibawah umur namun cukup aktif menggunakan Instagram, sepertinya harus mulai dilarang, atau diberi pencerahan. Karena anak-anak dibawah umur, terutama yang sedang melewati masa-masa puber sangat rentan dengan konten-konten seperti ini.

Mari, sebagai orang tua yang baik, awasi anak-anak anda. Dan sebagai kakak yang baik, awasi adik-adik kita. Agar kelak mereka bisa menjadi generasi yang sehat baik jasmani maupun rohani.