Rabu, 05 September 2018

Beberapa hal menarik dari tayangan Mata Najwa "Gara-gara Tagar"

Jadi ceritanya saya tadi baru saja menyaksikan tayangan Mata Najwa yang topiknya "Gara-gara Tagar", dimana dalam acara itu diundang para politisi dan seorang ahli.


Dari pihak pro Jokowi ada Adian Napitupulu dan Mochtar Ngabalin, sedangkan dari pihak Pro #2019GANTIPRESIDEN ada Mardani Ali Sera dan Andre Rosiade. Selebihnya, Najwa mengundang dua orang lagi, satu dari Kepolisian dan satu lagi seorang Ahli (saya lupa namanya).

Ada beberapa hal menarik yang saya lihat dalam acara yang berlangsung sekitar 1 jam lebih tersebut. Berikut beberapa diantaranya.


1. Adian Napitupulu terlalu sering meng-intervensi lawan ketika berbicara


Jangan salah sangka, saya bukan pro #2019GANTIPRESIDEN, karena saya sendiri jelas mendukung Jokowi 2 priode. Tapi menurut saya dalam acara tersebut, pihak Jokowi khususnya Adian Napitupulu terlalu banyak mengintervensi lawan dalam berbicara, bahkan jauh lebih banyak daripada lawannya.

Bagaimanapun ini sangat disayangkan, seharusnya beliau benar-benar menghargai kesempatan berbicara yang diberikan kepada lawan bicaranya dan tak menyela begitu saja, apalagi dalam jumlah yang menurut saya sangat dominan sekali.


2. Ngabalin kerap kali menyelipkan humor disela-sela argumentasinya



Saya tidak bisa menahan tawa spontan ketika Ngabalin berkata "kok situ yang kebakaran jenggot, padahal jenggot situ ga lebih panjang dari punya saya". Juga sangat lucu sekali nada bicaranya ketika dia bilang "nanti kalian bilang polisi pro pemerintah", dan beberapa tingkahnya mengajak tos (high five) Adian dan Polisi yang juga diundang disana.

Nampaknya, Ngabalin ingin perbincangan ini tetap bisa mencair dibalik ketegangan antar kedua kubu dalam berargumentasi.


3. Inkonsistensi Mardani terkait persetujuan untuk mengganti sistem oleh pihak HTI



Saya sejujurnya malas melihat orang ini ketika berbicara, karena terkesan seperti sesak dan agak melambay. Tapi ada satu hal yang sangat menyita perhatian saya, yaitu kala ia berkelit terkait dukungannya atas pernyataan Eks Jubir HTI yang mengatakan "ganti sistem".

Dalam sebuah video pendek, nampak ia berdiri bersama seorang eks Jubir HTI. Disitu dia berkata "2019 GANTI PRESIDEN", lalu disambung oleh Eks Jubir HTI "GANTI SISTEM!". Dia sama sekali tidak menolak pernyataan tersebut di video itu. Tapi ketika di acara Mata Najwa dia mengatakan tidak setuju akan hal itu. Benar-benar tidak konsisten.


4. Andre Rosiade mengatakan tidak pernah melihat Neno Warisman bicara soal perang badar dan perang uhud



Ketika Ngabalin mengatakan bahwa pernyataan Neno Warisman mengenai Perang Badar dan Perang Uhud adalah bukti bahwa gerakan #2019GANTIPRESIDEN adalah gerakan yang sarat akan provokasi dan ujaran kebencian, Andre Rosiade justru mengatakan tidak pernah melihat video itu.

Sangat mengherankan bagi saya ketika seorang Andre Rosiade mengatakan tidak pernah melihat video tersebut, padahal sangat viral di media sosial. Lucunya lagi ketika dia mengatakan "kalau memang ada seperti itu laporkan saja", padahal nanti ujung-ujungnya bakal bilang polisi pro Pemerintah seperti yang diutarakan Ngabalin.


5. Kesabaran si Ahli Hukum menghadapi 'pemerkosaan pendapat' yang dilakukan Adian

Menurut saya Adian terlalu memelesetkan makna dari #2019GANTIPRESIDEN, dimana dia mengatakan Presiden adalah lembaga dan lembaga tidak bisa diganti. Padahal yang dimaksud disana adalah Presiden secara personal, yaitu Pak Jokowi sendiri yang jelas saat ini menjabat sebagai Presiden.

Mirisnya, ketika ia beradu argumen dengan si Ahli tadi, dia seolah memaksakan benar pandangan dan definisinya. Pun begitu, si Ahli Hukum tadi tetap berusaha untuk tenang dan tidak meledak-meledak. Saya jujur kagum melihat kesabarannya dalam menghadapi setiap tekanan dan intervensi ketika berbicara, terlebih juga saya kagum kepada usahanya yang berusaha untuk tetap berada dalam posisi yang netral tanpa melihat salah satu kubu.


6. Mardani Ali langsung disanggah Pak Polisi terkait harga telur 11 ribu

Lucu sekali ketika Mardani Ali mengungkapkan bahwa harapan ibu-ibu harga telur bisa diangka 11 ribu rupiah, lalu disanggah oleh Pak Polisi dengan mengatakan bahwa jika harganya demikian maka para petani akan bangkrut. Menurut saya ini sangat memalukan bagi Mardani Ali sendiri.

Disitu bisa terlihat betapa Mardani Ali hanya sekedar menjual janji-janji dan harapan kosong tanpa mengukur apakah itu realistis untuk diwujudkan atau tidak. Harusnya ia benar-benar berhati-hat untuk setiap pernyataannya, terutama didalam sebuah talkshow seperti ini.

0 komentar:

Posting Komentar