Rabu, 14 September 2016

Diam itu nikmat, tapi...

Jika kita mencoba melihat dunia sekitar kita dengan lebih jelas, pastinya kita akan menemukan sangat banyak sekali masalah. Entah itu masalah ekonomi, masalah pangan, masalah keluarga, masalah politik, dan masih banyak lagi. Mungkin secara spesifik kita akan menemukan permasalahan dimana banyak terjadi kelaparan, atau bahkan mungkin menemukan permasalahan dimana banyak pejabat yang korupsi.

Tentunya, jika  ada masalah, ada solusi. Sebagaimana sabda nabi, setiap penyakit pasti ada obatnya, demikian pula masalah. Setiap masalah pasti ada solusinya. Hanya saja, pertanyaannya sekarang adalah: apakah solusi itu dilakukan?

Mungkin tanpa kita sadari, sesungguhnya berbagai permasalahan yang ada disekitar kita saat ini secara tidak langsung disebabkan oleh diri kita sendiri. Barangkali anda akan tersinggung jika dikatakan demikian, namun saya pikir ini fakta yang tak terelakkan, yang mana juga menjadi koreksi bagi diri saya sendiri khususnya.

Coba kita merenungi, apakah masalah yang kita lihat saat ini telah mendorong kita untuk melakukan sesuatu? Apakah masalah yang terlihat selama ini telah menjadi beban bagi pikiran kita untuk do something

Kenyaannya, banyak diantara kita yang lebih memilih untuk menjadi penonton. Kita terus menjadi penonton ketika melihat berbagai permasalahan. Diibaratkan bioskop yang menayangkan drama kehidupan, maka kita adalah penonton setianya. Kita terus menyaksikan dan hanya menyaksikan, tanpa terdorong untuk berbuat sesuatu. Singkatnya, banyak diantara kita yang lebih memilih diam.

Memang harus diakui, diam itu sangat nikmat. Sangat-sangat nikmat. Apalagi ketika kita sudah berada pada posisi yang nyaman bagi kita. Misalkan ketika bisnis kita lancar, ketika pekerjaan kita tidak ada hambatan, atau ketika uang mengalir kekantong kita dengan begitu deras. Jika sudah demikain, biasanya kita akan merasa dunia begitu indah, semua masalah hilang, dan kita pun akan mengambil posisi 3D, yaitu Duduk, Diam, Dengar. Kita akan menutup mata dengan semua yang terjadi disekitar kita. Tanpa kita sadari, sikap diam yang kita ambil turut berperan penting dalam memuluskan setiap masalah terjadi.

Ketika rumah tetangga sebelah dijarah maling, sikap diam kita secara tidak langsung telah membantu memuluskan maling tersebut melakukan aksinya.

Ketika melihat pejabat bertindak sesukanya dan kita mengambil sikap diam, secara tidak langsung kita sudah sama dengan membantu memuluskan aksi para pejabat tersebut, tanpa menyadari dampak buruknya buat masyarakat banyak, terutama golongan ekonomi mengenah kebawah. Secara tidak langsung kita sudah turut membantu menyengsarakan masyarakat banyak tersebut.

Masih banyak sangat banyak contoh yang membuktikan betapa sikap diam bukan pilihan yang tepat, ketika pada situasi dimana kita memang harus bicara.

Sudah selayaknya kita siap berbicara dan bertindak kapan saja diperlukan. Ketika melihat suatu masalah, sudah selayaknya kita mengambil tindakan, sekalipun mungkin dapat merusak citra diri dan membuat orang-orang menjadi kurang suka kepada kita.

Proteslah ketika harus protes. Tidak usah perdulikan orang-orang sekitar yang menilaimu. Mereka hanyalah para audiens dalam sebuah pertunjukan, yang hanya bisa menyaksikan dan menilai, tanpa memberikan dampak apapun. Jadi tetaplah bersuara, dan utarakan semua kebenaran yang engkau amini.

Sebagai penutup, saya sangat menyukai kutipan yang sering dilontarkan oleh Tokoh Pendidikan kita, Anies Baswedan.


0 komentar:

Posting Komentar