Selasa, 24 Oktober 2017

Membandingkan antara 'taik taik' ala Ahok dengan 'pribumi' ala Anies

Beberapa waktu lalu, Anies dalam pidato pertamanya sebagai Gubernur DKI mengeluarkan sebuah pernyataan yang kontroversial, yang mana oleh sebagian kalangan dianggap dapat membuat semakin kuatnya rasa perbedaan yang kemudian bisa menimbulkan perpecahan.

Di sisi lain, ada beberapa kelompok yang justru kemudian membuat semacam pembelaan. Diantaranya kemudian mengatakan bahwasanya pernyataan Anies tentang pribumi sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan Ahok yang selama ini berbicara cukup kasar.

Bagi saya pribadi, jelas berbeda. Saya memang adalah orang yang pro Ahok, tapi bukan berarti semata membela. Saya akui banyak ucapan Ahok yang mungkin juga kurang tepat. Tapi jika kita mau membandingkan, mestinya kita tidak hanya berfokus pada lisan, tapi kepada konteks yang lebih luas.

"taik taik!"

Ucapan Ahok memang banyak yang kasar, tapi perlu diperhatikan, mengapa ia bisa sampai berkata kasar demikian?

Alasannya sangat jelas, karena begitu gerah dan muak menghadapi orang-orang yang begitu gigihnya untuk mengeruk keuntungan pribadi dari uang yang bukan haknya (singkatnya disebut korupsi).

Disamping itu, lontaran kemarahan Ahok juga sering dikarenakan banyaknya masyarakat yang nakal. Misal, PKL yang berjualan tidak pada tempat yang seharusnya.

Sekasar apapun lontaran Ahok, selalu karena alasan yang jelas: menghadapi para oknum pejabat dan oknum masyarakat yang nakal.


"pribumi"

Kalau yang satu ini, sekilas terdengar begitu lembut, tapi sesungguhnya makna yang ada didalamnya justru sangat kasar dan rasis. Apalagi jika dikaitkan dengan seorang Ahok yang memang berdarah Tionghoa, tentu istilah pribumi menjadi suatu hal yang menyakitkan.



Sangat mengerikan, ketika statemen Anies yang diucapkan begitu lembut ini justru terdengar begitu menyakitkan, dan cenderung semakin memperbesar rasa perbedaan diantara kalangan masyarakat.

Menurut saya ini statemen yang sangat mengerikan, dan sangat disesalkan tentunya, seorang Anies bisa mengucapkan kata itu, seolah menyindir bahwasanya pemimpin sebelumnya adalah "non pribumi" atau bukan bagian dari Indonesia.


Ya, pada intinya adalah statement Ahok walaupun kasar, tapi tujuannya jelas: melawan para koruptor. Sedangkan Anies, statementnya terdengar lembut, tapi makna dibaliknya sangat rasis dan mengerikan.

Pun demikian, tetap harus diperbaiki, baik dari sisi Ahok maupun juga Anies.

Harapannya, semoga kedepan Ahok tidak lagi kasar, bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi.

Jujur, walaupun saya pribadi mengagumi sosok Ahok, namun tetap saja terkadang merasa kurang nyaman dengan gaya kasarnya, apalagi jika yang menjadi sasarannya adalah rakyat kecil, saya sangat merasa tidak nyaman. Karenanya, saya sangat mengharapkan kedepan Ahok bisa lebih lembut dan tenang lagi, tentunya dengan tidak mengurangi sifat tegasnya.

Dan kepada Pak Anies semoga kedepan tidak lagi rasis dan membawa-bawa isu sara.

Saya tidak paham dan masih sangat kaget melihat sosok Anies saat ini. Berbeda sangat jauh dengan yang saya lihat pada 2 atau 3 tahun yang lalu, khususnya pada masa kampanye Jokowi.

Saya kira dia seorang yang benar-benar idealis, tapi mengapa hari ini terlihat berubah drastis hanya karena godaan yang sifatnya politis? Apalagi dengan gagasan Tenun Kebangsaan, yang justru sangat kontras dengan tindak-tanduk Anies saat ini.

Bagaimana ini bisa? Entahlah, harapannya, semoga Pak Anies bisa kembali seperti yang dahulu kala.

0 komentar:

Posting Komentar