Minggu, 03 Desember 2017

Ngerinya 'transaksional' dalam hubungan percintaan 'kids jaman now'



Screenshot diatas merupakan sebuah transkrip chat dimana seorang anak lelaki meminta sesuatu yang tak lazim kepada pacarnya dengan bujuk rayu "ayolah, katanya sayang".

Hal ini merupakan salah satu rahasia umum yang sering sekali terjadi dalam kehidupan percintaan anak muda masa kini, dimana banyak anak lelaki yang meminta foto-foto vulgar atau 'jatah' dengan alasan 'sayang'.

"Katanya sayang, kalau sayang kirim dong",

atau

"katanya sayang, kalau sayang kok gak mau lakuin itu sama aku",

begitulah senjata maut para anak-anak muda tersebut menggoda pacarnya.

Yang menyedihkannya adalah banyak sekali anak gadis yang mau saja terjerumus dalam hal ini. Mereka dengan mudahnya mengiyakan permintaan si pacarnya yang bajingan itu, lalu mengirimkan foto dan video dirinya dalam kondisi yang tak lazim atau vulgar. Dengan alasan 'sayang', padahal dibalik itu, mereka sedang masuk dalam perangkap buaya yang begitu ganas.

Dari yang awalnya meminta foto, kemudian berlanjut minta pegang. Dari yang minta pegang, kemudian berlanjut minta 'jatah ini itu'. Dan yang terjadi apa? Si anak gadis yang terlanjur salah memahami makna sayang tersebut pun mulai menjadi budak nafsu si laki-laki.

Puncaknya, ketika si perempuan mulai merasa muak dan meminta putus, si laki-laki justru memainkan jurus pamungkas berikutnya, yaitu meminta segala sesuatu dengan ancaman akan menyebarkan foto. "Kasih gue ini kalau gak gue sebarin", begitulah si laki-laki tadi mengancam.



Teman-teman, kakak adik, bapak ibu, saya melalui tulisan ini ingin mengingatkan kepada kita atau adik kita ataupun anak perempuan kita agar jangan sampai terjebak dalam situasi seperti ini.

Kepada kakak abang, bapak dan ibu, saya melalui tulisan ini ingin mengingatkan agar sekiranya kita menjaga dan memantau putra-putri maupun adik-adik kita, khususnya yang perempuan. Jangan sampai terjerumus dalam kasus seperti ini. Sudah sangat banyak hal ini terjadi, karenanya saya ingin agar kita semua benar-benar mengawasi dan memantau adik-adik kita.

Kepada adik-adik yang masih sekolah ataupun kuliah, saya ingin ingatkan agar sekiranya bijak dalam berhubungan. Berpacaran sah-sah saja, jatuh cinta itu juga sesuatu yang wajar, tapi ingat ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

Jika kalian bertemu dengan laki-laki seperti dalam kisah diatas, tidak perlu ragu untuk meninggalkannya. Dia benar-benar bukan lelaki yang tepat untuk kalian. Percayalah.

Termasuk kalian para perempuan, khususnya yang masih duduk dibangku sekolah dan kuliah, juga harus paham, betapa jika seorang lelaki benar-benar menyayangi dan mencintai kalian, ia takkan pernah sanggup meminta kalian melakukan hal yang tidak-tidak. Tidak akan pernah sanggup.

Sekali lagi, buat para orang tua dan abang kakak, mari kita menjaga anak gadis kita dan adik-adik perempuan kita masing-masing. Dan teruntuk anak-anak gadis khususnya yang duduk dibangku pendidikan, ayo menjadi lebih bijak dalam menjalin hubungan dengan laki-laki.


Senin, 27 November 2017

Bekerja tak selalu hanya mengejar uang, tapi juga dampak sosial bagi sekitar


Sering sekali dalam sebuah acara seminar bisnis, saya mendengar kisah dimana seseorang dulunya membuka usaha, lalu kemudian menutupnya demi full-time di bisnis itu. Misalnya, yang awalnya dia membuka kursus matematika dan bahasa inggris, tiba-tiba ditutup begitu melihat peluang mendapatkan uang di bisnis dalam seminar itu.

Sekilas terdengar keren, namun jika diperhatikan dengan seksama, ada sesuatu yang janggal, atau mungkin lebih tepatnya disebut menyedihkan. Yaitu betapa orang saat ini hanya berorientasi pada uang. Padahal, dampak dari apa yang kita kerjakan bagi sekitar sangatlah penting.



Membuka tempat kursus les misalnya. Membuka kursus les memang tidak begitu banyak menghasilkan uang. Namun kalau kita berpikir lebih luas, kita akan menemukan bahwasanya usaha seperti ini bisa memberikan dampak yang sangat positif bagi sekitar, yaitu membantu anak-anak sekolah untuk bisa meraih pencapaian yang lebih baik disekolahnya. Disisi lain, juga membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain, untuk diangkat menjadi tenaga pengajar.

Maka dari itu, pada intinya, menurut saya sangat tidak tepat jika kita hanya memikirkan semata-mata uang dalam sebuah usaha, tanpa memikirkan dampak sosialnya.

Karenanya, bagi kita yang sejak awal sudah memiliki satu usaha, tidak ada salahnya kita mencoba sebuah program bisnis. Baik itu MLM, atau Asuransi. Hanya saja, ketika kita berhasil menjalankan bisnis tersebut, janganlah langsung serta-merta menutup usaha yang sudah kita bangun. Tapi justru kita bisa kembangkan menjadi lebih besar lagi untuk memberi dampak positif yang semakin besar pula bagi orang disekitar kita.

Rabu, 22 November 2017

Ketika seorang pemuka agama menghina, yang dihina justru menunjukkan siapa yang benar-benar beragama

Saat ini sedang menjadi pembicaraan hangat dimana salah seorang aktris bernama "Rina Nose" diejek oleh salah seorang pemuka Agama. Didalam sebuah video yang sedang viral, nampak seorang pemuka agama dengan secara jelas mengucapkan sebuah kalimat yang terkesan sangat menghina.

Itu yang hidungnya pesek? Saya kalu artis-artis jelek kurang minat membahasnya, apa kelebihan dia?” katanya yang disambut tawa orang disekitarnya.

Dan tak berapa lama, si 'artis pesek' yang dimaksud pun memberi respon.


Bagaimana pendapat anda?



Menurut saya, disini ada keterbalikan. Dimana yang satu berpenampilan ala pemuka agama, namun tidak menunjukkan sifat keagamaannya. 

Ia dengan mudahnya merendahkan seseorang, apalagi dengan menghina fisik. Memang betul, si artis itu memang pesek, tapi pantaskah ia sebagai seorang pemuka agama mengatakan demikian? Dan juga, pantaskah ia mengatakan "artis jelek" sekalipun artis tersebut memang jelek?

Sedangkan yang satunya lagi, berpenampilan biasa-biasa saja, tapi justru menunjukkan bahwa ia jauh lebih 'beragama' daripada si pemuka agama.

Ia menunjukkan betapa kita tidak boleh seenaknya saja mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang orang lain, terlebih itu tentang fisik. Sangat tidak baik untuk mengatakan "dia ompong", "dia jelek", "dia pendek", sekalipun memang ia benar-benar ompong, jelek, dan pendek.

Dari sini, pesan moral yang bisa kita petik adalah: TERKADANG ORANG YANG NAMPAK LUARNYA BURUK JUSTRU JAUH LEBIH BAIK DARI ORANG YANG NAMPAK LUARNYA BAIK.

Tapi bukan lantas itu jadi alasan untuk kita berpenampilan sesukanya ya guys! Tetap jauh lebih baik jika kita bisa menjadi baik luar dan dalam. Okey!

Minggu, 12 November 2017

Ketika semua sibuk dengan KIDS JAMAN NOW, lalu bagaimana dengan PARENTS JAMAN NOW?

Saat ini sedang ngetrend istilah baru, yaitu "KIDS JAMAN NOW". Mungkin kita semua sudah tahu, yang dimaksud dengan KIDS JAMAN NOW adalah gambaran tentang tingkah laku anak-anak masa kini, khususnya yang masih berusia remaja. Semua tingkah laku mereka (yang umumnya negatif) dirangkum dalam satu istilah, yaitu KIDS JAMAN NOW.

Bagi saya, KIDS JAMAN NOW yang sering dikonotasikan dengan anak masa kini yang nakal dan memiliki perilaku yang kurang baik ini, sesungguhnya tidak lepas dari peran penting dibaliknya, yaitu "PARENTS JAMAN NOW". Ya, PARENTS JAMAN NOW!

Jika anak-anak khususnya remaja saat ini memiliki tingkah laku yang nakal, urak-urakan, suka melawan, berfoya-foya, tidak berempati, dan segala kelakuan tidak baik lainnya, itu semua sesungguhnya boleh dikatakan sebagian besar merupakan akibat dari PARENTS JAMAN NOW.



Berikut ini beberapa hal yang sering dilakukan oleh orang tua masa kini, yang secara langsung maupun tidak langsung membentuk karakter anak-anak masa kini.


Terlalu memanjakan dengan uang



Banyak orang tua yang begitu gampang memberikan uang kepada anaknya, bahkan dalam jumlah besar. Hasilnya adalah lahirlah generasi-generasi penerus yang tidak begitu memahami betapa uang yang ia miliki adalah merupakan hasil jerih payah yang tidak boleh dihambur-hamburkan seenaknya. Anak-anak yang belum begitu mengerti apa-apa itu diberikan sesuatu yang justru cenderung bisa membuat mereka merasa 'bebas' dan kebablasan.

Saya bahkan pernah menemukan satu kasus dimana seorang ayah yang begitu sibuk hingga jarang menemui anaknya, memberikan jatah 5 juta sebulan kepada anak lelakinya yang masih duduk dibangku SMA. Anak itu pun kemudian tumbuh menjadi pribadi yang bebas karena jarang dipantau, dan cenderung berfoya-foya karena begitu mudah mendapat uang.

Solusinya, orang tua tidak boleh lagi sembarangan memberikan uang kepada anak, apalagi dalam jumlah besar. Bahkan, menurut saya para orang tua harus menerapkan sebuah sistem 'bayar harga' kepada anak. Suruh mereka lakukan sesuatu yang agak berat untuk mendapatkan uang, sehingga mereka belajar memahami  bahwasanya ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, terlebih yang dibutuhkan, yaitu kerja keras dan pengorbanan.


Gak pernah ngecek aktifitas anak didunia maya



Banyak orang tua yang kurang atau bahkan sama sekali tidak memperhatikan gerak-gerik anaknya di dunia maya. Kalau orang tua yang gaptek mungkin masih sedikit dimaklumi, tapi yang mengherankan adalah sebagian besar diantara mereka para PARENTS JAMAN NOW adalah orang tua yang saat ini begitu dekat dengan dunia maya, namun tidak memantau apa yang dilihat oleh anaknya, seperti apa foto yang diuploadnya, siapa teman chattingnya, seperti apa akun yang difollownya, dll.

Banyak orang tua yang terlalu lempang membiarkan anaknya bermain media sosial tanpa pantauan. Anak-anak itu dengan mudahnya bermain Instagram, Facebook, Youtube, dll. Mereka lupa, bahwasanya ada sangat banyak konten negatif baik yang sifatnya pornografi, ucapan kotor dan sejenisnya yang sama sekali tidak tersaring, yang mana dapat dengan mudah membentuk karakter buruk kepada anak-anak.

Hasilnya adalah banyak anak yang kemudian begitu mudah diculik, dibawa lari, kemudian terjerumus dalam seks bebas karena begitu mudah untuk diajak chatting oleh orang lain dan diajak pergi ketemuan diluar oleh orang-orang asing. Dan yang tak kalah menyedihkan, tidak sedikit anak yang kemudian begitu berani memasang foto dengan pose yang menantang, tanpa memikirkan dampak buruknya.

Solusinya, orang tua harus lebih aktif dalam memantau anaknya. Jangan percuma aktif dimedia sosial, tapi sama sekali tidak mengetahui gerak-gerik anaknya. Harus selalu perhatikan. Kita harus tahu apa saja media sosial yang dimainkan anak kita dan seperti apa gerak-geriknya disana.

Terkhusus media sosial seperti Instagram maupun Youtube, terkadang bisa muncul konten-konten negatif. Nah, khusus Instagram, ada tips untuk mengurangi konten tersebut. Selengkapnya cek: Cara Mengurangi Konten Negatif di Instagram


Lupa bahwa mereka pernah muda dan nakal, lalu tidak mengajarkan anak untuk tidak melakukannya



Banyak orang tua yang lupa bahwasanya mereka pernah muda dan pernah melakukan hal-hal negatif semasa mudanya. Misalkan mem-bully teman, mencuri, melawan guru, atau bahkan yang bisa dikatakan tergolong parah, berpikir ngeres dan tidak-tidak kepada teman lawan jenis. Akibatnya, kenakalan-kenakalan seperti ini menjadi terus ada dan turun temurun, bahkan cenderung semakin hari semakin parah.

Solusinya, orang tua harus aktif mengajarkan kepada anaknya dan selalu mengingatkan untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukan orang tuanya dimasa muda.

Misalkan, jika ketika muda orang tua pernah mem-bully anaknya, maka ia mestinya mengajarkan anaknya untuk tidak mem-bully dan belajar menghormati orang lain. Begitu juga dengan kenakalan-kenakalan lainnya. Terutama bagi anak laki-laki, ajarkan mereka untuk tidak mencoba melakukan hal yang tidak-tidak kepada lawan jenis.

Dengan begitu perlahan tapi pasti, rantai kenakalan yang terus turun-temurun perlahan bisa dikurangi atau bahkan diputus.


Gampang membiarkan anaknya jalan-jalan/bergaul dengan teman lawan jenis dan tak memantaunya



Ini salah satu kesalahan yang paling fatal yang menurut saya sering baik sengaja maupun tanpa sengaja dilakukan oleh orang tua saat ini. Terlalu gampang membiarkan anaknya pergi berduaan dengan teman lawan jenis. Anaknya bisa dengan leluasa bergaul dengan lawan jenisnya tanpa dipantau, apalagi diarahkan.

Usia remaja adalah masa dimana anak-anak masih  dalam kondisi yang sangat labil dan berpikir sempit. Mereka cenderung hanya berpikir tentang hal-hal yang dianggap menyenangkan, tanpa memikirkan lebih jauh mengenai dampak negatifnya. Akibatnya, yang terjadi adalah mereka bisa dengan mudah melakukan apapun yang seharusnya tidak dilakukan, termasuk dengan mudahnya melakukan hubungan seks diluar nikah.

Solusinya, orang tua harus benar-benar pro aktif memantau anaknya, khususnya dalam bergaul dengan lawan jenis. Terlebih jika si anak memiliki hubungan yang terbilang spesial dengan seseorang, harus benar-benar check n re-check seperti apa temannya itu.

Tentu suatu hal yang wajar jika anak usia remaja mulai merasakan yang namanya jatuh cinta dan menyukai lawan jenis. Itu adalah proses alamiah dan tidak perlu dilarang, hanya perlu untuk diketahui seperti apa sosok yang membuatnya jatuh hati tersebut. Dan tak lupa untuk selalu diberi pengarahan. Jika sekiranya baik mungkin bisa dilanjutkan, tapi jika rasanya kurang baik mungkin perlu diarahkan untuk menjaga jarak.


Pada akhirnya, kita tak bisa mencegah bahwasanya tidak akan ada anak yang nakal didunia ini. Pasti akan selalu ada. Hanya pertanyaannya, maukah anda sebagai orang tua mengupayakan agar anak anda bisa menjadi anak yang baik, atau anda termasuk dalam kategori PARENTS JAMAN NOW yang kemudian membiarkan anaknya hanyut terbawa arus modernisasi dan masuk dalam kategori KIDS JAMAN NOW?

Pilihan ditangan anda.

Senin, 30 Oktober 2017

Teman-teman, berhentilah membuat Hanna Anisa tertekan

Malam itu ketika saya membuka Youtube, saya melihat sebuah video Deddy Corbuzier yang pada intinya bercerita tentang seorang mahasiswi UI yang disebut-sebut bernama Hanna Anisa.. Singkat cerita, mahasiswi ini ternyata adalah sosok yang sedang dicari didunia maya karena beredar sebuah video vulgar yang mana diduga kuat adalah dirinya.

Saya sendiri sebenarnya dapat informasi ini dari LINE NEWS, namun memang tidak begitu tertarik untuk menelisiknya lebih lanjut. Hanya yang sangat membuat saya miris ketika orang-orang kemudian berbondong-bondong mencari-cari video tersebut dengan tujuan ingin menontonnya, tanpa memikirkan sedikitpun perasaan si wanita.

Saya membayangkan, betapa tertekannya perasaan si wanita tersebut melihat sikon dunia maya saat ini yang secara tiba-tiba mencari segala informasi tentang dirinya, serta mencari video tersebut hanya untuk menontonnya. Belum lagi ketika membaca berbagai macam obrolan maupun perbincangan tentang dirinya di berbagai forum.

Daripada mencoba mencari video itu dan memperbincangkannya didunia maya, mengapa kita tak mencoba untuk diam?



Saya membuat tulisan ini bukan karena ingin membicarakannya, tapi saya ingin mengungkapkan rasa prihatin saya dengan orang-orang yang menjadikan ini sebagai sebuah 'konsumsi', terlebih yang membicarakannya dalam konteks negatif.

Ayolah teman-teman, cobalah kita belajar untuk masa bodoh dengan hal-hal seperti ini. Mengapa? Karena sama sekali tidak penting, dan yang tak kalah pentingnya, karena ini bisa membuat orang yang bersangkutan merasa tertekan atau depresi berat, yang kemudian bisa berujung pada bunuh diri.

Ketika itu sudah terjadi, tidakkah kita merasa berdosa?

Ayo teman-teman, mulailah belajar untuk tidak mengambil keuntungan, maupun berusaha mengambil sedikit keuntungan ataupun kenikmatan dari aib orang lain.

Untuk wanita tersebut, terlepas apakah benar ia adalah orang yang ada pada video itu atau tidak, saya hanya ingin mengatakan saya memberikan dukungan kepada anda. Semoga anda bisa melewati situasi ini dengan baik dan bisa kembali menjalani kehidupan sebagaimana biasa dan menyongsong masa depan yang cerah.

Selasa, 24 Oktober 2017

Membandingkan antara 'taik taik' ala Ahok dengan 'pribumi' ala Anies

Beberapa waktu lalu, Anies dalam pidato pertamanya sebagai Gubernur DKI mengeluarkan sebuah pernyataan yang kontroversial, yang mana oleh sebagian kalangan dianggap dapat membuat semakin kuatnya rasa perbedaan yang kemudian bisa menimbulkan perpecahan.

Di sisi lain, ada beberapa kelompok yang justru kemudian membuat semacam pembelaan. Diantaranya kemudian mengatakan bahwasanya pernyataan Anies tentang pribumi sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan Ahok yang selama ini berbicara cukup kasar.

Bagi saya pribadi, jelas berbeda. Saya memang adalah orang yang pro Ahok, tapi bukan berarti semata membela. Saya akui banyak ucapan Ahok yang mungkin juga kurang tepat. Tapi jika kita mau membandingkan, mestinya kita tidak hanya berfokus pada lisan, tapi kepada konteks yang lebih luas.

"taik taik!"

Ucapan Ahok memang banyak yang kasar, tapi perlu diperhatikan, mengapa ia bisa sampai berkata kasar demikian?

Alasannya sangat jelas, karena begitu gerah dan muak menghadapi orang-orang yang begitu gigihnya untuk mengeruk keuntungan pribadi dari uang yang bukan haknya (singkatnya disebut korupsi).

Disamping itu, lontaran kemarahan Ahok juga sering dikarenakan banyaknya masyarakat yang nakal. Misal, PKL yang berjualan tidak pada tempat yang seharusnya.

Sekasar apapun lontaran Ahok, selalu karena alasan yang jelas: menghadapi para oknum pejabat dan oknum masyarakat yang nakal.


"pribumi"

Kalau yang satu ini, sekilas terdengar begitu lembut, tapi sesungguhnya makna yang ada didalamnya justru sangat kasar dan rasis. Apalagi jika dikaitkan dengan seorang Ahok yang memang berdarah Tionghoa, tentu istilah pribumi menjadi suatu hal yang menyakitkan.



Sangat mengerikan, ketika statemen Anies yang diucapkan begitu lembut ini justru terdengar begitu menyakitkan, dan cenderung semakin memperbesar rasa perbedaan diantara kalangan masyarakat.

Menurut saya ini statemen yang sangat mengerikan, dan sangat disesalkan tentunya, seorang Anies bisa mengucapkan kata itu, seolah menyindir bahwasanya pemimpin sebelumnya adalah "non pribumi" atau bukan bagian dari Indonesia.


Ya, pada intinya adalah statement Ahok walaupun kasar, tapi tujuannya jelas: melawan para koruptor. Sedangkan Anies, statementnya terdengar lembut, tapi makna dibaliknya sangat rasis dan mengerikan.

Pun demikian, tetap harus diperbaiki, baik dari sisi Ahok maupun juga Anies.

Harapannya, semoga kedepan Ahok tidak lagi kasar, bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi.

Jujur, walaupun saya pribadi mengagumi sosok Ahok, namun tetap saja terkadang merasa kurang nyaman dengan gaya kasarnya, apalagi jika yang menjadi sasarannya adalah rakyat kecil, saya sangat merasa tidak nyaman. Karenanya, saya sangat mengharapkan kedepan Ahok bisa lebih lembut dan tenang lagi, tentunya dengan tidak mengurangi sifat tegasnya.

Dan kepada Pak Anies semoga kedepan tidak lagi rasis dan membawa-bawa isu sara.

Saya tidak paham dan masih sangat kaget melihat sosok Anies saat ini. Berbeda sangat jauh dengan yang saya lihat pada 2 atau 3 tahun yang lalu, khususnya pada masa kampanye Jokowi.

Saya kira dia seorang yang benar-benar idealis, tapi mengapa hari ini terlihat berubah drastis hanya karena godaan yang sifatnya politis? Apalagi dengan gagasan Tenun Kebangsaan, yang justru sangat kontras dengan tindak-tanduk Anies saat ini.

Bagaimana ini bisa? Entahlah, harapannya, semoga Pak Anies bisa kembali seperti yang dahulu kala.

Selasa, 26 September 2017

"Long As I Get Paid"-nya AgnezMo, pro atau kontra?

Internet geger denga lagu baru dari Agnez Mo berjudul "Long As I Get Paid". Saya belum mendengar lagunya langsung, tapi membaca liriknya saja saya sudah merasa miris.



Saya mungkin termasuk salah satu orang yang paling kritis tentang lagu. Setiap kali saya menemukan lagu baru, saya akan perhatikan dengan seksama lirik dari lagu tersebut, begitupun videoklipnya. Itu sangat-sangat penting bagi saya. Itu merupakan 'kriteria' yang mutlak untuk menentukan sebuah lagu layak dinikmati atau tidak.



Maka, karena itulah saya sangat tidak suka dengan sebagian besar lagu-lagu yang populer saat in. Mengapa? Karena banyak diantara lagu itu memiliki lirik yang menurut saya tidak mendidik. Sebagian memiliki makna tersirat yang mengarah pada seks bebas, sebagian lagi jelas-jelas vulgar dan sarat akan pornografi.

Luar negeri punya "Shape Of You", lalu ada yang lebih vulgar lagi "Versace on the Floor", dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nah di Indonesia sekarang kita punya "Long As I Get Paid".

Sepertinya kedepan adek-adek kita akan semakin berani dengan istilah 'as*, f*ck, an*l, fet*sh'. Dan juga, pergaulan adek-adek kita akan semakin mengarah pada hal yang lebih 'berani dan vulgar'.

Bagaimana tidak, lagu-lagu yang populer dan ngetrend isinya seperti itu semua. Ditambah lagi nyaris tak ada yang mau tahu, apalagi mengarahkan mereka tentang itu. Sehingga pemahaman yang muncul adalah "sudahlah, yang penting keren, yang penting enak". Tapi tidak ada ditanya "apakah ini baik? apakah ini bermoral? apakah ini layak untuk dinikmati?"

Itulah kenapa aku benar-benar filter dan kritisi betul setiap lagu yang mau didengar. Tapi, giliran mengkritik, orang malah ngomongnya:

loe ngaca macam udah suci aja
masih banyak ko yg lebih porno nyantai aja keles
ini seni bro seni tak bertuhan
gpp gak mendidik, ini memang bukan bahan pendidikan
hidup loe serius banget sih
gitu-gitu dia udah mengharumkan musik Indonesia didunia, loe bisa apa?

Lantas, ketika generasi muda kita sudah menjadi biasa dengan istilah porno, dengan kehidupan seks bebas, dan sejenisnya karena pengaruh pornografi yang dikemas dalam bentuk lagu, siapakah yang harus bertanggung jawab?

Barangkali pornografi yang lebih mengerikan saat ini bukan lagi dalam bentuk film, tapi dalam bentuk musik. Karena ketika dikritik, orang akan berkilah "ini seni".

Kadang entahlah. Mungkin kita memang sudah hidup pada zaman dimana orang lebih mementingkan popularitas, uang, dan nafsu duniawi daripadai akhlak dan moral.

Mohon maaf buat para fans yang mungkin bersebrangan dengan pendapat saya. Saya bukannya hates, bahkan bisa dikatakan saya sebenarnya cukup mengidolakan Agnes, dengan lagu-lagunya yang dulu, seperti "Matahari-Ku", "Karena Ku Sanggup", dan masih banyak lagi lagunya yang lain. Saya hanya merasa miris saja dengan lagunya yang sekarang, terlebih melihat videoclipnya. Orang bilang 'lihat dari sisi art', entahlah, saya tak mengerti dimana letak 'art'nya.

Mungkin, kalaupun ada saran dari saya, alangkah baiknya jika Agnes tidak membuat lagu yang sarat akan seks, pornografi, dan sejenisnya. Lebih baik membuat lagu yang sarat akan nilai moral dan perdamaian, seperti lagu "Heal The World" atau "We Are The World"-nya Michael Jackson. Sekalipun jauh dari unsur pornografi, lagu-lagu itu bisa juga menjadi internasional dan disukai miliaran umat diseluruh dunia. Jika MJ bisa, maka saya yakin Agnes pasti juga bisa.

Semoga suatu hari mbak Agnes membuat lagu yang lebih jauh bernilai moral, yang menginspirasi setiap para pendengarnya untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi sesama.

Senin, 25 September 2017

Kisah tentang anak-anak pejuang hidup, bekerja demi uang tambahan

Dalam kegiatan kita sehari-hari beraktifitas diluar rumah, pasti kita sering melihat anak-anak kecil yang berjualan di jalanan. Baik itu menjual koran, kerupuk, mainan, donat, dan lain sebagainya. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di jalanan. Menjajakan dagangannya kepada para pengendara yang berhenti dipersimpangan lampu merah.

Saya sering bertanya-tanya, mengenai alasan mereka bekerja. Sempat terngiang di benak saya untuk mengajak orang membeli dagangan mereka dengan alasan demi membantu mereka walau mungkin hanya sedikit. Namun disatu sisi saya berpikir, "jika mereka bekerja karena dipaksa orang tua, maka secara tidak langsung saya sama saja mendukung orang tuanya untuk memaksa ataupun meng-eksploitasi anaknya bekerja. Sedangkan, seharusnya anak seusia mereka cukup bermain dan belajar.

Dan juga saya pun berpikir, mungkin bukan orang tua, melainkan bos dari anak-anak inilah yang sengaja memanfaatkan mereka untuk berjualan. Dengan harapan orang akan iba, lalu kemudian membeli dagangannya. Saya tadinya berpikir, jika memang demikian, berarti salah besar langkah saya untuk mengajak orang-orang menaruh perhatian dan membeli dagangan mereka.

Akhirnya, ditengah rasa bingung akibat tanda tanya yang besar, saya pun mencoba menanyai beberapa anak-anak tersebut, mengenai alasan ataupun motivasi mereka mengapa rela dan mau berjualan di jalanan, dibawah panas dan terik bahkan ketika dingin malam tiba.

Cukup mengejutkan bagi saya, ketika mengetahui ternyata mereka berjualan atas dasar kemauan sendiri, dan sama sekali tidak ada paksaan dari orang tua. Ya, begitulah mereka mengakuinya. Dari beberapa yang saya tanya, semua mengatakan bahwasanya mereka menjual atas dasar kemauan sendiri. Dan harapannya, dengan berjualan mereka bisa menambah-nambah uang untuk kebutuhan, minimal menambah uang saku mereka.

Anak ini contohnya. Namanya adalah Rahman. Dia merupakan salah satu anak penjual donat jalanan. 





Suatu kali saya bertemu dia di sebuah bank. Saya hampiri, saya beli donatnya, lalu saya tanyakan apa alasan dia mau berjualan. Dan dia katakan "untuk nambah-nambah uang jajan bang". Lalu saya tanya, "memangnya kalau boleh tau slama ini berapa sih yang bisa kamu dapat tiap bulan atau tiap minggu dari berjualan seperti itu?" Lalu dia berpikir sejenak, terlihat menghitung-hitung, lalu menjawab "128 ribu bang".

Saya terkagum, sangat-sangat kagum. Anak-anak seumur dia, yang sesungguhnya belum waktunya bekerja, namun mau bekerja sedemikian keras demi mendapatkan uang jajan tambahan. Sangat-sangat layak diberi apresiasi. Disaat banyak anak-anak lain yang belum menyadari betapa beruntungnya mereka bisa mendapat uang jajan setiap hari dari orang tua.

Anak-anak seperti inilah yang mengerti betul betapa kerasnya kehidupan yang fana ini. Anak-anak seperti inilah yang memiliki mental kerja yang luar biasa. Anak-anak seperti inilah yang besarnya kelak pasti memiliki potensi sukses yang luar biasa. Mengapa demikian? Karena sudah terbiasa bekerja keras dari kecilnya.

Saya pun mulai berpikir lagi, seharusnya anak-anak yang demikian mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun dari satu atau dua tokoh politik. Seharusnya anak-anak seperti ini diajak berdialog, dan diberikan suatu pujian, motivasi serta penghargaan atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Dengan demikian mereka akan sadar betapa yang mereka lakukan adalah hal yang luar biasa. 

Semoga kelak, anak-anak ini bisa menjadi orang yang berhasil. Baik dalam hal moral maupun materi. Jadi sekalipun kaya, tapi tetap rendah hati dan mau berbagi dengan sesama. 

Harusnya orang-orang terkenal berlomba-lomba memberikan contoh positif

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya menyinggung dan bertanya "eh, abang suka awkarin ndak?". Saya yang memang tidak terlalu update dan juga kurang suka musik-musik saat ini, dengan santai mengatakan "endak, aku dak suka".

Tak berapa lama akupun penasaran dan mulai menelusuri, sampai akhirnya aku tahu bahwa Awkarin itu adalah seorang anak gadis yang terkenal sebagai seorang selebgram, yang mana namanya sedang naik daun saat ini dan menjadi sorotan generasi muda khususnya anak-anak remaja saat ini.




Saya sangat miris ketika melihat isi dari akun Instagram mbak Karin, yang mana isinya lebih banyak mengandung konten yang konotasinya mengarah ke negatif. Misalkan tentang gaya berpakaian, gaya hidup sehari-hari, dan hal lainnya.

Tak kalah miris ketika mengetahui ternyata ada sangat banyak sekali generasi muda yang melihat isi akunnya, dan memberikan sanjungan, pujian. Mereka pikir itu sesuatu yang keren dan sangat layak untuk dicontoh. Sungguh, sesuatu hal yang sangat ironi.

Itu hanyalah satu dari sekian banyak contoh orang-orang terkenal yang tidak menunjukkan contoh yang baik kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda.

Saya menjadi sering berpikir dan bertanya-tanya:

"apakah orang-orang seperti ini tidak pernah terpikirkan sedikit saja untuk memberikan satu contoh yang baik kepada para penggemarnya?"

"apa tidak bisa sedikit saja mereka menunjukkan satu hal yang positif dari diri mereka?"

"apa mereka tidak menyadari bahwa gaya hidup yang mereka pertontonkan itu bisa merusak moral orang yang melihatnya, khususnya para generasi muda kita?"

Come on, wahai para artis, wahai para public figure. Tolonglah, berikan contoh yang baik kepada siapa saja. Apa kalian kira hidup ini hanya sebatas bersenang-senang dengan apa yang dimiliki lalu  selesai begitu saja? Apa kalian kira hidup ini hanyalah tentang uang dan popularitas semata?


Pesan khusus buat mbak  Awkarin

Terkhusus buat mbak Awkarin, saya salut dan akui betapa kamu sangat luar biasa dengan pencapaianmu saat ini. Hanya saja, kalau boleh saya meminta, tolonglah mbak, berhenti mempertontonkan gaya hidup yang bebas dan gemerlap. Sebaliknya, mulai menunjukkan suatu sikap hidup yang positif yang dapat menjadi percontohan bagi para generasi muda kita.

Saya yakin, jika mbak turuti saran saya, yang juga pastinya sama dengan banyak orang lainnya, nama mbak akan menjadi harum dan akan dikenang dalam sejarah perjalanan bangsa, sebagai anak perempuan yang membawa suatu perubahan kearah yang positif. Dan ketika itu nanti terjadi nanti, maka akan betapa bangganya orang tua mbak, betapa bangganya saudara serta teman dekat mbak, dan betapa bangganya bangsa ini punya sosok seperti mbak.

Sama sekali tidak bermaksud mengurusi kehidupan pribadi mbak, namun lebih tepatnya saya prihatin dengan nasib moral jutaan anak Indonesia yang menyoroti kehidupan mbak.

Semoga mbak, membaca, memahami, serta mau melakukan apa yang saya sarankan. Semata-mata demi kebaikan mbak, terlebih demi kebaikan generasi muda kita saat ini.

Senin, 28 Agustus 2017

First Travel dan Kasus Penipuan Travel Umrah



Sudah beberapa hari ini berbagai media disibukkan dengan pemberitaan mengenai Kasus Penipuan Travel Umrah yang dilakukan oleh salah satu jasa penyedia Umrah bernama First Travel. Dalam kasus tersebut, dua pimpinan utama perusahaan tersebut dijadikan sebagai tersangka, yang mana keduanya juga merupakan pasangan suami istri, yaitu bernama Andika dan Aniessa Hasibuan, dan juga seorang tersangka lainnya bernama Kiki Hasibuan, yang tak lain merupakan adik dari Aniessa.



Akibat penipuan yang mereka lakukan, saat ini tak jelas bagaimana nasib puluhan ribu calon jamaah haji yang sudah mendaftar dan menyetorkan uangnya. Mereka benar-benar pusing dan frustasi. Yang lebih ironisnya lagi, ada sebuah berita yang mengatakan bahwa salah seorang nenek calon jamaah haji mengalami frustasi berat, yang akhirnya menyebabkan ia meninggal dunia.

Kasus penipuan seperti ini tentunya harus menjadi suatu pelajaran bagi kita semua, terkhusus bagi teman-teman Umat Muslim yang ada niat kedepan untuk menunaikan Ibadah Umrah. Betapa kita harus benar-benar berhati-hati memilih jasa travel atau pun jasa umrah. Jangan sampai kita mau begitu saja terbuai oleh janji-janji surga. Diiming-imingi biaya murah tapi ternyata hasilnya mentah.

Sekali lagi, kedepan mari lebih berhati-hati dalam memilih sebuah jasa maupun layanan, khususnya dalam hal ini layanan atau jasa umrah. Benar-benar berhati-hati. Ingat bagaimana susah payahnya anda mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa berangkat haji. Jangan sampai pengorbanan anda menjadi sia-sia, karena anda salah memilih jasa.

Semoga kita semua kedepannya terhindar dari penipuan-penipuan dan iming-iming surga seperti itu.

Bagi anda yang memiliki pengalaman pahit tentang jasa umrah maupun jasa travel lainnya, silahkan berbagi melalui kotak komentar dibawah.

Selasa, 01 Agustus 2017

Ketika perempuan seksi menggoda laki-laki, apa kita akan terjerumus dan kemudian menodainya?

Ketika misalkan ada seorang perempuan seksi menggoda kita kaum laki-laki, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan ikut hanyut dalam godaan yang menjerumuskan tersebut, lalu akhinya menodai perempuan tersebut?




Sebagian besar diantara laki-laki berkilah 'ah, kan perempuan itu yang menggoda saya, ya saya sikat saja'. Atau 'lah, kalau ada perempuan seksi menggoda laki-laki, ya udah selesaikan aja, rejeki kok ditolak?'

Mungkin kalimat itu ada benarnya, jika kita hanya melihat dari sisi kedagingan dan nafsu duniawi kita. Tetapi, coba kita melihat dari sisi yang lain. Maksud saya, coba bayangkan jika perempuan yang menggoda itu adalah adik kita atau mungkin saudara kita atau bahkan mungkin (maaf) ibu kita, bagaimana perasaan kita?

Saya yakin setiap kita selalu berharap agar adik atau kakak perempuan ataupun saudara perempuan kita selalu jauh dari hal-hal yang jahat, bahkan dari pelecehan seksual. Sekalipun mungkin misalnya adik kita cukup mentel dan genit, tapi tentu kita akan berupaya sekuat mungkin agar tak ada 'buaya' yang menerkamnya.

Oleh karenanya, mari teman-teman. Dimulai dari diri kita sendiri, mulailah untuk tidak memandang wanita sebagai objek seks semata. Sekalipun ada perempuan seksi menggoda laki-laki, janganlah pernah bepikir 'ya sudah nikmatin aja, rejeki kok ditolak?'. Jangan penah bepikir seperti itu.

Ingatlah, kita juga punya adik atau mungkin saudara yang juga perempuan. Apabila misalkan ada adik perempuan kita terkadang terlihat begitu genit kepada laki-laki, tentu kita berharap agar laki-laki tersebut bijak dan tidak serta merta menganggap itu sebagai 'rejeki', melainkan sebuah penyimpangan moral ataupun sikap yang harus diluruskan.

Ayo, sekali lagi. Jangan melihat wanita sebagai objek seks, sekalipun mungkin ada perempuan seksi yang datang menggoda kita. Jangan mau terjerumus dan kemudian pada akhirnya menodai perempuan tersebut.

Namun, misalkan pun kita benar-benar tak mampu menahan dan hal itu terjadi, sesalilah, dan kedepan tekadkan untuk mempelakukan wanita dengan lebih baik lagi. Memang ini sulit, tapi pelan-pelan kita pasti bisa melakukannya.

Mari melihat wanita sebagai pribadi yang harus dihargai, dihormati, dicintai dan disayangi.

Kamis, 20 Juli 2017

Menikmati Pornografi lewat Musik

Beberapa waktu ini para penikmat musik dunia sedang dimanja dengan lagu-lagu baru yang sedang nge-trend dan hits. Contohnya sebut saja seperti Shape Of You-nya Ed Sheeran, atau Versace on The Floor-nya Bruno Mars, atau yang sekarang sedang sangat booming, yaitu Despacito-nya Justin Bieber.

Lagu-lagu tersebut sekilas ketika didengar memang sangat asik sekali. Dengan irama yang dapat membuat kita merasa rugi jika tidak menikmati alunannya. Ditambah lagi untaian nada yang dirangkai sedemikian rupa menjadi begitu indah.'

Namun mirisnya, tahukah teman-teman, dibalik irama dan untaian nada yang indah, sesungguhnya lagu-lagu ini memiliki pesan yang sangat buruk?

Ya, ketiga lagu yang saya sebut diatas adalah beberapa contoh dari sekian banyak lagu yang memiliki lirik yang sangat buruk. Mengapa saya katakan buruk?  Karena sangat kental dengan nuansa seks bebas dan pornografi.

Sebenarnya masih ada sangat banyak lagi lagu-lagu lain dengan lirik yang sarat akan seks bebas dan pornografi. Hanya saja dalam hal ini saya sengaja memilih ketiga lagu tersebut, menurut saya lagu-lagu itu yang paling mengkhawatirkan. Mengapa? Karena lagu-lagu itu benar-benar sedang nge-trend dan booming saat ini.

Saya merasa miris sesungguhnya melihat fenomena saat ini, dimana orang-orang tak lagi memperhatikan dengan seksama seperti apa lagu yang mereka nikmati. Banyak orang yang hanya fokus dengan musik tanpa menyadari isi dari lirik lagu tersebut sangat-sangat tidak baik. Lucunya lagi, sebagian kalangan tahu dan mengerti isi dari lirik lagu tersebut, namun tetap enjoy menikmatinya tanpa merasa ada aneh atau mungkin risih.

Yang tak kalah saya khawatirkan adalah ketika anak-anak pun saat ini ikut larut dalam lagu-lagu tersebut. Saya membayangkan, kelak ketika mereka dewasa mereka akan melihat lirik lagu-lagu tersebut, kemudian mengerti akan pesan didalamnya, lalu mereka akan berpendapat bahwasanya ternyata seks bebas itu hal yang biasa.

Pendeknya, mereka akan berpikir "ah ternyata sah-sah saja kok. buktinya dibikin dalam bentuk lagu lho". Jika itu sudah terjadi, maka tinggal tunggu waktu saja, generasi kedepan akan mengalamai degradasi moral yang luar biasa.

Walau sebegitupun rasa prihatin saya, namun saya tidak bisa terlalu banyak mengatur orang lain. Hanya saja yang bisa saya sarankan adalah sebaiknya kita benar-benar memperhatikan dengan seksama konten yang kita nikmati, khususnya dalam hal ini musik. Jangan terlalu cepat larut dalam indahnya untaian nada atau asiknya irama sebuah lagu, namun telisik terlebih dahulu, "apakah lagu ini memiliki pesan moral yang buruk?"

Dan jangan lupa, untuk memantau anak maupun adik-adik kita mengenai musik yang mereka nikmati. Jangan sampai mereka larut dalam asiknya irama sebuah lagu, tanpa menyadari pesan yang ada dalam lagunya.

Ya, inti dari tulisan ini adalah supaya kita jangan menikmati lagu yang secara nyata memiliki pesan buruk didalamnya, contohnya yang sarat akan seks bebas dan pornografi. Mari menjadi penikmat musik yang lebih bijak dengan benar-benar memilah setiap lagu yang hendak kita nikmati.

Kamis, 16 Maret 2017

Haruskah saya kuliah?

Pada suatu siang yang sejuk, saya bertemu seorang wanita dan kemudian berbincang-bincang. Perbincangan kami begitu singkat, berbincang mengenai seseorang yang merupakan keponakannya. Keponakannya yang sudah hampir menyelesaikan pendidikan SMA-nya.

Dalam perbincangan tersebut, ia bercerita tentang keponakannya yang hampir setiap hari seperti mendapat tekanan oleh orang tuanya mengenai kelanjutan pendidikannya. "Kamu harus mulai pikrikan mau kemana. Apa kamu mau kalau ntar kamu tamat, adikmu sekolah, papa kerja, mama ngajar, terus kamu nganggur dirumah?"

Begitulah si wanita tersebut menirukan kalimat ibu dari keponakannya tersebut. Hingga akhirnya sekarang keponakannya tersebut menghadapi dua pilihan, antara kuliah kedokteran atau pendidikan kepolisian.





Saya sangat merasa sedih mendengar cerita dari wanita tersebut tentang keponakannya. Saya terbayang betapa berat beban pikiran yang saat ini sedang dipikul. Dan sayapun mulai mengerti jika mengingat bagaimana keponakannya ini sering terlihat hanya diam dan sangat jarang bicara.

Disisi lain, saya merasa miris ketika melihat bagaimana pandangan orang-orang pada umumnya tentang masa depan. Entah mengapa segala sesuatunya diukur dari pencapaian akademis.

Apakah karena tidak ada pencapaian akademis lantas langsung segalanya berakhir? Mengapa berpikir sesempit itu? Apakah memang kuliah adalah sebuah harga mati?

Atau barangkali bisa diringkas menjadi: haruskah saya kuliah?

Tentunya ada banyak pandangan masing-masing. Tapi kalau saya boleh berpendapat, jawabnya sederhana, TIDAK. Saya tidak harus kuliah, dan saya tidak perlu merasa pusing jika saya memang merasa tidak perlu kuliah.

Bagi saya, saya bisa lakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu. Jika kesuksesan masa depan diukur dengan materi, maka saya tahu apa yang harus saya lakukan, yaitu mencari uang. Jika saya ingin uang, saya tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan uang. Jika saya mau UANG BANYAK, saya pun tahu apa yang harus dilakukan. Berhasil atau tidak tergantung seberapa gigih saya berjuang.

Intinya, jika yang mau dicari hanya sebatas kesuksesan materi, saya rasa kuliah sama sekali tidak penting. Bahkan saya berpendapat silahkan robek ijazah anda.

Pun begitu, saya bukan mengatakan kuliah tidak penting. Kuliah pun sangat penting, karena bagaimanapun kita membutuhkan orang-orang yang ahli diberbagai bidang yang mana bidang tersebut dipelajari dibangku perkuliahan. Hanya saja, menurut saya orang yang kuliah haruslah orang yang punya hati untuk melayani, bukan semata-mata uang.

Contoh: Jika anda mengambil kuliah kedokteran, hendaknya anda memiliki hati yang memang ingin sungguh-sungguh melayani masyarakat melalui bidang kesehatan. Jadi, bukan justru semata-mata membayangkan besarnya pendapatan yang bisa diraih seorang dokter.

Anda bisa menggeluti kuliah kedokteran jika ingin dapat melayani masyarakat lewat bidang kesehatan, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat kualitas pelayanan kesehatan saat ini.

Anda bisa menggeluti bidang ilmu keguruan dan ilmu pendidikan jika ingin melayani masyarakat lewat bidang pendidikan, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat masih rendahnya kualitas pendidikan saat ini, ditambah lagi akses pendidikan yang masih sangat sulit didaerah-daerah terpencil.

Anda bisa menggeluti bidang hukum jika ingin melayani masyarakat lewat bidang hukum, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat hukum di negara ini yang penegakannya masih sangat kontras antara orang kaya dan orang miskin, yang mana masih sering 'tajam kebawah tumpul keatas'.

Jadi, intinya perkuliahan tidak penting jika yang anda kejar hanya kesuksesan materi semata. Tetapi sebaliknya, kuliah menjadi sangat penting jika anda memiliki panggilan hati untuk dapat melayani masyarakat melalui suatu bidang keahlian.

Semoga kita benar-benar bisa memahami apa yang sedang ingin kita kejar dan kita raih, sehingga kita tahu mana jalan yang harus kita lalui untuk menggapainya. 

Selamat berjuang, teman!

Senin, 20 Februari 2017

Seberapa beruntungkah saya?

Kala itu ketika hari masih cukup pagi, saya sedang duduk-duduk dengan mama saya dikedai dipasar. Tiba-tiba HP-ku berdering, ternyata ada telpon dari seseorang yang ingin bertemu untuk meminta sebuah berkas musik. Maklum, aktifitiasku memang banyak dibidang musik. Tanpa menunggu lama, aku pun segera bergegas menghampiri si penelepon.

Kami pun bertemu dan langsung bercakap sua. 10-15 menit berlalu dan akhirnya semua urusan selesai. Ia merasa terbantu dan saya sangat senang bisa membantu. Akhirnya ia pun merogoh koceknya dan memberikan saya sejumlah uang. Uang yang sangat banyak sebenarnya jika dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan. Namun saat itu saya merasa itu tidak terlalu banyak.

Akhirnya kami pun berpisah. Saya kembali mampir ke kedai mama saya untuk menemaninya sekedar berjualan. Kami pun berbincang-bincang biasa.

Beberapa menit setelah mampir, saya hendak pulang kerumah sebentar. Ketika hendak pulang, saya melihat seorang bapak yang sepertinya sudah berusia cukup tua, sedang mendorong becaknya menaiki sebuah jalan yang menanjak. Dengan wajah yang lesu dengan kerutan dikeningnya, ia mendorong becaknya yang terlihat usang tersebut menaiki tanjakan.

Gambar ilustrasi. Sumber: apakabardunia.com

Melihat beliau seperti itu, saya langsung merasa tersentak, lalu mulai berpikir betapa beruntungnya saya. Tidak, tidak beruntung, tapi sangat-sangat beruntung! Bagaimana tidak, saya mendapatkan uang dengan sangat mudah, berbanding terbalik dengan bapak tersebut, yang harus menarik becak dengan lelahnya demi mendapatkan rupiah.

Akhirnya saya pun malu pada diri sendiri, betapa saya tidak bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan. Saya pun menjadi merasa sangat beruntung, dan tentunya bersyukur atas rezeki yang saya sudah dapatkan. Serta bersyukur juga karena masih ditegur melalui seorang bapak tukang becak.

Terimakasih Tuhan, engkau masih memberiku rezeki. Terimakasih juga kepada bapak tukang becak, yang secara tidak langsung telah memberikanku sebuah pelajaran hidup berharga. Semoga bapak selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa.