Jumat, 26 Januari 2018

Seberapa beranikah saya mengutarakan hal yang (menurut saya) benar?

Beberapa waktu terakhir ini saya benar-benar sedang dilema yang mungkin bisa dikatakan cukup berat. Atau mungkin saya yang terlalu berlebihan?

Jadi ceritanya begini, saya sedang berpikir untuk mulai berani mengemukakan setiap pendapat, ide dan pandanganku lewat video yang nantinya dibagikan di dunia maya, khususnya di Youtube. Jadi setiap kali ada sesuatu hal dikepalaku, aku akan curahkan lewat video.

Pemikiran ini mulai terpikirkan ketika melihat betapa semakin banyaknya orang yang melakukan hal yang sama. Ya, jika kamu lihat, di internet sebenarnya sudah banyak orang melakukan hal yang saya ingin lakukan. Hanya yang disayangkan, menurut saya kebanyakan diantara mereka membahas topik-topik yang kurang penting.

Memangnya, topik yang pengen loe bahas apa sih ndre?

Sebenarnya saya juga tidak akan terpaku pada satu topik pembahasan, hanya memang ada satu atau dua topik yang ingin saya fokuskan, yaitu politik dan sosial.

Dalam hal politik, Saya sudah cukup lelah dengan banyaknya para politisi yang dengan seenaknya mengeluarkan statement dipublik yang mana isinya 'nyeleneh'. Tidak terbatas pada statement, tapi juga tindakan.

Dan itu membuat saya berpikir untuk mulai menyuarakan pendapat saya, yang memang menurut saya benar. Misalkan tentang betapa masyarakat harus sadar tentang betapa jahatnya orang-orang yang membodohi rakyat memakai agama demi kepentingan politiknya.

Juga dalam hal sosial, banyak juga yang ingin saya utarakan. Misalkan tentang bagaimana orang-orang harus menyikapi suatu perbedaan pandangan politik, dimana pada intinya jangan sampai kita terpecah belah walau memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda.

Dan juga, yang tidak kalah penting, mengenai fanatisme dan radikalisme!

Ya, saya dengan segenap tenaga dan kekuatan yang saya miliki, ingin sekali melawan segala bentuk radikalisme dan fanatisme.

Contohnya, mengenai kasus Joshua. Saya ingin mengutarakan betapa saya agak kecewa dengan orang-orang yang kontra dan menuntut beliau untuk diproses secara hukum dengan alasan 'demi keadilan hukum'. Tapi kalaupun dia harus diproses dan ditahan, menurut saya DEMI KEADILAN HUKUM ada orang yang harusnya lebih dulu diproses, yaitu inisial RS dan AS.

Nah, inilah sebenarnya yang menjadi satu dilema bagi saya. Seberapa siapkah saya? Seberapa kuatkah mental saya?

Ini benar-benar menjadi satu hal yang boleh dikatakan cukup mengguncang mental saya, mengingat resiko yang saya hadapi bukan main-main. Yang akan saya hadapi adalah sekelompok orang-orang yang berpikir pendek dan tak segan-segan menganiaya bahkan membunuh.

Siapkah saya?

Saya pastikan dalam waktu yang sangat dekat ini, saya akan siap!

Jumat, 12 Januari 2018

Haram ucapkan selamat Natal? Haram ndak sih?

Haram mengucapkan selamat Natal merupakan isu yang selalu bergaung sekali setahun, tepatnya ketika memasuki momentum Natal. Ketika mulai memasuki bulan Desember, biasanya isu ini akan mulai digaungkan. Baik melalui medos maupun melalui baliho.



Saya pribadi jujurnya menyesalkan mengapa isu seperti ini harus ada. Saya pikir, apa yang salah dengan mengucapkan selamat? Bukankah itu sesuatu yang wajar sebagai bentuk penghargaan kepada umat beragama lain?

Hanya saja, setelah saya pikir lagi, bagaimanapun juga saya harus menghargai apabila memang itu merupakan ketentuan mutlak dari agama tersebut. 

Namun ada hal yang lucu. Mereka-mereka yang menggaungkan isu ini, umumnya merupaka para penganut Presiden Turki, yaitu Erdogan. Dibeberapa  kesempatan, mereka selalu menunjukkan rasa  kekagumannya kepada Erdogan. Baik secara lisan maupun melalui medsos.

Nah yang lucu adalah disaat mereka sibuk menggaungkan 'haram mengucapkan selamat natal', justru Erdogan dengan santainya mengeluarkan ucapan selamat Natal kepada umat Kristen Turki dan dunia.


Nah lho...

Saya jadi bingung, sebenarnya yang bener itu yang mana? Haram atau enggak sih? Seriusan saya nanya, bukan apa-apa, cuma pengen tahu aja. Haram atau endak?

Kalo katanya haram, kok justru Presiden Erdogan mengucapkan? 

Mana satu yang benar? Ada yang bisa menjelaskan?

Rabu, 10 Januari 2018

Memperjuangkan beberapa keluhan dan aspirasi yang saya dengarkan langsung dari hasil blusukan menjumpai masyarakat

Beberapa waktu terakhir ini saya mencoba untuk blusukan mengunjungi masyarakat disekitar. Mulai dari masyarakat biasa bahkan sampai petugas parkir hingga petugas sapu jalan. Saya mendengar banyak sekali aspirasi maupun curahan hati mereka yang ingin disuarakan dan diperjuangkan.

Misalnya mengenai fasilitas umum. Banyak sekali masyarakat yang mengeluhkan mengenai lambatnya penanganan fasilitas umum yang bermasalah. Pemerintah dinilai kurang responsif dalam menangani fasilitas umum yang rusak. Bahkan sampai memakan korban dulu baru kemudian diperbaiki.

Juga ada pengaduan dari petugas parkir mengenai pihak ke 3 yang kerap kali sewenang-wenang terhadap mereka. Misalnya menaikkan tarif terlalu tinggi, dan juga sering kali tidak ada toleransi dengan berbagai macam kondisi. Misalkan hari sedang hujan, hari libur, dsj. Sehingga kerap kali hanya menguntungkan pihak ke 3 tadi, tanpa memperdulikan nasib para petugas parkir yang berada dibawah naungannya.

Begitupun ketika saya ngobrol dengan beberapa petugas taman dan petugas sapu jalan. Ada keluhan yang mereka sampaikan terkait lambatnya pencairan gaji mereka. Mereka kerap kali terlambat menerima gaji, sehingga akhirnya tak jarang mereka terpaksa harus berhutang dulu kepada tetangga untuk menutupi biaya sehari-hari, sebelum nanti gaji datang.

Intinya, ada banyak sekali aspirasi masyarakat yang sebenarnya sangat sederhana, tapi tidak tersampaikan kepada Pemerintah khususnya Pemko Pekanbaru.

Karenanya ini menjadi satu tanggung jawab bagi saya untuk menyuarakannya apabila kelak diberi kesempatan oleh masyarakat untuk bisa menindaklanjuti setiap keluhan ini.



Mempererat persatuan serta memperjuangkan isu-isu intoleransi

Dalam beberapa waktu belakangan ini, isu intoleransi menjadi salah satu isu yang sangat kuat di masyarakat. Strategi beberapa kelompok elite politisi yang memilih bermain di isu sara menjadi penyebab menguatnya permasalahan intoleransi ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu, apa solusi yang bisa saya tawarkan untuk itu apabila saya diberi kesempatan menjadi pejabat publik?

Jawabannya adalah "Program Sosial Lintas Agama".

Apa itu Program Sosial Lintas Agama?

Program Sosial Lintas Agama adalah program dimana saya mengupayakan kegiatan sosial yang mengajak masyarakat lintas agama untuk saling berinteraksi di momentum-momentum Keagamaan.

Misalnya, ketika Hari Raya Maulid Nabi diadakan Bazaar Beras Murah untuk umat Islam yang membutuhkan, namun diadakan di Gereja dan jemaat serta majelis Gereja menjadi panitianya. 

Begitu juga sebaliknya, ketika Hari Raya Natal diadakan Bazaar Beras Murah untuk jemaat Kristiani yang membutuhkan, namun diadakan di Masjid dan majelis serta jemaah Masjid tersebut menjadi panitianya.

Dengan begitu, bukan hanya membantu masyarakat secara ekonomi untuk dapat membeli beras, tetapi ada yang lebih penting disana, yaitu membangun hubungan sosial/silaturahmi antar umat beragama. Sehingga harapannya, dapat memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan dalam keberagaman Agama.

Dengan semakin kuatnya rasa kebersamaan antar umat beragama, diharapkan bisa meredam segala bentuk isu-isul intoleransi yang selama ini kian marak.

Jadi pada intinya, Program Sosial Lintas Agama adalah program Bazaar dimana masyarakat bukan hanya terbantu secara sosial lewat adanya sembako murah, tapi juga mempererat terjalinnya kebersamaan dan kekeluargaan antar umat beragama.