Sabtu, 02 Maret 2019

Perlukah maju sebagai caleg untuk membela ulama?

Topik ini mungkin bisa dikatakan sangat sensitif. Tapi saya pikir saya harus angkat ini, apapun resikonya. Apalagi dalam posisi saat ini saya sebagai caleg, sudah seharusnya saya berani bersuara untuk isu-isu kontroversial yang mungkin selama ini banyak orang takut untuk mengangkatnya.

Jadi ceritanya beberapa waktu terakhir ini saya banyak sekali mendengar kalimat "bela ulama". Bahkan sampai baliho-baliho caleg pun banyak disematkan kalimat "Bela Ulama". Hebatnya lagi, caleg DPR RI dari Partai PDIP sekelas M. Kapitra pun secara jelas menampilkan kalimat itu di balihonya.

Baliho caleg Pak Kapitra disalah satu tempat di daerah Kampar, Riau


Pertanyaannya, perlukah sebegitunya maju ke panggung politik demi membela Ulama?

Mohon maaf, tapi menurut saya tidak perlu. Tidak perlu ada orang maju menjadi caleg demi membela ulama. Begitu juga pendeta, biksu, pastur, dan tokoh agama apapun tidak perlu dibela.

Ada 3 alasan:

Yang pertama secara status sosial, seorang pemuka agama pada umumnya adalah mereka-mereka yang terpandang. Mereka dihormati oleh para pengikutnya, bahkan tak sedikit yang begitu fanatik hingga rela membela secara habis-habisan. Tanpa ada anggota dewan datang membela pun, sudah ada sekelompok orang yang siap membela.

Yang kedua, secara ekonomi, seorang pemuka agama pada umumnya mampu untuk membayar pengacara untuk membela mereka. Kamu pikir pemuka agama itu orang yang susah?  Tidak sedikit para pemuka agama saat ini yang sangat kaya dan bahkan bisa dikatakan sangat-sangat kaya. Karenanya tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan akses bantuan hukum.

Yang ketiga, secara prinsip dasar hukum, semua orang harus sama dimata hukum. Tidak ada yang perlu dibela atau diberikan perlakuan khusus. Siapapun harus sama dimata hukum! Karenanya upaya maju ke panggung politik dengan agenda membela tokoh agama adalah sebuah langkah yang sangat keliru.

Kalaupun ada pihak-pihak tertentu yang perlu dibela, siapakah mereka?

Jawabnya adalah rakyat kecil dari kelompok minoritas.

Ingat Ibu Meiliana? Atau anak remaja etnis Tionghoa yang heboh di media sosial beberapa tahun yang lalu? Atau jemaat Gereja yang menjadi korban bom beberapa waktu yang lalu?

Ya, mereka. Belalah mereka. Belalah orang-orang seperti mereka, karena mereka-mereka inilah yang kerap kali mendapatkan diskriminasi. Berempatilah kepada mereka, menangislah bersama mereka, dan perjuangkanlah hak-hak serta keadilan bagi mereka.

0 komentar:

Posting Komentar