Sabtu, 27 Agustus 2016

Persaingan yang tidak merata, PR untuk panitia FLS2N

Festival Lomba Seni Siswa Nasional, atau biasa disingkat dengan FLS2N, adalah sebuah ajang tahunan yang diadakan dalam rangka menonjolkan bakat para siswa akademik, khususnya dibidang seni. Seni tersebut tentunya meliputi berbagai macam, mulai dari olah vokal, kemampuan bermusik, kemampuan melukis, dan masih banyak lagi.

Sumber foto: Indragiri.click


Saya sendiri sudah dua tahun terakhir ini terlibat dalam kegiatan tahunan ini, dimana saya terlibat menulis aransemen dan melatih grup paduan suara SD dimana saya menghabiskan masa kecil. Dalam hal ini saya tidak sendiri, karena masih ada beberapa pelatih yang juga ikut melatih.

Saya diajak bukan karena saya hebat tentunya. Karena beruntung saja masih ada yang mau ajak saya hehehe. Kalau bicara skill, masih banyak yang jauh lebih hebat, hanya saja mungkin tak terlalu berminat untuk terlibat.

2 tahun mengikuti FLS2N, tentunya banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Begitupun teman-teman baru, mulai dari yang cantik bahkan sampai yang cantik banget hehehe.

Bicara lebih mendalam soal FLS2N, menurut saya ada sedikit perbaikan yang perlu dilakukan, khususnya dalam hal ini dibidang paduan suara tingkat SD. Yang mana perbaikan tersebut bertujuan agar kompetisi ini terasa lebih sehat dan fair

Tentunya tidak bermaksud mengatakan FLS2N tahun-tahun sebelumnya tidak fair. Sesungguhnya sudah fair, hanya saja mungkin agar lebih fair lagi, gitu loch hehehe.


Permainan lapangan yang tidak merata

Dari tahun ketahun, sepertinya yang juara itu-itu saja. Awalnya mungkin kelihatan hebat, karena sepertinya sang juara pasti berjuang begitu keras untuk mempertahankan posisinya. Namun setelah saya coba lihat lebih jauh, sepertinya ada hal yang mendasari mengapa itu terjadi.

Permainan lapangan yang tidak merata, itulah yang sekarang menurut saya sedang terjadi. Ada sebuah selisih yang begitu jauh antara sekolah mampu dan sekolah kurang mampu, layaknya jurang yang dalam. 

Alhasil, mereka yang juara akan terus juara, dan yang kalah akan terus kalah. Padahal kalau bicara kualitas murid, barangkali ada beberapa yang mungkin bisa menyaingi, dan berpeluang menggeser posisi juara bertahan.

Saya tentunya tidak bermaksud untuk meragukan kualitas sekolah yang diposisi juara. Betul, setiap sekolah meraih juara tidak terlepas dari usaha jerih payah mereka.

Namun perlu diketahui juga, ada beberapa sekolah yang sebenarnya memiliki kualitas namun tidak ditopang dengan pelatih yang mumpuni. Sehingga taringnya tak terlalu tampak ketika turun berkompetisi dilapangan. 

Saya melihat ada satu dua sekolah yang sebenarnya mampu secara kualitas. Mereka dipenuhi dengan anak-anak yang memiliki kemampuan cukup baik dibidang olah vokal. Namun ketika tidak ditopang dengan pelatih yang sesuai, maka hasil output-nya pun tidak dapat diandalkan untuk bersaing dengan sekolah lain.

Andaikan mereka mendapatkan pelatihan yang baik, bukan tidak mungkin mereka mampu menggeser posisi juara bertahan. Atau paling tidak membuat persaingan menjadi lebih seru, karena setiap sekolah memiliki taring yang hampir sama tajamnya.

Persaingan yang tidak merata ini, menurut saya didasari oleh dua hal yang perlu mendapat perbaikan, yaitu:

  1. Kekuatan finansial yang tidak merata

    Jika kita melakukan survey mengenai kemampuan masing-masing sekolah, tentunya kita akan mendapati bahwasanya setiap sekolah memiliki kemampuan finansial yang beragam. Beberapa mungkin memiliki cukup uang untuk membayar guru-guru hebat. Namun sebaliknya, sebagian besar banyak yang sepertinya kekurangan dana untuk menyewa pelatih yang kompeten.

    Menurut saya, inilah salah satu hal yang menyebabkan mengapa sepertinya hanya segelintir dan itu-itu saja yang mendapat posisi. Karena sejauh ini hanya mereka yang mampu membayar pelatih berkompeten.

    Solusinya, barangkali pihak penyelenggara perlu melakukan semacam bantuan dana, khususnya bagi sekolah-sekolah yang boleh digolongkan sebagai 'kurang mampu' secara dana. Bila perlu dibuat semacam patungan dana dari sekolah-sekolah mampu, lalu dana tersebut disebar merata ke sekolah-sekolah kurang mampu untuk mereka alokasikan menyewa pelatih kompeten.

    Harapannya, tentunya tidak akan ada lagi sekolah yang tidak punya pelatih kompeten, karena semua mampu menyewa jasa pelatih. Dengan demikian, potensi anak didik pun benar-benar digali dengan maksimal, alhasil persaingan pun bisa menjadi lebih sengit dan pertarungan pun menjadi lebih seru.

  2. Penyebaran pelatih yang tidak merata

    Seperti yang saya sebutkan pada paragraf awal, saya melatih tidak sendiri. Ada beberapa pelatih yang juga membantu. Nah, inilah hal yang juga memiliki keterkaitan dengan poin sebelumnya, yang menurut saya perlu mendapat perbaikan.

    Saat ini tidak hanya kekuatan finansial yang perlu dibuat merata, namun juga penyebaran pelatih. Karena yang terjadi adalah, pelatih tidak tersebar merata kesetiap sekolah-sekolah. Apa dampaknya?

    Dampaknya kembali lagi, yaitu persaingan akan tetap tidak rata. Karena ada satu sekolah yang bisa sewa 4 pelatih untuk melatih 4 bidang. Dua untuk olah vokal, satu untuk menulis aransemen, dan satu untuk koreografi. Akibatnya, sekolah lain seperti 'kehabisan pelatih', karena stock pelatih sudah diborong semua oleh satu dua sekolah..

    Solusinya, menurut saya tidak cukup hanya pemerataan dana saja, tapi juga pemerataan penyebaran pelatih. Caranya dibuat peraturan yang isinya membatasi jumlah pelatih dalam satu sekolah.

    Jadi, hendaklah sebaiknya setiap sekolah memiliki hanya satu pelatih. Atau sebanyak-banyaknya dua. Jadi satu untuk olah vokal, satu untuk menulis aransemen misalnya. Jangan lebih. Sehingga ini bisa mencegah hal yang terjadi selama ini, dimana ada banyak pelatih yang hanya berkumpul disatu sekolah. Hendaknya mereka tersebar diberbagai sekolah.


Inti dari tulisan ini tentu bukan bermaksud mengatakan bahwa kompetisi ini tidak fair, atau bahkan bermaksud untuk tidak mengakui kehebatan lawan. Bukan! Harapannya, tentu dua hal yang menjadi penyebab tidak meratanya persaingan dapat segera diperbaiki.

Dengan begitu, diharapkan sekolah-sekolah yang punya potensi terpendam selama ini dapat menggali semua bakatnya dan mampu bersaing secara kualitas dengan sekolah-sekolah lain dan membuat persaingan semakin sengit.

Jika sudah demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa posisi sang juara bertahan bisa digeser. Atau paling tidak membuat posisi 2 dan 3 dan seterusnya bisa lebih bervariasi, tidak terkesan 'itu-itu saja'.

Disisi lain, tentunya menjadi ajang pembuktian bagi sang juara bertahan untuk menunjukkan betapa mereka memang menang karena kualitas, bukan semata-mata karena persaingan yang tak imbang tadi.

Dengan begitu, diharapkan persaingan dilapangan bisa semakin ketat, sehingga pertarungan pun akan menjadi lebih seru. Tingkat kesulitan dan persaingan diajang FLS2N kedepannya-pun pasti bisa mencapai mode 'very hard'.

Apakah yang lebih seru dalam bermain game selain bisa mengalahkan level 'very hard?'

Semoga FLS2N yang akan datang terus mengalami perbaikan dan menjadi lebih baik dari tahun ketahun.

0 komentar:

Posting Komentar