Kamis, 16 Maret 2017

Haruskah saya kuliah?

Pada suatu siang yang sejuk, saya bertemu seorang wanita dan kemudian berbincang-bincang. Perbincangan kami begitu singkat, berbincang mengenai seseorang yang merupakan keponakannya. Keponakannya yang sudah hampir menyelesaikan pendidikan SMA-nya.

Dalam perbincangan tersebut, ia bercerita tentang keponakannya yang hampir setiap hari seperti mendapat tekanan oleh orang tuanya mengenai kelanjutan pendidikannya. "Kamu harus mulai pikrikan mau kemana. Apa kamu mau kalau ntar kamu tamat, adikmu sekolah, papa kerja, mama ngajar, terus kamu nganggur dirumah?"

Begitulah si wanita tersebut menirukan kalimat ibu dari keponakannya tersebut. Hingga akhirnya sekarang keponakannya tersebut menghadapi dua pilihan, antara kuliah kedokteran atau pendidikan kepolisian.





Saya sangat merasa sedih mendengar cerita dari wanita tersebut tentang keponakannya. Saya terbayang betapa berat beban pikiran yang saat ini sedang dipikul. Dan sayapun mulai mengerti jika mengingat bagaimana keponakannya ini sering terlihat hanya diam dan sangat jarang bicara.

Disisi lain, saya merasa miris ketika melihat bagaimana pandangan orang-orang pada umumnya tentang masa depan. Entah mengapa segala sesuatunya diukur dari pencapaian akademis.

Apakah karena tidak ada pencapaian akademis lantas langsung segalanya berakhir? Mengapa berpikir sesempit itu? Apakah memang kuliah adalah sebuah harga mati?

Atau barangkali bisa diringkas menjadi: haruskah saya kuliah?

Tentunya ada banyak pandangan masing-masing. Tapi kalau saya boleh berpendapat, jawabnya sederhana, TIDAK. Saya tidak harus kuliah, dan saya tidak perlu merasa pusing jika saya memang merasa tidak perlu kuliah.

Bagi saya, saya bisa lakukan apa saja untuk mendapatkan sesuatu. Jika kesuksesan masa depan diukur dengan materi, maka saya tahu apa yang harus saya lakukan, yaitu mencari uang. Jika saya ingin uang, saya tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan uang. Jika saya mau UANG BANYAK, saya pun tahu apa yang harus dilakukan. Berhasil atau tidak tergantung seberapa gigih saya berjuang.

Intinya, jika yang mau dicari hanya sebatas kesuksesan materi, saya rasa kuliah sama sekali tidak penting. Bahkan saya berpendapat silahkan robek ijazah anda.

Pun begitu, saya bukan mengatakan kuliah tidak penting. Kuliah pun sangat penting, karena bagaimanapun kita membutuhkan orang-orang yang ahli diberbagai bidang yang mana bidang tersebut dipelajari dibangku perkuliahan. Hanya saja, menurut saya orang yang kuliah haruslah orang yang punya hati untuk melayani, bukan semata-mata uang.

Contoh: Jika anda mengambil kuliah kedokteran, hendaknya anda memiliki hati yang memang ingin sungguh-sungguh melayani masyarakat melalui bidang kesehatan. Jadi, bukan justru semata-mata membayangkan besarnya pendapatan yang bisa diraih seorang dokter.

Anda bisa menggeluti kuliah kedokteran jika ingin dapat melayani masyarakat lewat bidang kesehatan, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat kualitas pelayanan kesehatan saat ini.

Anda bisa menggeluti bidang ilmu keguruan dan ilmu pendidikan jika ingin melayani masyarakat lewat bidang pendidikan, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat masih rendahnya kualitas pendidikan saat ini, ditambah lagi akses pendidikan yang masih sangat sulit didaerah-daerah terpencil.

Anda bisa menggeluti bidang hukum jika ingin melayani masyarakat lewat bidang hukum, tentunya dengan berangkat dari rasa prihatin melihat hukum di negara ini yang penegakannya masih sangat kontras antara orang kaya dan orang miskin, yang mana masih sering 'tajam kebawah tumpul keatas'.

Jadi, intinya perkuliahan tidak penting jika yang anda kejar hanya kesuksesan materi semata. Tetapi sebaliknya, kuliah menjadi sangat penting jika anda memiliki panggilan hati untuk dapat melayani masyarakat melalui suatu bidang keahlian.

Semoga kita benar-benar bisa memahami apa yang sedang ingin kita kejar dan kita raih, sehingga kita tahu mana jalan yang harus kita lalui untuk menggapainya. 

Selamat berjuang, teman!

1 komentar: