Selasa, 26 September 2017

"Long As I Get Paid"-nya AgnezMo, pro atau kontra?

Internet geger denga lagu baru dari Agnez Mo berjudul "Long As I Get Paid". Saya belum mendengar lagunya langsung, tapi membaca liriknya saja saya sudah merasa miris.



Saya mungkin termasuk salah satu orang yang paling kritis tentang lagu. Setiap kali saya menemukan lagu baru, saya akan perhatikan dengan seksama lirik dari lagu tersebut, begitupun videoklipnya. Itu sangat-sangat penting bagi saya. Itu merupakan 'kriteria' yang mutlak untuk menentukan sebuah lagu layak dinikmati atau tidak.



Maka, karena itulah saya sangat tidak suka dengan sebagian besar lagu-lagu yang populer saat in. Mengapa? Karena banyak diantara lagu itu memiliki lirik yang menurut saya tidak mendidik. Sebagian memiliki makna tersirat yang mengarah pada seks bebas, sebagian lagi jelas-jelas vulgar dan sarat akan pornografi.

Luar negeri punya "Shape Of You", lalu ada yang lebih vulgar lagi "Versace on the Floor", dan masih banyak lagi yang lainnya.

Nah di Indonesia sekarang kita punya "Long As I Get Paid".

Sepertinya kedepan adek-adek kita akan semakin berani dengan istilah 'as*, f*ck, an*l, fet*sh'. Dan juga, pergaulan adek-adek kita akan semakin mengarah pada hal yang lebih 'berani dan vulgar'.

Bagaimana tidak, lagu-lagu yang populer dan ngetrend isinya seperti itu semua. Ditambah lagi nyaris tak ada yang mau tahu, apalagi mengarahkan mereka tentang itu. Sehingga pemahaman yang muncul adalah "sudahlah, yang penting keren, yang penting enak". Tapi tidak ada ditanya "apakah ini baik? apakah ini bermoral? apakah ini layak untuk dinikmati?"

Itulah kenapa aku benar-benar filter dan kritisi betul setiap lagu yang mau didengar. Tapi, giliran mengkritik, orang malah ngomongnya:

loe ngaca macam udah suci aja
masih banyak ko yg lebih porno nyantai aja keles
ini seni bro seni tak bertuhan
gpp gak mendidik, ini memang bukan bahan pendidikan
hidup loe serius banget sih
gitu-gitu dia udah mengharumkan musik Indonesia didunia, loe bisa apa?

Lantas, ketika generasi muda kita sudah menjadi biasa dengan istilah porno, dengan kehidupan seks bebas, dan sejenisnya karena pengaruh pornografi yang dikemas dalam bentuk lagu, siapakah yang harus bertanggung jawab?

Barangkali pornografi yang lebih mengerikan saat ini bukan lagi dalam bentuk film, tapi dalam bentuk musik. Karena ketika dikritik, orang akan berkilah "ini seni".

Kadang entahlah. Mungkin kita memang sudah hidup pada zaman dimana orang lebih mementingkan popularitas, uang, dan nafsu duniawi daripadai akhlak dan moral.

Mohon maaf buat para fans yang mungkin bersebrangan dengan pendapat saya. Saya bukannya hates, bahkan bisa dikatakan saya sebenarnya cukup mengidolakan Agnes, dengan lagu-lagunya yang dulu, seperti "Matahari-Ku", "Karena Ku Sanggup", dan masih banyak lagi lagunya yang lain. Saya hanya merasa miris saja dengan lagunya yang sekarang, terlebih melihat videoclipnya. Orang bilang 'lihat dari sisi art', entahlah, saya tak mengerti dimana letak 'art'nya.

Mungkin, kalaupun ada saran dari saya, alangkah baiknya jika Agnes tidak membuat lagu yang sarat akan seks, pornografi, dan sejenisnya. Lebih baik membuat lagu yang sarat akan nilai moral dan perdamaian, seperti lagu "Heal The World" atau "We Are The World"-nya Michael Jackson. Sekalipun jauh dari unsur pornografi, lagu-lagu itu bisa juga menjadi internasional dan disukai miliaran umat diseluruh dunia. Jika MJ bisa, maka saya yakin Agnes pasti juga bisa.

Semoga suatu hari mbak Agnes membuat lagu yang lebih jauh bernilai moral, yang menginspirasi setiap para pendengarnya untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi sesama.

0 komentar:

Posting Komentar