Senin, 25 September 2017

Kisah tentang anak-anak pejuang hidup, bekerja demi uang tambahan

Dalam kegiatan kita sehari-hari beraktifitas diluar rumah, pasti kita sering melihat anak-anak kecil yang berjualan di jalanan. Baik itu menjual koran, kerupuk, mainan, donat, dan lain sebagainya. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di jalanan. Menjajakan dagangannya kepada para pengendara yang berhenti dipersimpangan lampu merah.

Saya sering bertanya-tanya, mengenai alasan mereka bekerja. Sempat terngiang di benak saya untuk mengajak orang membeli dagangan mereka dengan alasan demi membantu mereka walau mungkin hanya sedikit. Namun disatu sisi saya berpikir, "jika mereka bekerja karena dipaksa orang tua, maka secara tidak langsung saya sama saja mendukung orang tuanya untuk memaksa ataupun meng-eksploitasi anaknya bekerja. Sedangkan, seharusnya anak seusia mereka cukup bermain dan belajar.

Dan juga saya pun berpikir, mungkin bukan orang tua, melainkan bos dari anak-anak inilah yang sengaja memanfaatkan mereka untuk berjualan. Dengan harapan orang akan iba, lalu kemudian membeli dagangannya. Saya tadinya berpikir, jika memang demikian, berarti salah besar langkah saya untuk mengajak orang-orang menaruh perhatian dan membeli dagangan mereka.

Akhirnya, ditengah rasa bingung akibat tanda tanya yang besar, saya pun mencoba menanyai beberapa anak-anak tersebut, mengenai alasan ataupun motivasi mereka mengapa rela dan mau berjualan di jalanan, dibawah panas dan terik bahkan ketika dingin malam tiba.

Cukup mengejutkan bagi saya, ketika mengetahui ternyata mereka berjualan atas dasar kemauan sendiri, dan sama sekali tidak ada paksaan dari orang tua. Ya, begitulah mereka mengakuinya. Dari beberapa yang saya tanya, semua mengatakan bahwasanya mereka menjual atas dasar kemauan sendiri. Dan harapannya, dengan berjualan mereka bisa menambah-nambah uang untuk kebutuhan, minimal menambah uang saku mereka.

Anak ini contohnya. Namanya adalah Rahman. Dia merupakan salah satu anak penjual donat jalanan. 





Suatu kali saya bertemu dia di sebuah bank. Saya hampiri, saya beli donatnya, lalu saya tanyakan apa alasan dia mau berjualan. Dan dia katakan "untuk nambah-nambah uang jajan bang". Lalu saya tanya, "memangnya kalau boleh tau slama ini berapa sih yang bisa kamu dapat tiap bulan atau tiap minggu dari berjualan seperti itu?" Lalu dia berpikir sejenak, terlihat menghitung-hitung, lalu menjawab "128 ribu bang".

Saya terkagum, sangat-sangat kagum. Anak-anak seumur dia, yang sesungguhnya belum waktunya bekerja, namun mau bekerja sedemikian keras demi mendapatkan uang jajan tambahan. Sangat-sangat layak diberi apresiasi. Disaat banyak anak-anak lain yang belum menyadari betapa beruntungnya mereka bisa mendapat uang jajan setiap hari dari orang tua.

Anak-anak seperti inilah yang mengerti betul betapa kerasnya kehidupan yang fana ini. Anak-anak seperti inilah yang memiliki mental kerja yang luar biasa. Anak-anak seperti inilah yang besarnya kelak pasti memiliki potensi sukses yang luar biasa. Mengapa demikian? Karena sudah terbiasa bekerja keras dari kecilnya.

Saya pun mulai berpikir lagi, seharusnya anak-anak yang demikian mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun dari satu atau dua tokoh politik. Seharusnya anak-anak seperti ini diajak berdialog, dan diberikan suatu pujian, motivasi serta penghargaan atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Dengan demikian mereka akan sadar betapa yang mereka lakukan adalah hal yang luar biasa. 

Semoga kelak, anak-anak ini bisa menjadi orang yang berhasil. Baik dalam hal moral maupun materi. Jadi sekalipun kaya, tapi tetap rendah hati dan mau berbagi dengan sesama. 

0 komentar:

Posting Komentar