Jumat, 01 Februari 2019

Mengapa menolak caleg yang bermain politik uang?

Salah satu hal yang paling saya tekankan dalam setiap blusukan bertemu dengan masyarakat adalah meminta kepada mereka agar jangan golput dan jangan memilih caleg yang memberi uang/melakukan politik uang.


Sumber gambar: https://voxntt.com

Masalah golput saya akan bahas pada tulisan berikutnya. Sedangkan pada tulisan kali ini saya akan bahas mengenai politik uang.

Mungkin diantara teman-teman khususnya para pemilih baru barangkali bertanya:
"mengapa kita sangat dianjurkan untuk tidak memilih caleg yang bermain politik uang?"


Yang pertama, karena caleg yang mencari suara dengan memberi uang bisa dipastikan tidak akan mau repot menemui masyarakat apabila nanti sudah duduk

Coba teman-teman bayangkan. Ada seorang caleg yang ingin mendapatkan suara dari masyarakat. Secara logika sederhana tentu cara yang harusnya ia lakukan adalah bertemu langsung dengan warga satu per satu memperkenalkan diri. Tapi ia tidak mau. Ia memilih 'jalan pintas', yaitu dengan cara membagi-bagi uang.

Bayangkan, apabila dalam masa pemilihan saja si caleg tersebut tidak mau repot bertemu masyarakat dan lebih memilih membagi-bagikan uang untuk mendulang suara, apalagi kalau sudah duduk nanti. Sudah sangat bisa dipastikan dia tidak akan mau turun kebawah bertemu masyarakat. Lalu jika sudah demikian, bagaimana mungkin dia akan bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat?


Yang kedua, karena caleg yang bermain politik uang bisa dipastikan akan melakukan praktek korupsi

Bayangkan apabila ada seorang caleg yang membutuhkan sedikitnya 1000 suara. Lalu kemudian dia mengambil jalan pintas dengan cara memberi 100 ribu rupiah kepada setiap orang sebanyak 1000 orang. Berarti dia menghabiskan uang sedikitnya 100 juta rupiah untuk meraih 1000 suara.

Nah, apabila dia nanti duduk, tahukah teman-teman apa yang akan caleg tersebut lakukan pertama kali? Jawabnya adalah mengusahakan balik modal!

Ya, yang akan dia pikirkan pertama kali adalah bagaimana caranya agar modal 100 juta yang ia keluarkan tadi kembali dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dalam situasi seperti itu, tentu ia akan mencari jalan pintas lagi, yaitu KORUPSI. Dia akan upayakan apapun caranya agar bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Entah itu dengan cara membuat surat perjalanan dinas fiktif, atau yang lebih parah lagi yaitu memangkas anggaran untuk kepentingan masyarakat umum. Misal: perbaikan jalan.

Jadi, pada intinya ada dua alasan kuat mengapa menolak caleg yang melakukan politik uang. Yang pertama, karena sangat bisa dipastikan dia tidak akan mau bertemu masyarakat apabila sudah terpilih. Dan yang kedua, karena sangat bisa dipastikan dia akan melakukan korupsi.

Karenanya, pastikan kita betul-betul menggunakan hak pilih kita dengan baik dan benar. Jangan sia-siakan Pemilu dengan memilih orang yang jelas-jelas tidak akan memperdulikan kita. Pilihlah mereka yang betul-betul mau turun bertemu masyarakat satu per satu sambil menampung segala aspirasi warga.

Semoga siapapun yang nanti terpilih pada Pemilu tahun ini adalah mereka yang betul-betul mau dan sangat berhasrat untuk memajukan Indonesia, khususnya daerah tempat kita tinggal.

0 komentar:

Posting Komentar