Sabtu, 30 Juli 2016

Cara Mengurangi Konten Negatif di Instagram

Tepatnya kemarin, saya memposting artikel yang menjelaskan betapa Instagram sudah tak sehat untuk diakses anak-anak. Mengapa? Karena sudah banyaknya posting acak yang muncul, yang kebanyakan berisi gambar-gambar kurang pantas.

Ada yang mengatakan gambar ini muncul karena user itu sendiri yang berinteraksi dengan gambar tersebut. Mungkin ada benarnya, namun alasan yang lebih tepat adalah karena kemunculannya yang sifatnya 'acak'. Apalagi jika akun IG tersebut berteman dengan akun lain yang aktif meng-like ataupun mengomentari gambar-gambar tersebut. Awalnya mungkin hanya muncul satu. Namun karena dilihat, akhirnya muncul sampai banyak.

Konten tersebut mungkin tidak terlalu bermasalah bagi orang dewasa, karena kebanyakan sudah cukup mengerti baik buruknya. Yang menjadi masalah adalah jika yang mengaksesnya anak-anak. Karena kebanyakan diantara mereka masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ditambah lagi belum menyadari betul dampak dan bahayanya. Yang terpikir barangkali hanya "wah ini sepertinya mengasyikkan ya!", tanpa bertanya dari sisi yang lain, "apakah ini berbahaya untuk saya?"



Bagi sebagian orang tua, mungkin sulit untuk melarang anak memainkan Instagram, karena beberapa mungkin memiliki sifat pelawan yang tinggi. Jika demikian, mungkin salah satu solusi yang tepat bagi anda adalah membersihkan akun-akun yang identik dengan konten dewasa. Solusi ini saya sebut "Piket Pembersihan".

Bagaimana caranya? Sangat gampang sekali. Berikut langkah singkatnya.

Pertama, buka Instagram anak ataupun adik kita. Buka dari mana? Tentu saja dari handphonenya. Hal ini tentu bisa dilakukan karena kita punya hak untuk memegang handphone mereka

Kedua, buka bagian 'kaca pembesar'.

Ketiga, lihat konten baik berupa gambar maupun video yang rasanya kurang pantas. Jika anda menemukan, klik pada posting tersebut.

Keempat, klik gambar "titik tiga" pada posting tersebut, kemudian klik "Lihat Kiriman yang Seperti Ini Lebih Sedikit".


Lakukan hal tersebut pada setiap konten dewasa yang muncul. Kemudian lihat perubahannya, Instagram anak anda akan cukup bersih dari gambar-gambar kurang pantas tersebut.



Lihat, akun IG saya sudah bersih dari gambar-gambar tersebut. Saya pikir hal yang sama-pun pasti akan terjadi dengan IG anak anda.

Sebagaimana judul artikel ini, saya pikir cara ini memang hanya mampu sebatas mengurangi, namun tak mampu menghilangkan secara total. Mungkin bisa saja besok satu atau dua gambar muncul lagi, karena sebagian teman-temannya berinteraksi dengan posting-posting tak baik tersebut. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah dengan rutin melakukan 'piket pembersihan', setidaknya 3 kali seminggu.

Semoga cara ini cukup ampuh untuk mengurangi kemungkinan anak ataupun adik-adik kita melihat gambar yang kurang pantas.

Sebenarnya ada cara yang lebih ampuh agar mereka terhindar dari gambar-gambar tersebut, yaitu dengan mengurangi aksesnya ke dunia maya. Larang mereka main IG, bila perlu larang mereka menggunakan handphone dengan akses internet. Toh, sesungguhnya mereka memang tidak memerlukannya, bukan?

Jumat, 29 Juli 2016

Kalian terlalu sibuk dengan Pokemon Go, padahal Instagram-lah bahaya sesungguhnya

Saya tergerak menulis ini ketika melihat orang-orang begitu banyak membahas bahaya bermain Pokemon Go bagi anak. Saya bukannya penggemar, karena saya juga tidak pernah memainkannya. Bahkan sebenarnya saya pengguna Instagram yang cukup aktif. Hanya saja lucu bagi saya, melihat orang-orang yang mengklaim bahaya Pokemon untuk anak-anak. Padahal, menurut saya Instagram jauh lebih berbahaya saat ini. Yang menyedihkan, sepertinya banyak orang tidak menyadarinya.


Saya adalah termasuk orang yang aktif bermain media sosial. Entah itu untuk menghilangkan suntuk, ataupun berbagi cerita dengan teman-teman. Dan salah satu yang saat ini cukup saya gemari adalah Instagram.

Saya boleh dikatakan cukup sering bermain Instagram. Menurut saya ini media sosial yang pas untuk mereka yang suka berbagi cerita didunia maya namun memiliki handphone dengan spesifikasi minim, ditambah budget terbatas untuk kuota. :'D



Aplikasi Instagram memang termasuk yang paling ringan jika dibandingkan aplikasi medsos lainnya, seperti Facebook, Twitter. Apalagi jika dibandingkan dengan Path, menurut saya Instagram jauh lebih ringan. Disamping itu, kuota untuk mengaksesnya juga tidak terlalu besar

Namun belakangan ini, saya agak sedikit merasa tidak nyaman bermain Instagram. Setidaknya untuk membuka lambang kaca pembesar yang ada di Instagram, saya merasa enggan. Kenapa?

Alasannya, karena sudah semakin banyaknya konten-konten baik berupa gambar maupun video yang mengandung unsur pornografi, yang dulunya sangat jarang ditemukan. Tentunya ini tidak baik untuk dilihat. Apalagi untuk anak dibawah umur, tentunya sangat tidak baik untuk dilihat.

Awalnya mungkin hanya satu atau dua gambar. Namun justru itu masalahnya. Anak-anak yang masih belum mengerti benar, ditambah dengan rasa penasaran yang tinggi tentu akan membuka gambar-gambar tersebut. Jika mereka membuka gambar itu, maka berikutnya bisa tampil lebih banyak gambar. Jika itu sudah terjadi, maka bisa-bisa isi IG mereka akan jadi seperti pada gambar dibawah ini.



Kabar gembira! IG dapat dibersihkan dari gambar-gambar negatif!

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Saat ini, sudah banyak sekali pemilik akun instagram yang tanpa malu menampilkan pose dirinya dengan gaya yang tentunya sangat tidak pantas untuk dilihat, apalagi jika dilihat oleh anak-anak. Tidak hanya itu, banyak juga akun-akun pornografi berkedok humor. Bungkusnya humor, tapi ketika dlihat, ternyata sangat banyak humor yang sifatnya menjurus.

Dari situ saya mulai berpikir, bahwasanya Instagram tak baik untuk digunakan oleh anak-anak. Alasannya jelas, karena banyaknya konten dewasa yang sangat gampang sekali untuk dibuka. Tidak ada batasan sama sekali.

Hal ini tentunya mengerikan, mengingat saat ini anak usia SD pun sudah banyak yang bermain Instagram.

Jadi, jika anda sering memberikan gadget kepada anak-anak anda, mulai sekarang sepertinya harus dikurangi. Begitupun jika anda mempunyai adik yang masih dibawah umur namun cukup aktif menggunakan Instagram, sepertinya harus mulai dilarang, atau diberi pencerahan. Karena anak-anak dibawah umur, terutama yang sedang melewati masa-masa puber sangat rentan dengan konten-konten seperti ini.

Mari, sebagai orang tua yang baik, awasi anak-anak anda. Dan sebagai kakak yang baik, awasi adik-adik kita. Agar kelak mereka bisa menjadi generasi yang sehat baik jasmani maupun rohani.